Sarah Sechan & Dian Muljadi: Perempuan Digital itu Seksi!

Fimela Editor diperbarui 25 Jul 2011, 13:15 WIB

Kedua profil ini datang dari latar belakang yang berbeda. Dian Muljadi adalah seorang pelopor media yang sudah sejak lama fokus pada perkembangan gaya hidup perempuan masa kini yang stylish dan cerdas. Dan, sejak tahun lalu, Dian lebih mendekatkan perempuan dengan digital saat menghadirkan online magazine Fimela.com, yang baru saja memenangkan Bubu Awards Vol. 7 untuk kategori News/Entertainment.

Lain dengan Sarah Sechan, perempuan yang berkarier sebagai presenter/pemain film/ibu rumah tangga ini, merasa kebutuhannya akan informasi terbaru selalu tinggi dan itu bisa didapatkannya di dunia online. Dengan kesamaan visi tentang dunia digital dan perempuan itulah, kedua sosok ini duduk bersama dalam talkshow “Women in Digital Era” yang dimoderatori oleh Andi Budiman, tokoh berpengaruh dalam dunia digital sekaligus pendiri International Design School (IDS).

Diskusi dimulai oleh Andi Budiman dengan mengeluarkan suatu pernyataan bahwa konten, komunitas, dan commerce, adalah evolusi industri digital masa kini. Menanggapi tentang tiga hal tersebut, Dian mengiyakan bahwa apa yang diperhatikan di lingkungan sekitarnya memang seperti itu trennya.

“Perempuan Indonesia sudah nyaman dengan dunia digital. Transaksi puluhan juta yang rutin terjadi via Blackberry Messenger (BBM) group buktinya.Melalui grup BBM, mereka bisa melakukan jual beli. Sekarang ini, brand-brand fesyen sudah menyadari pentingnya merangkul komunitas,” papar Dian.

Lain untuk Sarah, pengamatannya terhadap dunia digital adalah tentang kegunaan social media yang kini menjamur dan bisa dimaksimalkan penggunaannya untuk kepentingan amal. Dan, Sarah mengalaminya sendiri saat ia terjun langsung untuk mengumpulkan bantuan bencana alam Merapi dan Mentawai tahun 2010 lalu.

“Berkat jejaring sosial, saya berhasil mendapat bantuan 4 truk besar dan 30 juta Rupiah saat bencana Merapi dan Mentawai terjadi,” aku Sarah tanpa bermaksud menyombong.

Walaupun dengan gamblang menyatakan bahwa perempuan dan dunia digital saling membutuhkan, baik Dian dan Sarah menegaskan bahwa teknologi tetap sebuah hal yang membutuhkan human control agar manfaat yang didapat tetap positif.

“Kita harus jauh lebih canggih dari teknologi yang ada. Without human power, teknologi akan menjadi pisau bermata dua,” tegas Sarah yang diikuti anggukan Dian.