Lepas dari Ketergantungan Obat & Bebas Stres Berkat Meditasi

Fimela Editor diperbarui 18 Feb 2013, 06:00 WIB
2 dari 6 halaman

Next

Tidak banyak orang yang menyadari bahwa apa yang ada dalam pikiran kita memengaruhi semua aktivitas tubuh kita. Bahwa kondisi tubuh dipengaruhi oleh kesehatan “mental pikiran”, rasanya itu tidak bisa dipungkiri. Stres dan pikiran negatif yang menghantui tidak jarang membuat fisik drop.

Dalam sebuah acara perayaan ulang tahun sebuah komunitas, Adjie Silarus seorang praktisi meditasi menyarankan untuk selalu “membawa santai” apa pun masalah yang ditemui dalam hidup. “Hidup ini sudah terlalu serius dan keras maka dari itu janglah kita juga menyikapinya dengan serius. Semua masalah ada untuk dihadapi dan diselesaikan, namun jangan juga terlalu serius dalam menghadapinya, kasihan tubuh kita. Percayalah bahwa semua akan ada jalan keluarnya,” ujar Adjie kepada audience.

What's On Fimela
3 dari 6 halaman

Next

 

Tubuh dan pikiran saling memengaruhi satu dengan yang lainnya. Nggak percaya? Coba lihat contoh kecil, pernah nggak kamu mengalami gangguan menstruasi ketika deadline atau masalah kantor sedang menumpuk? Kalau jawabannya ‘pernah’, itu merupakan satu bukti bahwa pikiran memengaruhi kerja seluruh anggota tubuh. Kenyataan ini juga diperkuat oleh pendapat seorang ahli kandungan di sebuah rumah sakit.

“Siklus haid yang tidak teratur dan nyeri haid yang timbul saat datang bulan banyak disebabkan oleh faktor hormonal. Dan salah satu yang menyebabkan ketidakseimbangan hormon adalah stres. Jadi, jika memang sering mengalami nyeri haid atau haid tidak teratur, kamu bisa coba untuk mulai berdamai dengan stres,” ujar Dr. dr. Bambang, Sp. Og.

Salah satu cara yang saat ini banyak ditempuh orang untuk berdamai dengan tingkat stres mereka adalah dengan menjalani meditasi.

 

 

 

4 dari 6 halaman

Next

 

“Sejak kecil saya memang memiliki gangguan kecemasan yang berlebih. Saya mudah panik dan stres ketika menghadapi satu masalah. Pernah satu masa saya mengalami nyeri dan sesak di dada sebelah kiri yang tidak tertahankan, serta datang dengan tiba-tiba. Jujur, rasa ketakutan akan serangan jantung pun sempat terpikir oleh saya. Akhirnya, saya memeriksakan diri ke dokter (general check up). Alhamdulillah, setelah beberapa hari menjalani pemeriksaan menyeluruh (saya menceritakan semua latar belakang riwayat psikis saya pada dokter), penyakit jantung yang saya takuti hanyalah ketakutan saya semata. Hingga akhirnya dokter menyarankan saya untuk melakukan satu kegiatan yang bisa membuat saya tenang karena dokter tidak ingin saya ketergantungan pada obat yang ia berikan. Setelah mencari ke sana ke mari, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti kelas meditasi salah satu ahli meditasi ternama di Indonesia. Sekitar satu tahun lebih saya ikut kelas meditasi, dan Alhamdulillah, saat ini saya sudah jauh lebih bisa tenang dan mengendalikan diri, serta rasa sakit di dada pun sudah tidak pernah timbul lagi,” Nia, 24, freelancer.

5 dari 6 halaman

Next

 

Lain orang, lain pula hasil akhirnya. Aisyah, 50, Ibu Rumah Tangga sempat tidak merasakan perubahan pada kesehatannya ketika disarankan untuk melakukan meditasi sebagai salah satu cara menekan darah tinggi yang dideritanya. “Saya menderita darah tinggi dan cukup lama ketergantungan obat dokter, lebih dari 5 tahun mungkin. Saya bosan setiap hari harus mengonsumsi satu butir obat penurun darah setiap kali sakit kepala, sampai akhirnya, seorang teman menyarankan saya untuk coba menenangkan pikiran dengan bermeditasi. Kebetulan, saya punya satu keponakan yang biasa memandu meditasi, walaupun ia memang bukan seorang profesional. Kurang lebih, 3 bulan saya menjalani meditasi, namun tidak juga merasakan perubahan. Lagi-lagi saya stres menghadapi penyakit saya dan membuat sakit kepala saya semakin sering menyerang. Lelah dengan tekanan pikiran yang saya ciptakan sendiri, saya pun mencoba lebih pasrah dan menciptakan “meditasi” sendiri. Setiap usai solat, saya mulai untuk rutin bertasbih dan

"Saya bosan setiap hari harus mengonsumsi satu butir obat setiap kali sakit kepala, sampai akhirnya, seorang teman menyarankan saya untuk coba menenangkan pikiran dengan bermeditasi."memfokuskan diri hanya ke “satu tujuan”, Tuhan. Biasanya saya solat sekadarnya, kali ini saya coba untuk memfokuskan diri dan coba berkomunikasi dengan pemilik tubuh saya. Dari sinilah lama-kelamaan saya menemukan ketenangan sendiri. Lebih tenang dan lebih sabar dalam menghadapi orang, serta tidak mudah panik ketika menemukan satu masalah; sebuah perubahan besar yang saya rasakan setelah beberapa bulan rutin menjalani “meditasi ala saya”, seorang diri di dalam kamar tidur. Dan tanpa saya sadari, dengan sendirinya saya lepas dari obat darah tinggi karena sakit kepala sudah tidak lagi menyerang. Tiga bulan setelahnya saya kontrol berturut-turut ke dokter, dokter pun heran karena tekanan darah saya bisa stabil berturut-turut. Sejak itulah, saya sadar bahwa apapun yang dokter berikan tidak akan bisa menyembuhkan kecuali diri kita sendiri yang memang ingin sembuh. Berpikir positif, nikmati hidup, dan serahkan semua pada penguasa alam; jurus paling manjur untuk lepas dari ketergantungan obat,” Aisyah, 50, mengenang.

 

6 dari 6 halaman

Next

 

Meditasi merupakan salah satu jalan keluar berdamai dengan diri sendiri dan mengendalikan emosi yang tidak terkontrol. Dan yang pasti, seburuk apapun situasi yang ada di hadapan kamu, pengendalian diri adalah kunci utama. Jangan sampai stres menggerogoti kesehatanmu. Pasti kamu nggak mau kan harus ketergantungan obat selama bertahun-tahun akibat penyakit yang kamu ciptakan sendiri.