Sounds of Bintang, Nino RAN, Siap Berlomba Membuat Karya yang Keren

Rivan Yuristiawan diperbarui 13 Mar 2018, 08:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Nama Anindyo Baskoro mungkin terdengar asing ditelinga. Namun, jika menyebut Nino, sapaan akrabnya, pastilah langsung tertuju pada salah satu personel grup musik RAN, salah satu grup yang banyak digandrungi oleh penikmat musik era milenial ini.

Ya, Rayi, Asta, dan Nino dengan bendera RAN yang mereka usung memang terbilang musisi zaman now. Terbentuk pada 2006, RAN tak butuh waktu lama untuk merintis eksistensinya di industri musik Indonesia sampai saat ini. Satu tahun setelah terbentuk, tepatnya akhir tahun 2007, RAN resmi merilis album debut bertajuk RAN For Your Life dengan lagu Pandangan Pertama sebagai single jagoannya.

Terbentuk pada 2006, RAN tak butuh waktu lama untuk merintis eksistensinya di industri musik Indonesia sampai saat ini. (Foto: Bintang.com/Bambang E.Ros, Digital Imaging: Bintang.com/Nurman Abdul Hakim, Wardrobe: @earlyadopter)

Sejak saat itu, bermodal genre musik Pop dan R&B yang diusung, tiga orang alumnus salah satu sekolah ternama di Jakarta itu semakin menancapkan eksistensinya. Total, sampai saat ini, RAN sudah merilis lima album sebagai tanda karya 12 tahun berkiprah di Industri musik Tanah Air.

Mewakili Rayi dan Asta, Nino RAN pun bercerita mengenai perjalanan karier RAN yang terbilang mulus. Tanpa perlu sering bolak-balik ikut festival musik atau manggung di kafe sebagai jalan peretas karier, RAN hanya butuh satu kali ikut lomba sampai akhirnya mendapat tawaran dari pihak label musik untuk membuat album rekaman.

Terbentuk pada 2006, RAN tak butuh waktu lama untuk merintis eksistensinya di industri musik Indonesia sampai saat ini. (Foto: Bintang.com/Bambang E.Ros, Digital Imaging: Bintang.com/Nurman Abdul Hakim, Wardrobe: @earlyadopter)
"Sebenernya gue, Rayi, sama Asta itu termasuk musisi yang beruntung sih. Kalau orang lain harus ikut banyak festival, masih ketemu rintangan sampai akhirnya punya album, kalau kita tuh benar-benar dikasih anugerah banget sama Tuhan. Cuma ikutan satu kali festival, dikontak sama label, abis itu langsung punya album, jadi nggak ada kata lain selain bersyukur," ucap Nino RAN kepada Bintang.com.

Dalam edisi Sounds of Bintang, yang menjadi tema dari ulang tahun ke-3 Bintang.com, Nino pun berbagi cerita mengenai perjalanan kariernya yang ingin terus ia gapai bersama RAN. Disamping itu, ia juga berpendapat soal hiruk pikuk industri musik Indonesia saat ini.

2 dari 3 halaman

Bermusik karena Kahitna

Terbentuk pada 2006, RAN tak butuh waktu lama untuk merintis eksistensinya di industri musik Indonesia sampai saat ini. (Foto: Bintang.com/Bambang E.Ros, Digital Imaging: Bintang.com/Nurman Abdul Hakim, Wardrobe: @earlyadopter)

Menjadi salah satu perwakilan musisi zaman now dalam perayaan HUT Bintang.com ke-3, Nino RAN bercerita mengenai awal ketertarikannya pada dunia musik Tanah Air. Nyatanya, grup musik Kahitna-lah yang menjadi salah satu acuan bagi Nino terjun ke industri musik sampai akhirnya mencipta lagu dan meretas jalan menjadi seorang produser musik.

Sebagai musisi, siapa musisi zaman dulu yang paling sering Nino nikmatin karyanya?

Waktu kecil, gue suka banget dengerin albumnya Kahitna. Kahitna itu jadi salah satu album yang sering diputar di mobil gue dulu. Kebetulan bokap dan nyokap penggemar Kahitna, jadi dari kecil udah kesiram banget sama lagu-lagu Kahitna.

Apa Kahitna juga yang menginspirasi kamu untuk berkarier di industri musik saat ini?

Kayaknya iya sih. Direncanakan atau tidak, pasti lagu-lagu yang gue tulis banyak terinspirasi dari karyanya mas Yovie Widianto.

Memang niat jadi musisi sejak kecil?

Nggak lah sejujurnya, karena memang dari kecil nggak pernah punya agenda jadi musisi. Walaupun gitu, maksudnya gua bersyukur banget dari apa yang gua jalanin pertama kali (dengan RAN) sampai apa yang bisa didapatkan sekarang itu suatu yang berkah aja dari Tuhan.

