Ikuti Kata Hati atau Kata Orang?

Fimela Editor diperbarui 05 Mar 2012, 11:29 WIB
2 dari 3 halaman

Next

Tapi, rupanya hal itu tak berlaku bagi James Hooker, mantan guru komputer sekaligus pengusaha di California yang lebih memilih hidup bersama Jordan Powers, gadis 18 tahun bekas muridnya di SMA. Hooker meninggalkan segalanya, pekerjaan, karier, istri dan anak-anaknya. Ia mengatakan bahwa keputusan mereka pasti akan menyakiti banyak orang, walau hingga kini pun ia terus bertanya pada dirinya sendiri, pilih orang lain bahagia atau tetap ikuti kata hatinya. Itu pilihan yang sulit bagi Hooker dan Powers.

Apa saja yang dijadikan pertimbangan ketika kamu menentukan pilihan? Untung-ruginya? Manfaatnya buat hidupmu dan orang lain? Atau hanya berdasarkan apa yang kamu mau tanpa banyak pertimbangan? Lalu, mana yang akhirnya kamu pilih, yang orang lain sarankan atau sepenuhnya ikut kata hati?

What's On Fimela
3 dari 3 halaman

Next

“Dilema itu pasti, ya. Wajar kita bingung sama pilihan yang tersedia di depan kita. Tapi, karena mau nggak mau tetap harus memilih, saya biasanya lebih memberatkan apa yang jadi pilihan banyak orang. Saya mikirnya itu, kan, hasil pikiran banyak kepala, berbagai sudut pandang dan pemikiran. Kalau ikut kata hati belum tentu saya bisa tanggung jawab sama pilihan saya ini. Jangan-jangan cuma emosi atau terbawa suasana.” -Maya, accounting, 25 tahun-

“Apa yang saya pilih, ya, sesuai dengan keinginan saya. Selama ini keluarga selalu memberikan kebebasan. Asal konsisten dengan pilihan, pasti nggak akan ada masalah. Kalau setelah memilih ternyata muncul masalah-masalah baru, anggaplah sebagai tantangan untuk lebih maju. Saya nggak pernah menganggap pilihan saya itu salah selama saya konsekuen dan terus positive thinking. Kalau saran dari orang terdekat pasti ada, tapi lebih ke untung-ruginya. Sebatas itu. Ending-nya saya yang putuskan akan jadi seperti apa.” -Palma, sekretaris, 26 tahun-

Pilihan memang selalu jadi momok menakutkan, tapi paling sering kita temui. Dilema memilih meeting sampai larut malam atau keluarga, pergi ke acara klien atau makan malam bareng sahabat, sampai dilema mau habiskan weekend di rumah orangtua atau mertua. Hal sepele sampai hal besar yang tentukan masa depan kita, harus dilalui dengan memilih. Kita tak pernah tahu mana yang lebih baik, tapi setidaknya pilihan itu sudah melewati pertimbangan. Asal konsisten dengan pilihanmu dan siap menanggung apa pun risikonya, sepertinya tak akan jadi masalah yang berlarut-larut karena akan berlanjut lagi dengan aktivitas memilih yang baru. Jadi, siap hadapi pilihan lain lagi, kan, sebentar lagi? Hidup memang penuh pilihan.