Eksklusif, Transisi Blink dari Girlband ke Vocal Group

Nizar Zulmi diperbarui 11 Mei 2016, 08:07 WIB

Fimela.com, Jakarta Boleh dibilang kejayaan boyband dan girlband di tanah air sudah memudar. Satu per satu grup yang pernah merasakan lonjakan karier tinggi mulai berguguran. Namun hal itu tak berlaku bagi para gadis muda berbakat yang tergabung dalam 'girlband' Blink.

****

Berawal dari kebosanan para membernya, Blink memilih untuk berinovasi dalam album terbarunya bertajuk Heart Beat. Pricilla, Ify, Febby dan Sivia mencoba keluar dari zona nyaman mereka selama ini untuk berkembang lebih jauh lagi.

Heart Beat menjadi pembuktian Blink yang berkarya di dua bidang, yakni film dan musik. Dengan arahan Fedi Nuril sebagai produser film, para member Blink tunjukkan totalitas mereka sebagai entertainer.

Tak sekedar berakting, Heart Beat juga menampung kreativitas keempat member Blink dari segi musik. Mereka membuat album yang memuat lagu-lagu soundtrack film tersebut.

Terkait album ini, Blink menunjukkan transisi bermusik mereka dari girlband ke vocal group. Bukan lagi nyanyi ramai-ramai seperti yang mereka lakukan selama ini, kali ini karakter masing-masing lebih menonjol.

"Baru banget sih, ini konsep barunya kita. Jujur kita agak bosen dengan konsep album kita yang satu lagu berempat terus. Kenapa nggak dicoba sendiri-sendiri, dan mulai bisa mengenal karakter masing-masing aja. Vokalnya juga lebih kelihatan di sini," ungkap Pricilla di tengah wawancaranya dengan Bintang.com.

Kekuatan ini yang jadi nilai plus album Heart Beat, sebagai pertanda perubahan Blink. Mereka selama ini mungkin lebih dikenal menyandang status 'girlband', tapi sejujurnya mereka sepakat bahwa semakin ke sini jiwa mereka lebih condong ke vocal group.

"Dari awal mungkin lagi marak girlband waktu itu, jadi kita girlband. Tapi sejujurnya kita kan nggak bisa ngedance-ngedance gitu, jadi sebenarnya kita memang vocal group," tambah Ify.

Sepanjang lima tahun perjalanan mereka di industri musik, album ini lah yang paling bisa menggambarkan identitas mereka sebagai grup. Meski sempat kehilangan satu personel dan masalah-masalah lain, Blink tetap komitmen berkarya dengan kecintaan mereka terhadap dunia entertainment, terutama musik dan fashion.

Di tengah kesibukan mereka kuliah dan berkarier, Blink menyempatkan waktu untuk berbagi cerita dalam sebuah sesi eksklusif bersama Nizar Zulmi dan fotografer Nurwahyunan di redaksi Bintang.com, Menteng, Jakarta Pusat. Apa saja curhatan mereka? Simak selengkapnya berikut ini.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Girlband atau vocal group?

Perlahan tanggalkan status girlband, Blink mulai berevolusi sebagai grup yang mengandalkan kemampuan vokal. (Foto: Nurwahyunan, Digital Imaging: Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Pendewasaan terpancar jelas dari Blink yang bertahan hingga detik ini. Selain penampilan dan cara pandang, Blink juga lebih matang soal bermusik. Album Heart Beat membawa perubahan signifikan sekaligus memperkenalkan diri mereka yang sebenarnya.

Konsep album Heart Beat ini seperti apa menurut Blink?

Ify: Konsepnya sebenarnya ada beberapa lagu yang dijadikan soundtrack untuk si film Heart Beat itu. Dan single kita sendiri-sendiri juga ada kan di situ. Tapi yang main-nya, yang jadi Original Soundtrack itu adalah lagu berjudul Heart Beat atau Percayalah. 

