Wisata Budaya, Kuliner, Hingga Puas Belanja Murah di Hong Kong

Fimela Editor diperbarui 15 Mar 2013, 04:59 WIB
2 dari 4 halaman

Next

Mega (29) dan Stefy (33) adalah pemenang kompetisi “The Shining 30” yang diadakan BRAND’S® Bird’s Nest dan FIMELA.com pada akhir November 2012 lalu di Central Park Mall. Mereka mengungguli lebih dari 100 peserta perempuan yang semuanya berusia 30-an tahun dan berhasil merebut hadiah utama jalan-jalan ke Hong Kong selama 4 hari 3 malam setelah mampu membuktikan kecantikan luar-dalam dan tetap bersinar di usia matang mereka. Ditemani Agnesyah Budiyanti, Marketing Manager BRAND’S® Bird’s Nest, dan Miss Indonesia 2005 yang juga Brand Ambassador BRAND’S® Bird’s Nest, Imelda Fransisca, akhir Januari lalu Mega dan Stefy benar-benar menyambangi Hong Kong.

Day 1: Dari Avenue All Star berakhir di Ladies Market

Petualangan dimulai dengan ritual mengisi perut di sebuah restoran di tengah kota. Hmm, pagi cerah ditemani udara dingin memang waktu  yang pas untuk menikmati yamcha (sarapan). Bubur ayam dan dim sum pun menjadi pilihan. Namun ingat, jangan sekali-kali meminta cabai atau penyedap rasa lainnya karena ada harga tersendiri untuk service yang satu ini, dan mahal. Padahal, makanan di Hong Kong relatif tak berbumbu tajam.

Victoria Peak—dataran tinggi dengan pemandangan puluhan rumah mewah milik kalangan jetset dan artis—menjadi daerah wisata pertama yang dikunjungi (di Indonesia ibarat kawasan Menteng atau Pondok Indah). Mega dan Stefy pun diajak melihat-lihat All Star Avenue Park, yang di dalamnya terdapat cetakan telapak tangan para seleb Hong Kong, seperti Andy Lau, Jackie Chan, Aaron Kwok, Stephen Chow, dan Michelle Yeoh.

Madame Tussauds adalah tujuan berikutnya. Betapa patung-patung lilin yang dipamerkan seperti hidup, sangat mirip dengan aslinya! Mulai dari Albert Einstein, Meryl Streep, The Beatles, Robert Pattinson, sampai Angelina Jolie-Brad Pitt bisa ditemui di sini.

Jelang siang, saatnya menikmati hari dengan makan siang istimewa. Hong Kong terkenal dengan suguhan menu daging angsa, berbeda dengan di Indonesia yang lebih familiar dengan daging bebek. Namun, tak perlu bingung memilih menu yang sesuai di lidah karena biasanya beberapa menu sudah disesuaikan dengan selera orang Indonesia, misalnya daging ayam dan telur dadar.

Jalan-jalan hari pertama ditutup dengan belanja murah di Ladies Market. Para pedagang memenuhi sepanjang jalan, menjajakan bermacam barang yang membuat rombongan geregetan. Karena kendala bahasa, tiap kali bertransaksi kalkulator menjadi penyelamat. Apa boleh dikata, penduduk Hong Kong menggunakan Bahasa Kanton, berbeda dengan China (Shenzhen) yang berbahasa Mandarin. Mega pun berhasil membeli sepatu boots setelah melalui sesi tawar-menawar yang cukup panjang, sementara yang lain juga sukses membeli oleh-oleh murah-meriah. Puas berbelanja, Mega dan Stefy menuju Best Western Grand Hotel di Austin Avenue, Tsim Sha Tsui, Kowloon. Beristirahat sejenak, malam harinya mereka kembali bersemangat icip-icip kuliner di daerah sekitar hotel.

What's On Fimela
3 dari 4 halaman

Next

Day 2: Petualangan berlanjut ke Buddha Statue dan Ngong Ping Village

Sejak pagi, Mega dan Stefy sudah mengunjungi JC Jewelery Factory, toko perhiasan yang pemegang saham terbesarnya Jacky Chan. Menariknya, di sana disediakan bengkel kerja tembus pandang sehingga pengunjung bebas melihat proses pembuatan perhiasan.

Setelahnya, Ngong Ping Village yang terletak di Lantau Island, dekat Disneyland Hong Kong, pun “ditaklukkan”. Ternyata banyak akses untuk bisa mencapai Ngong Ping Village, mulai dari bis yang mengelilingi pulau sampai cable car atau kereta gantung. Mereka pun memilih cable car, melintasi 3 gunung. “Antrean naik cable car sampai puluhan meter, beruntung kami yang dari biro perjalanan tak perlu mengantre,” jelas Stefy.

