Seleb Hijrah: Cerita Detik-detik Esal Revano Peluk Islam

Altov Johar diperbarui 15 Jun 2017, 17:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Tinggal di lingkungan mayoritas Muslim, membuat Esal Revano sedikit banyak mengetahui tentang Islam. Bahkan dia senang setiap mendengar azan Magrib, dan ada keinginan untuk ikut ke Masjid. Apa daya, keinginan itu hanya ada diangan-angan saja.

Tapi siapa sangka, azan Magrib yang dia dengar selama ini, menuntunnya kepada Islam. Berlokasi di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, Esal mantap mengucap syahadat, dan membuka lembaran baru sebagai seorang Muslim.

"Sebetulnya 100 persen lingkungan saya Islam, jadi saya suka ikut-ikut pengajian. Saya dengar azan Magrib tuh tenang. Setiap lihat orang ke masjid itu ingin ikut. Saya berdoa, ya Allah kalau diridoi saya ingin masuk Islam," ucap Esal Revano, di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (14/6/2017).

Esal sadar, keputusannya itu akan memicu pro kontra di masyarakat. Tak jarang ada saja yang menudingnya menggadaikan keimanan, demi sebuah popularitas. Dengan tegas, Esal membantahnya.

"Nah banyak tuh di Instagram yang komentar gitu ke saya. Tapi demi Allah saya nggak begitu. Saya benar-benar mau masuk Islam," tegasnya.

Enggan memusingkan cibiran orang, Esal bersyukur sang mama merestui keputusannya menjadi mualaf. Tapi dengan catatan, hal itu dilakukan semata-mata karena panggilan hati, bukan faktor duniawi.

Perlahan namun pasti, Esal mulai meperdalam agama Islam. Dari urusan ibadah, hingga mengkaji kitab suci Alquran. Bahkan dia menargetkan tahun ini bisa mengkhatamkan bacaan Alquran, dan menunaikan umrah.

"Sebelum masuk Islam sudah belajar salat. Kebetulan rumah saya kan dekat masjid, jadi sebulan pertama itu salat di masjid, pelajari dulu gerakannya. Sekarang lagi belajar ngaji juga, ya Paling menghafal surat-surat pendek. Targetnya harus khatam Alquran dan mau umrah," pungkas Esal Revano.

2 dari 2 halaman

Demi Popularitas, Dituding Gadaikan Keimanan

Esal Revano (Adrian Putra/bintang.com)

Esal Revano menyadari, keputusannya menjadi mualaf akan menimbulkan pro kontra di kalangan masyarakat. Bahkan, tak sedikit warganet yang menudingnya sengaja menggadaikan keimanan demi sebuah popularitas.

Namun Esal menegaskan, keputusan memeluk Islam atas kemauan dirinya sendiri. Kebetulan, dia tinggal di lingkungan yang mayoritas Muslim. Dia pun berharap terus istiqomah dengan keinginannya menjadi Muslim.

Anjing mengongong kafilah berlalu. Esal enggan mempedulikan anggapan miring tentang dirinya. Toh keluarga menyambut baik Esal memeluk Islam. Dengan catatan, keputusan itu diambil bukan karena alasan duniawi.

"Saya bilang ke mama saya. "Ma aku memutuskan ingin masuk Islam. Saya merasa terpanggil'. Mama kaget sih, kenapa, kamu disuruh-suruh ya. Tapi ini memang ini dari hati aku setelah setahun pelajari Islam. Akhirnya mama restui, asal jangan jadikan agama untuk sesuatu hal," papar Esal.

Ramadan menjadi Ramadan pertama bagi Esal sebagai mualaf. Hingga kini, dia masih dalam taraf mempelajari Islam, terutama soal tata cara ibadah.

"Manajer saya, Tata Liem sama om Oji selalu ingatkan. Apalagi om Oji, selalu ingangat salat, puasa pun selalu dikontrol," katanya.

Diakui Esal, ada perasaan lain setelah dirinya memeluk Islam. Dia mengaku jauh lebih tenang dalam melangkah.

"Lebih tenang, sabar. Hubugan saya sama Tuhan makin dekat. Karier juga berjalan lancar, jadi lebih dimudahkan sama Tuhan," pungkas Esal Revano.