Penyatuan Zona Waktu, Bawa Dampak Apa?

Fimela Editor diperbarui 04 Jun 2012, 11:59 WIB
2 dari 3 halaman

Next

Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI) melalui juru bicaranya, Edib Muslim, menganggap pembagian zona waktu nggak menguntungkan dalam bisnis. Pusat bisnis wilayah timur yang sedang tumbuh, seperti Malaysia, Singapura, Taiwan, China, dan Hongkong ada di wilayah zona GMT + 8, sama dengan WITA, sementara Indonesia yang pusat bisnisnya terletak di zona GMT + 7 akan terus terlambat selama 1 jam. Inilah yang mempengaruhi kekalahan Indonesia dibandingkan negara lain dalam hal transaksi bisnis.

Pihak yang juga pro, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, percaya bila penyatuan waktu mampu mendorong percepatan ekonomi nasional dan perluasan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, komunikasi dan kinerja birokrasi di seluruh wilayah Indonesia dapat ditingkatkan karena nggak lagi terhalang selisih waktu, termasuk penggunaan internet, jaringan broadband, dan siaran televisi.

"Pembagian zona waktu selama ini dihitung dari posisi pergerakan matahari, sehingga jika nanti disatukan memunculkan masalah kompleks dari sisi keilmuan, juga penentuan waktu ibadah dan puasa bagi umat muslim."

Menko Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa, penggagas wacana ini memang mengungkapkan masih akan membahas untung-ruginya dan belum memutuskan akan benar-benar menerapkan penyatuan wilayah yang diusulkan dimulai pada 28 Oktober mendatang. Menurutnya, penyatuan zona waktu nggak cuma dilihat dari efisiensi dan produktivitas dalam hal perekonomian, tapi juga mempertimbangkan aspek sosial-budaya.

Sementara pihak pro terus meyakinkan masyarakat mengenai dampak positif penyatuan wilayah itu, pakar ilmu bumi Undip, Rahmat Gernowo, ikut mengungkapkan pendapatnya. Pembagian zona waktu selama ini dihitung dari posisi pergerakan matahari, sehingga jika nanti disatukan memunculkan masalah kompleks dari sisi keilmuan, juga penentuan waktu ibadah dan puasa bagi umat muslim.

Rencana pemerintah kali ini dinilai keliru oleh mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla karena mengorbankan 200 juta jiwa rakyat Indonesia hanya demi melayani kepentingan investor. Contohnya, pekerja yang tinggal di pinggiran Jakarta harus berangkat satu jam lebih awal agar sampai di Jakarta tepat pukul 07.00 WITA. Yang paling menderita anak-anak Aceh. Karena matahari baru terbit pukul 06.00 WIB, mereka harus berangkat sekolah saat masih gelap kalau jam masuknya pukul 07.00 WITA. “Kalau semua sarapan jam 04.00 pagi, berapa listrik yang dipakai?" kritik Kalla.

Dengan sejumlah alasan keberatan, Kalla lebih menyarankan untuk memajukan jam buka perdagangan sejam lebih awal, seragam dengan Singapura dan Hongkong, kalau alasan pemerintah meningkatkan produktivitas pasat modal meningkat. Bagi Kalla, 200 juta masyakat Indonesia jangan sampai dikorbankan demi pasar modal yang 70 persennya berisi investor asing.

What's On Fimela
3 dari 3 halaman

Next

Kalau nantinya kebijakan ini benar-benar diterapkan, bisa membayangkan 193 juta jiwa penduduk bagian barat dan 6 juta penduduk bagian timur mengubah pola hidupnya selama ini, menyesuaikan dengan waktu yang digunakan penduduk bagian tengah? Masuk akal nggak, sih?

Pak Us, seorang pemulung di daerah Kebayoran Lama, 30 tahun, ketika ditanya pendapatnya tentang penyatuan waktu ini, cuma berujar, “Ikut saja apa kata pemerintah. Orang kecil lebih memikirkan mau makan apa besok.” Kalau dimajukan sejam, ia yang mengaku mulai bekerja sejak jam 3 dini hari, akan mulai bekerja lebih awal lagi karena tak biasa bekerja setelah matahari terbit. “Kan, harus kejar setoran. Makin pagi, belum banyak orang beraktivitas, makin leluasa berburunya. Nggak tahu juga nanti bagaimana, yang penting saya ikuti saja perkembangannya. Percuma orang seperti saya berpendapat, apa ada yang mendengar?” Tutup Pak Us.

Ngomong-ngomong masalah jam masuk kerja dan sekolah, bagaimana pula ya, kira-kira cara mengaturnya? Apa akan disamakan waktunya? “Kalau sama jadi lebih praktis buat saya. Selama ini anak masuk jam 7, saya jam 8. Kalau nanti maju 1 jam kan, nggak menutup kemungkinan jam kerja saya juga maju, jadi saya bisa antar anak sekalian berangkat kerja, atau jangan-jangan jam sekolah anak yang dibuat makin pagi? Wah, repot dong,” ungkap Nia, sales executive, 28 tahun.

Lalu, kalau jam masuk kerja dan sekolah dibuat hampir atau justru bersamaan, bukannya malah menambah macet jalanan, khususnya di Ibukota ini? “Nah itu dia, kalau cuma maju 1 jam, walaupun mungkin harus membiasakan diri tidur lebih cepat dan bangun lebih pagi, nggak masalah. Yang jadi masalah kalau macet, kan bisa telat. Kalau harus bangun lebih pagi lagi demi menghindari macet, kok aku agak nggak rela. Bukannya lebih nyaman, malah tambah beban,” Elgi, pelajar, 17 tahun, berbagi pendapat.

Dari yang katanya menguntungkan dalam hal perekonomian, sampai efektivitas waktu dan efisiensi energi yang dijanjikan. Dari masalah mengubah kebiasaan, sampai dampak lain yang berbuntut pada makin bertambahnya beban masyarakat. Mana yang lebih mendominasi? Keuntungan atau kerugiannya? Ini baru sedikit tanda tanya dari sekian banyak pertanyaan. Baiklah, bayangkan dulu saja sebelum merasakan langsung dampak kebijakannya, dengan catatan, kalau benar-benar terealisasi.