Berkah Tuhan seperti apa yang Nino syukuri sampai akhirnya bisa terjun ke industri musik Indonesia?

Kesempatan ya. Waktu itu, kita (RAN) ikutan lomba dan lagunya jadi salah satu pemenang, nggak lama lagunya udah ada di Ipod banyak orang, terus dikontak label ditawarin punya album. Itu gua ngerasa kayak kesempatan yang nggak akan datang dua kali. Jadi gua mantapin diri untuk terjun langsung ke dunia musik. Padahal, jujur aja, gue lumayan nggak punya bekel apa-apa, secara teori masih nol, pengalaman masih nol, cuma ternyata kadang nekat yang kita lakuin tuh bisa membawa sesuatu yang nggak kita duga.

Terbentuk pada 2006, RAN tak butuh waktu lama untuk merintis eksistensinya di industri musik Indonesia sampai saat ini. (Foto: Bintang.com/Bambang E.Ros, Digital Imaging: Bintang.com/Nurman Abdul Hakim, Wardrobe: @earlyadopter)

Tahun 2007, saat lagu Pandangan Pertama keluar, RAN langsung dapat apresiasi yang tinggi karena musiknya yang segar, nyangka nggak?

Sebenarnya gue, Rayi, sama Asta itu termasuk musisi yang beruntung sih. Kita tuh benar-benar dikasih anugerah banget sama Tuhan cuma ikutan satu kali festival abis itu langsung punya album. Jadi itu makanya tadi gue bilang bersyukur banget karena gue tahu perjuangan yang harus dilalui ke titik itu tuh berat banget dan gue kayak dikasih jalan cukup mulus sama Tuhan.

Itu bicara jalan mulus RAN, dibalik itu, perjuangan seperti apa sih yang kalian lalui sampai akhirnya ada di titik sekarang?

Yaa nggak mulus-mulus aja, ada rintangannya. Tapi kalau udah sampai di titik sekarang, kalau mau flashback pasti kan yang mau diingat memori-memori yang bagus, jadi nggak ada kata lain selain bersyukur. Gue udah nggak pernah ingat hal-hal sulitnya, kebanyakan indahnya.

 

Terbentuk pada 2006, RAN tak butuh waktu lama untuk merintis eksistensinya di industri musik Indonesia sampai saat ini. (Foto: Bintang.com/Bambang E.Ros, Digital Imaging: Bintang.com/Nurman Abdul Hakim, Wardrobe: @earlyadopter)

RAN lahir dan tumbuh di era industri musik sedang dalam masa transisi ke yang serba digital, bagaimana pendapatnya?

Ya namanya pergantian teknologi itu akan selalu pro dan kontra, kayak dulu dari kaset ke CD, terus dari CD ke digital. Menurut gue kebanyakan musisi di Indonesia banyak yang protes dan komplain sama keadaan ini, cuma dari gue sih pengen menghimbau aja jangan terlalu diratapi, soalnya menurut gue itu nggak bisa dipungkiri dan akan terus terjadi.

Cara RAN menyiasati penjualan album fisik yang semakin menurun bagaimana?

Dibandingkan kita selalu komplain, mending lebih berlomba bikin karya yang bagus aja. Kalau misalnya karya kita bagus, mau apapun caranya, kita akan dicari kok karyanya.

Jadi, Nino RAN termasuk yang pro atau yang kontra sama era musik serba digital sekarang?

Gue menganggap perubahan menjadi digital ini sebagai kemajuan, dan setiap kemajuan pasti ada yang dikorbankan juga. Lihat dari segi positifnya aja, sekarang tuh lu mau ngerilis lagu hari ini, lu tinggal upload dan beberapa menit kemudian semua orang udah bisa dengar. Itu nggak susah.

Lalu, apakah masih penting album fisik untuk RAN saat semuanya sudah serba digital?

Banget. Album fisik itu masih penting sebagai bukti karyanya. Jadi RAN masih sebagai pendukung musisi harus punya album.

 

3 dari 3 halaman

Ingin Terus Merajut Mimpi bersama RAN

Terbentuk pada 2006, RAN tak butuh waktu lama untuk merintis eksistensinya di industri musik Indonesia sampai saat ini. (Foto: Bintang.com/Bambang E.Ros, Digital Imaging: Bintang.com/Nurman Abdul Hakim, Wardrobe: @earlyadopter)

Di 2018 ini, RAN akan menginjak usia 12 tahun sebagai grup musik. Sudah lebih dari satu dekade bersama dua sahabatnya, Nino mengaku masih belum puas untuk terus merajut mimpi di industri musik Indonesia, bahkan internasional.

