Cathy Sharon: “Saya Beruntung Menjadi Selebriti”

Fimela Editor diperbarui 03 Apr 2012, 04:59 WIB
2 dari 4 halaman

Next

Saya sudah banyak menerima, kini saatnya memberi

Keterlibatan saya sebagai duta lingkungan hidup bukan untuk ketenaran, tapi semata-mata sebagai bentuk rasa syukur saya. Selama ini banyak sekali yang saya dapatkan dan saya merasa hanya menerima tanpa membalas budi kepada masyarakat Indonesia yang menerima saya dengan baik. Ya, saya memang entertainer, tapi saya nggak mau hanya memberikan hiburan di dunia showbiz, saya ingin sesuatu yang lebih. Makanya, ketika saya diajak oleh IBU Foundation setelah terjadi bencana alam di Pariaman 2009 lalu, menjadi kesempatan saya untuk membantu.

Karena, kalau misalnya saya yang datang ke lokasi bencana, saya bukan dokter dan nggak bisa melakukan apa-apa. Jadi, daripada saya sia-sia menjadi sukarelawan yang nekat langsung turun ke lokasi, sebaiknya saya tetap berada di Jakarta namun mencarikan dana bantuan di Jakarta.

Beda lagi dengan keterlibatan saya di SOS Indonesia yang sepertinya memang sudah jalan Tuhan. Saya dipertemukan, diperkenalkan, lalu bisa ikut membantu melestarikan lingkungan dari seorang teman, dan semua itu dimudahkan. Di SOS Indonesia, saya bergerak untuk melestarikan lingkungan, menyebarkan pesan untuk menjaga hutan dari penebangan liar, sekaligus mempopulerkan daerah tersebut sebagai tujuan wisata yang bagus.

Saya punya star power dan saya gunakan itu

Beruntunglah saya menjadi selebriti, karena orang-orang sudah mengenal saya dan saya sudah mendapatkan simpati publik, dimana itu sangat membantu ketika saya mendatangi sebuah tempat untuk kepentingan sosial. Saya bukan selebriti yang ketika diminta menjadi perwakilan sebuah yayasan, tapi nggak mendalami apa yang saya promosikan. Bukan seperti itu cara saya membantu. Saya pasti akan turun langsung melihat dan mengenal apa yang saya perjuangkan, kemudian saya jalani dengan baik tugas saya. Logikanya, bila saya lahir dan besar di kota, lalu tiba-tiba diminta mewakili gerakan pelestarian hutan di pedalaman, bagaimaan orang-orang bisa percaya bahwa saya tulus membantu kalau nggak membekali diri dengan pengetahuan yang cukup?

What's On Fimela
3 dari 4 halaman

Next

Saya jatuh cinta dengan hutan

Saya anak kota yang sama sekali nggak tahu hutan seperti apa, hingga akhirnya turun langsung pertama kali ke hutan saat pergi ke Taman Nasional Gunung Leuser, Bukit Lawang, Sumatera Utara. Sejak itu, saya langsung jatuh cinta dengan hutan. Saking butanya saya tentang lingkungan, khususnya hutan, saya dijelaskan oleh pemandunya dengan analogi khas Ibukota. Seperti saat diperlihatkan pohon yang sudah berusia 600-700 tahun, diberi tahu bahwa bila menebang satu pohon tersebut setara harganya dengan 2 unit BMW. Berkenalan dan langsung dekat dengan alam, melihat sendiri kehidupan satwa liar, saya bukan hanya duta lingkungan biasa yang sekadar berorasi tentang kepedulian lingkungan, tapi saya sedikit banyak tahu tentang itu. Saya nggak buang-buang energi dengan hanya ngomong saja, tapi langsung turun dan bisa mengajak lebih banyak teman untuk melihat keindahan alam asli Indonesia. Untuk selanjutnya, saya berencana ingin bertransisi menjadi aktivis atau philanthropist.

Saya bekerja pakai hati, bukan hanya cari uang

Banyak yang bertanya pada saya kenapa akhir-akhir ini saya jarang kelihatan, saya jawab saja kalau saya banyak berada di hutan. Ya, pekerjaan sosial untuk melestarikan lingkungan ini memang saya kerjakan dengan hati, yang artinya memang sesuatu yang saya jalani atas dasar senang, bukan untuk maksud lain. Alasan lain saya lebih banyak mendedikasikan diri di kegiatan amal ketimbang di dunia hiburan, karena saya sudah menjalani pekerjaan di dunia showbiz sekitar 10 tahun, jadi sudah mulai merasa ingin mencari sesuatu yang lain. Makanya, tawaran menjadi sutradara di “Omnibus”, proyek pembuatan film dari buku “Rectoverso” karya Dewi Lestari bersama para sineas perempuan lainnya, memberikan selingan lain yang seru untuk saya.

4 dari 4 halaman

Next

Saya nggak bisa hidup tanpa Julie

Adik sekaligus partner in crime saya, Julie Estelle, adalah segala-galanya untuk saya. Kalau menerima pekerjaan, sebisa mungkin bareng dia. Kalau bisa saya meng-kloning dia, saya ingin punya satu lagi Julie supaya saat Julie yang satu sibuk bekerja, saya masih punya satu lagi di rumah untuk menemani saya (tertawa). Saya rasa kami adalah sepasang soulmate karena susah dipisahkan. Kami hidup berdua di Jakarta, jauh dari orang tua, jadi apapun yang kami lakukan selalu bersama, hingga kami punya lingkaran pertemanan yang sama juga. Karena kami saling memiliki satu sama lain, dunia hiburan yang penuh dengan gosip aneh menjadi bukan beban untuk kami, karena kami saling melindungi.

Kehidupan selebriti di dunia hiburan itu seperti dinding fasad yang terlihat bagus, padahal di balik tatanan rambut bagus atau sapuan make up yang membuat cantik, semua selebriti hanya manusia biasa. Bila ingin melihat aslinya seorang selebriti, ajaklah mereka ke hutan (tertawa).

Saya ingin menikah dari sejak pertama kali pacaran

Dengan kekasih saya yang sekarang, rencana pernikahan semakin dekat. Bedanya dengan hubungan yang sebelumnya, calon suami saya nggak dikenalkan ke awak media karena nggak ingin sakit hati lagi selalu dikaitkan dengan mantan-mantan terdahulu. Terlepas siapa calon suami saya, dari dulu saya memang nggak malu-malu mengungkapkan secara lugas kalau ingin cepat menikah dan memiliki anak. Dari pertama kali pacaran saja saya sudah ingin nikah, bahkan dari kecil boneka Barbie saya nikah-nikahin. I’m hopelessly romantic dari sejak lama. Inginnya menikah muda, tapi rencananya baru akan menikah menjelang usia 30 tahun.