Marisssa Nasution & Yuanita Christiani: Kami Bukan Sekadar Presenter Infotainment Biasa

Fimela Editor diperbarui 14 Sep 2012, 04:00 WIB
2 dari 3 halaman

Next

Yuanita Christiani

Figur Yuanita sebagai presenter, mulai dikenal luas berkat keterlibatannya di program acara infotainment. Bila ditotal, ia tergabung dalam acara tersebut selama tujuh setengah tahun di dua stasiun televisi berbeda. Diakuinya, menjadi presenter yang memberitakan selebriti ada seninya, dan itu berkembang seiring dengan jam terbang.

“Memulai karier sebagai presenter dan langsung mendapatkan slot di acara infotainment, tantangannya berat. Sebagai anak baru di dunia tersebut, saya belum punya kapasitas untuk berbuat sesuatu, seperti mengkreasikan atau merevisi kalimat-kalimat yang kurang berkenan menurut pendapat saya. Namun, seiring berjalannya waktu dan tingginya jam terbang, saya diberikan kesempatan ingin membawakan seperti apa sebuah berita yang diberikan kepada saya. Berita yang terlalu memojokkan atau cenderung menjadi fitnah, biasanya nggak begitu saja saya bawakan.”

“Kalau selebriti yang diberitakan negatif saya kenal, biasanya saya telepon langsung dan bertanya kebenarannya. Saya bacakan skrip yang membuat berita tentangnya, lalu mendengarkan konfirmasi dari selebriti tersebut. Dari proses konfirmasi sederhana itu, saya pun jadi bisa mengubah naskah yang awalnya kurang tepat, menjadi kalimat-kalimat yang lebih enak dan berdasarkan fakta, tidak memojokkan apalagi fitnah. Saya tidak mengubahnya secara total, tapi diperhalus agar tidak judgmental. Ini saya lakukan karena tahu benar kalau berita dari media sangat berperan besar dalam pembentukan image baik atau buruk selebriti. Saya sebagai presenter, merasa bertanggung jawab akan hal itu.”

Ketelitian Yuanita dalam hal membacakan naskah berita selebriti tersebut, berdasarkan pengalamannya yang pernah mendapatkan teguran secara langsung dari selebriti yang bersangkutan.

“Saya pernah beberapa kali mendapat teguran, baik yang secara halus maupun keras. Dulu saat di Espresso, yang notabene merupakan acara live, saya mengikuti saja apa yang diarahkan oleh produser tanpa menyaringnya terlebih dahulu. Ternyata, gosip yang terlontar dari mulut saya waktu itu merupakan fitnah untuk selebriti tersebut dan dia tidak terima diberitakan seperti itu. Saya ditegur olehnya secara langsung. Pengalaman lain, saya juga pernah didatangi langsung oleh subyek berita yang saya bawakan dalam keadaan marah-marah, karena menurut selebriti tersebut berita itu sebuah fitnah. Karena situasinya cukup serius untuk yang satu ini, selain meminta maaf, saya juga bacakan kembali skrip yang tertulis sambil mempertemukannya dengan produser acara. Syukurlah masalah tersebut bisa diselesaikan dengan baik. Tapi sungguh, ini menjadi pelajaran yang berharga agar saya lebih berhati-hati. Nggak bisa main-main untuk hal tersebut karena berkaitan dengan orang lain.”

Berisiko tinggi seperti itu, Yuanita tidak serta merta menganggap bahwa infotainment adalah sebuah acara yang negatif, karena menurutnya gosip terkadang menjadi sebuah fakta yang tertunda penyebarannya.

“Pengalaman menjadi presenter infotainment, juga memperlihatkan pada saya bahwa gosip terkadang sebenarnya sebuah kebenaran yang tertunda diketahui oleh orang banyak. Sebagai contoh, gosip perselingkuhan antara seorang selebriti lajang dan yang sudah berumah tangga. Di beberapa kasus tertentu, sebenarnya masing-masing pihak saling menunggu siapa yang akan terbuka lebih dulu ke hadapan publik, padahal kejadiannya sudah berlangsung lama dan di kalangan tertentu hal itu sudah bukan rahasia lagi. Bila kejadiannya seperti ini dan saya harus membawakan berita tentang itu, saya bawakan saja berita seperti apa adanya tertulis di naskah. Walau begitu, ini adalah sebuah pekerjaan yang disertai dengan tanggung jawab besar, maka harus dilakukan dengan baik dan teliti.”