Di Ngong Ping Village terdapat patung Buddha terbesar di Hong Kong. Benar saja, dari kejauhan patung itu sudah bisa terlihat. Mengenai suhu, rupanya Ngong Ping Village tak kalah dingin dari saat pertama Mega dan Stefy mendarat di Hong Kong. Perjuangan belum berakhir, untuk bisa mencapai patung Buddha, mereka harus menaiki 275 anak tangga! But it was worth it, dari ketinggian tampak pemandangan indah, termasuk turis lain yang lalu-lalang memenuhi Ngong Ping Village.

Sebotol BRAND’S® Bird’s Nest tak lupa diminum usai makan siang untuk mengembalikan kesegaran dan menjaga agar kulit tetap lembap,apalagi saat beraktivitas di cuaca dingin seperti ini. Sesi belanja berlanjut lagi di City Gate Mall sampai tiba malam harinya Mega dan Stefy harus meninggalkan Hong Kong untuk “hijrah” ke Shenzhen. “Sekitar satu jam kami di dalam MRT sebelum akhirnya sampai di bagian imigrasi Senzhen, kota perbatasan antara Hong Kong dan China. Lautan manusia berdesak-desakan!” cerita Mega, yang kemudian disambung Stefy, “Iya, penuh sesak dengan para penumpang yang rata-rata orang China. Mereka berbelanja kebutuhan yang tidak tersedia maupun lebih berkualitas daripada yang ada di China.”

4 dari 4 halaman

Next

Day 3: Menikmati hari terakhir di Window of The World dan Splendid China

Di Shenzhen Mega dan Stefy berkunjung ke Jade Factory, tempat pembuatan giok milik pemerintah. Satu per satu dari mereka pun mencoba gelang giok dibantu pramuniaga yang fasih berbahasa Indonesia yang juga menjelaskan cara membedakan giok asli-palsu dan giok tua-muda. Serunya, jika membeli giok di sini dilengkapi dengan sertifikat, dan bila kelak dijual kembali di tempat yang sama tak akan dikenai potongan harga.

Ada yang berbeda dari menu makan di Hong Kong dan China. Kalau di Hong Kong tak bertemu dengan soda, tempat makan di China justru menyediakan minuman bersoda yang bersanding dengan chinese tea. Usai menikmati sarapan, Mega dan Stefy menuju Window of the World, yang merupakan sebuah area seluas 50 hektar dengan beragam miniatur simbol atau tempat bersejarah negara-negara di dunia di dalamnya, seperti miniatur Taj Mahal India, Kincir Angin Belanda, Patung Yesus Brazil, dan juga Borobudur. Mega dan Agnes tak menyiakan kesempatan dengan berfoto di salah satu latar rumah Jepang mengenakan kimono yang disewa seharga 20 Yuan atau sekitar 30 ribu Rupiah. Window of The World adalah kawasan bebas kendaraan bermotor, sehingga jalanan hanya dipenuhi pengendara sepeda dan pejalan kaki. Pantas saja kalau udara di Shenzhen terasa lebih bersih dan sejuk.

Splendid China terletak tak terlalu jauh dari Windows Of The World. Di sana Mega dan Stefy disuguhi atraksi beragam suku di China. Para penari lelaki yang gagah beserta penari perempuan yang putih, cantik, dan langsing dibalut sempurna dengan baju-baju adat yang kaya warna dan aksesori. Belum lagi tari-tarian tersebut digabungkan dengan efek digital. Benar-benar show yang menarik.

Puas berkeliling Hong Kong dan Shenzhen, menikmati bermacam kuliner, wisata budaya, dan berbelanja, esok harinya mereka menuju pelabuhan laut, menumpang kapal feri untuk kembali ke Hong Kong International Airport. "Walau lelah, perjalanan bareng BRAND’S® Bird’s Nest menyenangkan. Terima kasih BRAND’S® Bird’s Nest yang sudah memilih saya menjadi pemenang...it was amazing! Semoga kompetisi “The Shining 30” diadakan lagi, supaya ada perempuan yang seberuntung saya dan Mbak Stefy bisa menikmati perjalanan gratis dan seru nantinya," ungkap Mega, yang kemudian diikuti Stefy, "Terima kasih BRAND’S® Bird’s Nest dan FIMELA.com untuk pengalaman yang tiada duanya bagi kami." Keduanya pun kembali ke tanah air membawa cerita seru yang baru saja dibagikan kepada Fimelova.