Aelke Mariska: "Saya Bisa Hidup Tanpa Laki-Laki"

Fimela Editor diperbarui 19 Nov 2012, 07:30 WIB
2 dari 4 halaman

Next

Ke-Jepang-Jepangan membuat saya mudah dikenali

Sepertinya, saya nggak akan bisa dikenali seperti sekarang bila tidak berpenampilan Jepang. Jalan Tuhan yang membuat saya mendapatkan iklan sebagai gadis Jepang untuk sebuah produk asal Jepang, dan terus berlanjut hingga sekarang dengan mendapatkan peran yang berkarakter tak jauh dari Jepang. Padahal, aslinya saya adalah orang Betawi dan darah Jepang hanya saya dapatkan dari nenek mami saya. Awalnya tertarik dengan Jepang karena saya suka sekali dengan filosofi di balik anime Rurouni Kenshin. Saya juga naksir berat dengan musisi Jepang bernama Gakuto dan ingin tahu apapun yang dia bilang saat ia konser, makanya lalu saya mempelajari bahasanya. Kalau dari segi penampilan, saya nggak begitu merasa sangat Jepang, mungkin hanya karena pengaruh potongan poni. Tapi, kalau dikatakan menjagokan penampilan ala Jepang ini, saya rasa tidak, karena yang lebih Jepang daripada saya masih banyak.

"Yang terjadi sekarang ini adalah saya dipertemukan dengan orang-orang baik yang mau memberikan saya kesempatan."

Melihat ke belakang, sebelum saya dikenal seperti sekarang, saya hanyalah seseorang yang hanya ingin menjadi desainer grafis yang bagus. Saya bercita-cita ingin memiliki perusahaan sebelum berusia 24 tahun. Namun,jalan hidup saya sedikit berubah dengan ditawari menjadi bintang iklan, lalu sinetron stripping, hingga film dan presenter musik. Kesibukan dunia hiburan, sempat membuat cita-cita yang sebenarnya jadi tujuan utama saya terlupakan, makanya mulai dua bulan lalu saya kurangi kuantitasnya agar bisa fokus di dunia desain. Saya nggak terlalu berambisi untuk besar di dunia hiburan, karena sebenarnya saya nggak punya potensi. Yang terjadi sekarang ini adalah saya dipertemukan dengan orang-orang baik yang mau memberikan saya kesempatan. Saya bisa bilang begitu, karena belum tentu semua orang yang nggak berpengalaman seperti saya dapat kesempatan seperti ini, tapi toh ada saja yang percaya dengan saya.

3 dari 4 halaman

Next

 

Saya merasa sebagai orang terbodoh!

Hal yang paling dekat dengan saya adalah kerja keras. Saya literally memang harus ekstra kerja keras untuk semua hal. Saya merasa kalau saya adalah orang yang bodoh dan perlu usaha ekstra untuk bisa sejajar dengan orang lain. Dulu, waktu saya masih di bangku sekolah, saya harus belajar dua kali lipat lebih rajin daripada teman-teman lainnya agar bisa mengejar ketinggalan. Sama halnya ketika saya ditawari ke dunia akting, saya harus benar-benar kerja keras agar nggak tampil memalukan di depan kamera. Ini adalah bagian dari karma saya, yang dulu suka menganggap remeh sinetron dan film Indonesia. Dulu saya pikir, mudah saja membuat apa yang saya lihat itu dan meremahkan itu. Setelah masuk ke dunia itu, saya melihat sendiri kalau itu bukanlah sesuatu yang mudah, karena begitu banyak dibutuhkan kerja keras.

Ketimbang menjadi orang pintar atau terkenal, saya lebih ingin menjadi orang yang baik dan sopan. Bersikap baik dan memiliki etika yang bagus, adalah nilai yang sangat saya junjung tinggi. Pemilihan teman pun begitu, dengan siapa saja saya mau berteman, asalkan ia bertingkah laku dan berkata yang baik. Sayangnya, pertanyaan rasis tentang agama atau suku seringkali masih ada saja di kehidupan sehari-hari. Saya sendiri adalah penganut agnostik. Saya percaya dengan azas Ketuhanan Yang Maha Esa, namun saya tidak menganut satu agama tertentu.

"Ini adalah bagian dari karma saya, yang dulu suka menganggap remeh sinetron dan film Indonesia."

Bagi saya, agama yang baik adalah yang membuat lebih dekat dengan Tuhan, lebih baik baik kepada sesama, dan tidak saling memendam iri. Namun, tanpa agama pun saya tetap bisa menjadi orang yang baik, bukan ditentukan dari apa agama saya. Untuk masalah ini, mami mendukung, karena ia mengajarkan saya untuk teliti memilih agama, jangan hanya karena ikut orang tua atau karena sekolah. Makanya, saya sangat terbiasa dengan perbedaan. Kakak pertama saya Katolik, yang kedua Muslim, papi Budha, sementara saya dan mami penganut agnostik. Terbukti, walaupun kami berbeda, kami bisa kok saling rukun dan menghargai.

4 dari 4 halaman

Next

 

Saya bisa hidup tanpa laki-laki

Mami selalu menekankan agar saya menjadi perempuan yang nggak tergantung dengan orang lain. Saya harus bisa menjadi perempuan yang berdiri di atas kaki sendiri. Ini didasarkan atas hubungan papi mami yang tak harmonis dan hingga kini hidup terpisah. Mami pun sempat menjalani hidup serba kekurangan karena usaha papi gulung tikar dan nggak meninggalkan apapun untuk bisa dijadikan bekal untuk hidup. Pelajaran hidup yang saya lihat saat saya kecil ini, membuat saya menjadi paranoid. Saya jadi susah untuk percaya dengan orang lain dan sangat berprinsip kalau kerja keras itu harus. Bila saya nggak kerja keras dari sekarang, maka habislah saya.

"Bila nggak ada laki-laki terbaik yang bisa mendampingi saya, saya tetap bisa hidup tanpa laki-laki."

Selain itu, saya juga tumbuh menjadi perempuan yang bisa dibilang dingin dengan laki-laki. Malah saya cenderung galak sebenarnya. Di kepala saya adalah, bila nggak ada laki-laki terbaik yang bisa mendampingi saya, saya tetap bisa hidup tanpa laki-laki. Teman laki-laki biasa sih banyak, tapi untuk berada di sekitar inner circle saya, laki-laki yang menurut saya bukan yang terbaik, nggak akan bisa mendapatkan tempat di hati saya. Walaupun banyak kejadian pahit yang terjadi dalam hidup saya, sebenarnya saya bersyukur juga sudah melewati berbagai macam hal. Dari sisi papi, dia selalu menekankan untuk serius di jalur pendidikan formal, sementara mami banyak mengajarkan pelajaran hidup. Di usia 23 tahun ini, saya sudah banyak dihadapkan kenyataan hidup dan banyak belajar dari itu. Saya sudah diingatkan sedari awal kalau dunia ini keras dan tidak semua orang baik, makanya saya juga harus bisa melindungi diri saya sendiri.