Apa yang mendasari judul Heart Beat itu sendiri?

Ify: Mungkin secara judul bagus, dan sebenarnya ada dua filosofinya. Kalau heart beat itu kan detak jantung, trus juga pas didiskusikan untuk jadi album, heart kan hati, dan beat mewakili dari sisi musiknya. Jadi lagunya tentang cinta gitu.

Di sini Blink punya lagu-lagu yand dinyanyikan solo, apakah ini hal baru untuk kalian?

Pricilla: Baru banget sih, ini konsep barunya kita. Jujur kita agak bosen dengan konsep album kita yang nyanyi satu lagu berempat terus. Kenapa nggak dicoba sendiri-sendiri, dan mulai bisa mengenal karakter masing-masing aja. Vokalnya juga lebih kelihatan di sini. Tapi backing vocalnya kita juga yang ngisi, jadi kita nggak angkat tangan sama sekali. Kalau ada yang bagus kita jadi backing-nya bisa. At least, nggak monoton lah berempat terus, dan bisa eksplor sendiri-sendiri.

Dengan konsep ini jadinya lebih ke girlband atau vocal group?

Ify: Dari awal konsepnya emang gitu, mungkin dulu lagi marak girlband, jadi yaudah kita girlband aja. Tapi sejujurnya kita kan nggak bisa ngedance gitu, jadi sebenarnya kita memang vocal group. 

Adakah kendala saat bernyanyi solo sebagai konsep baru?

Ify: Nggak sulit sih, justru lebih mengeksplor kemampuan bernyanyi kita dan segala macem. Jadi mungkin biar kita punya lagu sendiri juga, dan dari fans juga bisa lebih mengenal. Karena biasanya kita berempat terus kan, 'Ini suaranya Ify biasanya cuman samar-samar nih', nggak bisa mengenal yang bener-bener real-nya kaya gimana. Jadi dengan single sendiri-sendiri jadi media untuk masyarakat untuk tahu karakter vokal kita sendiri-sendiri itu kaya gimana.

Apakah lagu-lagu solo ini dibuat sendiri oleh member Blink?

Febby - Pricilla : Kebetulan Ify nulis sendiri lagunya. Sedangkan yang lain lagunya diciptain sama Bemby Noor. Tapi karena ini single masing-masing, jadi kaya ada banyak request, 'Kak aku maunya kaya gini deh konsepnya. Aku maunya yang mellow, ini, itu. Kita kalau ada apa-apa tektokannya langsung ke Kak Bemby, gimana enaknya. 

Sulitkah proses untuk menunjukkan karakter vokal kalian masing-masing?

Pricilla: Kalau kita semua dibantu ya, kita punya vocal director yang sangat amat membantu, Kak Meltho Pasto, dan Kak Bemby juga sering ngedirect kita juga. Jadi mungkin kita udah biasa ya sama mereka, jadi kita nggak menemukan kesulitan berarti sih. Cuman kadang agak kaget aja, kok sendiri ya. Biasanya kan habis part ini dia nih yang nyanyi, tapi sekarang the whole part harus kita yang nyanyiin. Agak kaget, tapi seru. So far so fun sih.

Febby: Di Indonesia belum terlalu mengenal yang sendiri-sendiri sih. Kalau misalkan kaya di luar negeri, kaya girlband Korea mereka ada project sendiri dan itu tidak mengganggu grup, dan tidak menjadikan grupnya bubar. Solo karier buat variasi aja biar orang nggak bosen. Jadi kalau banyak yang bilang dengan project ini kita mau bubar segala macem, itu nggak bener sama sekali.
3 dari 3 halaman

Blink, suka duka bersama

Perlahan tanggalkan status girlband, Blink mulai berevolusi sebagai grup yang mengandalkan kemampuan vokal. (Foto: Nurwahyunan, Digital Imaging: Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Tak mudah menjalin formasi yang solid bagi sebuah grup yang terdiri dari beberapa kepala. Hal-hal yang menyebabkan beda pendapat dan persepsi sangat mungkin dialami. Bagi Blink, hal ini bukanlah sesuatu yang ditakuti.