What's On Fimela
3 dari 3 halaman

Next

 

Marissa Nasution

Intrik menjadi presenter infotainment, juga dialami oleh Marissa Nasution. Mantan VJ MTV yang sampai sekarang masih aktif membawakan program acara infotainment di siang hari tersebut, mengatakan bahwa memang diperlukan personal touch seorang presenter untuk membawakan sebuah berita.

“Berperan sebagai presenter yang memberitakan sosok selebriti ada seninya. Bisa saja selebriti yang saya beritakan itu akan bekerja dengan saya di suatu hari nanti, atau sudah berhubungan baik dengan saya. Makanya, naskah yang sudah jadi dan diberikan kepada saya, akan saya baca dengan teliti dan bila ada yang tidak sesuai atau berkenan, saya ganti.”

Sedikit berbeda dengan Yuanita, Marissa mengalami sendiri bagaimana dirinya bisa ikut tertarik ke dalam pusaran gosip yang sedang hangat dibicarakan. Dan sebagai presenter infotainment, Marissa merasa mendapatkan privilidge untuk meluruskan berita.

“Yang belum lama terjadi adalah bagaimana saya bisa terikut dikaitkan dalam masalah perceraian Tamara Blezynsky dan Mike Lewis. Sebelum beritanya semakin jauh dari kebenaran dan kebetulan saya juga berteman baik dengan Mike, saya memanfaatkan kesempatan saya sebagai presenter untuk memverifikasi berita tersebut. Biar bagaimanapun, saya tetap ingin hubungan pertemanan dan pekerjaan saya berjalan bersamaan dengan baik. Makanya, saya tidak hanya menjadi presenter yang membaca naskah, tapi juga melakukan sesuatu dan kalau bisa mencari kebenarannya terlebih dulu. Apa yang saya lakukan ini bukan hanya berefek baik untuk saya, tapi juga berguna untuk orang lain.”

Anggapan bahwa presenter infotainment adalah pekerjaan yang sekadar bergosip, tidak disetujui olehnya. Karena menurutnya, itu kembali pada bagaimana sosok presenter tersebut membawa dirinya.

“Gosip itu ada bukan karena saya. Posisi saya sebagai presenter hanya melontarkan pendapat yang mungkin tidak terpikir oleh orang lain. Dari situ pun bisa terlihat kalau saya hanya menjadi medium untuk menyampaikan sebuah berita, bukan untuk membicarakan seseorang secara mendalam.”

Namun di beberapa kasus, profesi ini bukan sekadar pekerjaan untuknya, terkadang bisa juga mengikutkan emosi. Ada satu kasus selebriti yang diakuinya cukup menyentil perasaannya.

“Salah satu contoh kasus selebriti yang sempat membuat saya kecewa dan marah adalah kasus Arumi Bachsin. Saat ia pergi dari rumah, keluarganya meminta bantuan dari pers untuk menyelesaikan masalah tersebut. Mereka membuat konferensi pers dan melayani wawancara di mana-mana, dengan satu tujuan. Tapi, begitu anaknya kembali, mereka tutup mulut dan tidak mau berkomentar apa-apa. Unsur kerja sama itu timpang, tidak berjalan beriringan. Padahal, kalau ada konfirmasi dari selebriti tersebut melalui media, paling nggak meluruskan apa yang sudah diberitakan selama ini. Harusnya mereka menyadari kalau selebriti terkadang menjadi role model untuk orang lain dan tidak semuanya berpikiran dewasa. Bisa saja tindakan tersebut diikuti oleh penggemarnya yang masih sangat muda, dan saya sebagai seseorang yang pernah ikut membawakan beritanya seperti memiliki utang tanggung jawab untuk meluruskan itu. Idealnya, masalah keluarga memang jangan terangkat ke media, tapi kalau sudah terlanjur dilakukan, jangan menyalahgunakan media.”