Irma Suryati, Penyandang Cacat yang Sukses Jadi Pengusaha Keset

Dadan Eka Permana diperbarui 20 Jan 2017, 14:40 WIB

Fimela.com, Jakarta Irma Suryati, wanita kelahiran Semarang, 1 Januari 1975 ini sudah mengalami kelumpuhan sejak usianya 4 tahun akibat polio. Meski demikian, Irma menolak menyerah pada keterbatasan fisik yang dialaminya. Irma terus berupaya untuk mendapat pengakuan bahwa dirinya juga mampu berkarya seperti orang kebanyakan.

Perjuangan panjang penuh duka dilalui Irma. Mendapat ejekan dari orang lain karena kondisi kakinya yang tak sempurna, sudah terbiasa didengarnya.

Pun ketika lulus SMU, ia mendapat penolakan dari berbagai perusahaan yang tidak mau menerima orang dengan keterbatasan fisik sepertinya.

Namun, Irma tak mau putus asa. Ia terus berupaya untuk mendapat pengakuan bahwa dirinya juga mampu seperti orang kebanyakan.

Kemudian Irma mencoba berwirausaha dengan membuat keset dari kain sisa industri garmen. Kebetulan, di dekat rumahnya di Semarang terdapat banyak sisa kain industri garmen. Kain sisa itu ia jahit menjadi aneka bentuk keset.

Awalnya, keset itu dibuat hanya untuk kebutuhan sendiri. Lambat laun, karyanya mulai dilirik tetangga. Pasar kecil pun mulai terbentuk. Keputusan menjadi perajin keset makin bulat ketika ia menikah dengan Agus Priyanto, penyandang cacat yang jago melukis. Mereka sepakat membuka usaha kecil pembuatan keset Perca pada 1999.

Usahanya berkembang, bahkan sudah sampai ekspor ke beberapa negara. Ia kini memiliki banyak pekerja yang di antaranya adalah penyandang cacat.

Dengan semua kerja kerasnya itu, Irma berhasil menyabet prestasi Wirausahawan Teladan dari Kemenpora tahun 2007, Perempaun Berprestasi pada tahun 2008 dari Bupati Kebumen Rustriningsih, penghargaan dari Jepang yang diperuntukkan khusus kaum difabel berprestasi dan sejumlah penghargaan lain.