Rendang Traveler: Jelajah Sumatera Barat, Telusuri Asal Usul Rendang

Fimela Editor diperbarui 06 Jul 2012, 11:29 WIB
2 dari 3 halaman

Next

Rasanya kalau ada daftar menu wajib makanan tradisional Indonesia yang tidak boleh luput untuk dicoba, rendang harus dimasukkan ke dalam daftar tersebut. Kemahsyuran rendang sebagai masakan tradisional sudah nggak perlu diragukan lagi. Bukan hanya di rumah makan Padang kita bisa menemukan makanan dengan bahan utama daging ini, tapi hampir sebagian besar rumah makan pun menyajikan rendang dalam menu mereka.

Tidak hanya tenar di Indonesia, rendang juga dikenal oleh masyarakat luar negeri. Bahkan, CNN melalui situs resminya pernah menobatkan rendang sebagai makanan nomor 1 di dunia. Penobatan CNN terhadap rendang sebagai makanan terpopuler nomor 1 tentu seharusnya menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Indonesia khususnya warga yang berasal dari Sumatera Barat.

Tapi sayang, di balik kepopuleran rendang, sangat sedikit orang yang tahu dan peduli lebih lanjut tentang masakan ini dari sudut pandang budaya. Bahkan, tidak semua orang asal Sumatera Barat yang mengetahui filosofi masakan rendang. Reno Andam Suri, perempuan asal Payukumbuh, menelurkan sebuah buku yang berjudul Rendang Traveler sebagai salah satu usahanya untuk membantu melestarikan rendang.

What's On Fimela
3 dari 3 halaman

Next

“Hampir semua orang tahu rendang. Tapi, tidak semua orang “tahu” tentang rendang. Padahal, dari sisi budaya banyak yang perlu kita ketahui dan lestarikan dari masakan yang satu ini. Dan di Indonesia kita bisa dengan mudah menemukan berbagai buku resep masakan, namun sulit sekali menemukan satu buku yang membahas satu masakan dari segi budaya. Untuk apa? Sebagai salah satu upaya melestarikan kebudayaan. Bukan tidak mungkin jika kita tidak mengenal kebudayaan sendiri, suatu saat nanti rendang juga akan diklaim oleh negara lain sebagai makanan khas negara mereka,” ujar Reno saat ditemui FIMELA.com di sebuah kafe di Jakarta.

"Bukan tidak mungkin jika kita tidak mengenal kebudayaan sendiri, suatu saat nanti rendang juga akan diklaim oleh negara lain sebagai makanan khas negara mereka."Buku yang terdiri dari 200 halaman lebih ini mengupas habis tentang filosofi di balik makanan rendang. Mulai dari arti kata ‘rendang’, bahan-bahan rendang, hingga berbagai jenis rendang dari berbagai daerah di Sumatera Barat. Reno menjelaskan bahwa setiap daerah di Sumatera Barat memiliki jenis rendang yang berbeda-beda. “Masing-masing daerah memunyai kekhasannya. Ada yang menggunakan kemiri. Ada yang menggunakan kapulaga. Ada juga yang memakai ketumbar yang masih hijau untuk digiling menjadi bumbu halus,” (Reno, 2012: 16).

Yang menarik dari buku ini adalah Reno tidak hanya membahas tentang rendang, masakan, dan kebudayaan Minang di dalamnya. Tetapi dalam buku ini, Reno juga mencampurnya dengan pengalaman traveling menjelajah Sumatera Barat. Perpaduan cerita tentang budaya, traveling, masakan yang dilengkapi dengan ilustrasi artikel yang menarik membuat pembaca tidak merasa bosan. Selain itu, dalam bukunya Reno juga menggunakan bahasa tuturan sehari-hari sehingga seolah-olah pembaca diajak berkomunikasi langsung oleh penulis.