Sempat kehilangan satu member, apa kunci Blink bisa tetap solid?

Ify - Febby: Komunikasi sih ya nomor satu yang paling penting. Itu yang kita terus maintain dari 5 tahun lalu. Jadi kalau ada masalah pasti cerita, diomongin dan saling terbuka. Kita juga anaknya bukan yang drama banget. Kaya misalnya hari ini Febby dapet kostum yang lebih keren dari pihak wardrobe kita nggak yang 'kenapa sih Febby bajunya bagus', atau misalnya disuruh koreografer siapa di tengah, nggak ada pikiran kaya 'eh kok dia di tengah terus sih', kita nggak terlalu peduli. Soalnya semua kaya punya porsinya masing-masing.

Tapi apakah sejauh ini ada masalah berat yang kalian hadapi?

Pricilla: Kalau masalah sih pasti ada ya, entah dari yang kecil sampe besar. Soalnya nyatuin empat orang ini kan nggak gampang, nggak dalam waktu yang singkat juga. Tapi gimana cara kita nyikapinnya aja sih sebenernya. Karena masalah itu akan jadi besar kalo kitanya juga menanggapinya lebay. Kalau masalah yang serius banget gitu sejauh ini sih nggak ada.

Perbedaan Blink pada 2011 dan Blink sekarang, apa yang paling terasa? 

Priscilla: Pemikirannya aja sih, kita lebih dewasa sekarang. Dulu ngebahasnya hal-hal yang nggak penting gitu, tapi sekarang lebih melihatnya kaya pekerjaan. Kalau dulu have fun aja, sekarang penuh pertimbangan tapi tetap bisa dengar satu sama lain. Memang suka ngobrol apa aja, biasa cewek suka ngomongin tentang cowok, keluarga dan lainnya. Lebih enak aja, lebih terbuka.

Menjalani kegiatan Blink dan pendidikan, apakah jadi sebuah kesulitan?

Pricilla - Sivia: Kesulitan sih. Awalnya sih pasti kesulitan. Jujur sampai saat ini kita juga masih kesulitan ya, hehe. Karena jadwal kuliahnya kan beda-beda ya, pusing banget. Kalau dulu kan sekolah paling pulangnya jam 2, atau jam 3, 4. Tapi sejauh ini sih bisa diomongkan. Kita punya manajemen yang sangat mengerti, karena pesan orangtua ke manajemen adalah pendidikan nomor satu. Jadi nggak terlalu ribet sih.

Dengan vokal yang lebih terlihat, apakah lebih suka tampil secara akustik atau minus one?

Sivia: Lebih suka akustik sih, karena ambience-nya lebih enak jadinya. Kita juga bisa ngajakin audience nyanyi, kita bisa stop kapanpun kita mau. Lebih bisa menonjolkan musiknya, karena kita ngapain lagi, kan bukan yang nari-nari kaya gitu. Jadi yaudah di panggung kita lebih ke musik dan nyanyi yang ditonjolkan.

Lalu optimisme kalian terhadap album dan sebagai grup vokal seperti apa?

Blink: Alhamdulillah kalau dari penjualan album sudah melebihi ekspektasi kita ya, jadi kita udah seneng banget. Yang penting kita berkarya aja sih ya. Bukan berarti kita nggak mikirin selera orang, cuma kalau untuk berkarya kita nggak mau jadi orang lain aja. Kalau disukain ya syukur, kalau nggak ya pasti orang punya selera masing-masing.

Kiprah Blink sebagai sebuah tim dan vocal group yang solit akan terus berlanjut dengan karya yang lebih beragam ke depannya. Dalam waktu dekat mereka juga tengah menyiapkan beberapa project terkait musik dan hal-hal seru lainnya yang pastinya menarik untuk dinantikan.