Awet lebih dari satu dekade dengan tiga kepala di RAN, bagaimana caranya?

Gampang ya karena kita memang teman dari dulu, dari belum punya band udah berteman. Jadi yaa kuncinya sih menurut gua jangan menganggap bikin lagu, main musik, ngeband itu sebagai pekerjaan, tetap jangan lupa sisain satu ruang di hati lu kalo ini (RAN) tuh passion lu. Jadi komunikasinya nggak melulu kayak ibarat band ini perkerjaan yang ketemunya cuma di studio atau pas manggung, tapi diluar itu di waktu kosongnya nggak pernah ngobrol. Nah, sebenarnya hal-hal kayak gitu yang menurut gua bikin tali komunikasi kita sama teman band kita terputus dan akhirnya kayak secara chemistry bisa hilang.

2018, apa yang sedang dikerjakan RAN?

Tahun ini mau rilis lagu Dekat Dihati di Jepang versi bahasa Jepang. Sudah direkam, cuma lagi ngurus, karena kan RAN juga punya agenda manggung segala macam, gua juga punya agenda bikin lagu dan memproduseri orang juga, jadi lagi cari waktu yang tepat untuk berangkat ke sananya.
Terbentuk pada 2006, RAN tak butuh waktu lama untuk merintis eksistensinya di industri musik Indonesia sampai saat ini. (Foto: Bintang.com/Bambang E.Ros, Digital Imaging: Bintang.com/Nurman Abdul Hakim, Wardrobe: @earlyadopter)

Album baru?

Rencananya juga tahun ini, tapi kita pengen satu-satu deh, dibanding kepalanya meledak, hahaha. Mungkin agenda yang paling dekat kita akan segera merilis lagu Dekat Dihati di Jepang.

Apa RAN termasuk grup yang suka nge-list pencapaian tahunan?

Nggak ada list-nya sih. Tapi mimpinya pasti ada terus dan nggak akan habis-habis sih. Sampai kapan pun selalu ada mimpi yang belum terjadi buat kita. Jadi kita selalu punya alasan untuk ngejar mimpi terus.

Apa mimpi besar RAN?

RAN tuh nggak pernah muluk-muluk, mimpi yang di depan mata aja, kalau sekarang mau rilis lagu di Jepang. Itu dulu kita taklukan, nanti baru lanjut ke mimpi selanjutnya.

Berandai-andai, RAN lima tahun ke depan akan seperti apa?

RAN lima tahun kedepan itu yang jelas umurnya udah 35 semua. Dulu tuh waktu pertama kali rilis, kita ngerasa muda banget, sekarang kayaknya foto-foto sama senior juga lumayan nggak jauh umurnya. Jadi 5 tahun ke depan Insya Allah masih bisa berkarya, masih bisa memberikan sesuatu untuk industri musik Indonesia, yang penting masih bertahan. Kita tahu yang lebih susah itu mempertahankan daripada memulai, yang penting tetap bersama, bersatu, soalnya kalau nggak ada satu, namanya bukan RAN, hahaha.

Terbentuk pada 2006, RAN tak butuh waktu lama untuk merintis eksistensinya di industri musik Indonesia sampai saat ini. (Foto: Bintang.com/Bambang E.Ros, Digital Imaging: Bintang.com/Nurman Abdul Hakim, Wardrobe: @earlyadopter)

Usia personel RAN akan semakin matang, dan mungkin pertambahan usia akan membuat mood kalian berubah dalam berkarya, bagaimana usaha kalian agar RAN tetap relevan mengusung musik anak muda?

Caranya adalah tetap mendengar lagu yang aktual aja sih. Gue juga nggak tau kenapa sampai hari ini, misalnya liat foto RAN dari 2006, pertama kali kita ada sampai sekarang emang nggak ada bedanya sih, rambut masih sama, haha. Sekarang RAN udah belasan tahun, perlu banyak usaha yang bisa membuat musik RAN tetap relevan di industri. Mungkin kalau gue kan penyiar radio, dan buat gua pribadi, mendengarkan radio itu penting banget karena radio itu selalu memberikan lagu yang lagi ada saat ini, mereka pasti muterin lagu-lagu yang sekarang lagi digemari, itu salah satu cara gue gimana bikin lagu yang digemari anak jaman sekarang. Jadi harus update terus sama musik di sekitar kita.

Lahir sebagai musisi era kekinian, nyatanya Nino RAN selalu haus untuk berkarya bersama dua sahabatnya, Rayi dan Asta di RAN. Bukan tidak mungkin, bermodal persahabatan yang kuat, ditambah musikalitas yang terus berkembang, RAN tetap bertahan belasan tahun kedepan yang akhirnya melegenda sebagai grup musik milenial yang menginspirasi generasi berikutnya. Jadi, sukses terus RAN!!