'Bapak Rumah Tangga', Profesi Lazim dalam Keluarga?

Fimela Editor diperbarui 30 Apr 2013, 06:29 WIB
2 dari 5 halaman

Next

Di Indonesia, sudah seperti ‘kewajiban’ bahwa seorang suami harus bekerja dan berperan sebagai pencari nafkah utama untuk menghidupi keluarga. Tak jarang, stigma miring pun menghinggapi para lelaki yang tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga, sekalipun mereka memiliki pekerjaan. Nah, bagaimana jika sang suami justru malah bertukar peran dengan sang istri untuk mengurus rumah sebagai ‘Bapak Rumah Tangga’.

Memang cukup jarang terdengar di telinga kita, bahkan sekalipun mendengar istilah ‘Bapak Rumah Tangga’, bukan tidak mungkin kita langsung mengernyitkan dahi. Memang sudah terbentuk sebuah pola dalam masyarakat Indonesia bahwa tugas utama seorang istri adalah mengurus rumah sedangkan suami wajib mencari nafkah. Karena itulah, tidak heran jika celotehan miring pun menyertai langkah para perempuan yang memutuskan menjalani peran ganda, sebagai perempuan karir dan ibu rumah tangga. Bertukar peran antara suami-istri pun bukan tidak mungkin dilakukan dalam sebuah rumah tangga.

3 dari 5 halaman

Next

 

Adalah Fita (30) dan Rizki (35) yang memutuskan untuk bertukar peran sejak mereka membuat komitmen untuk menikah. Sejak menikah, Fita yang memiliki pekerjaan sebagai seorang GE di sebuah perusahaan minyak berperan sebagai pencari nafkah utama dalam rumah tangga karena Rizki memutuskan untuk menjalankan usaha sendiri.

Rumah tangga Fita dan Rizki kini telah dikaruniai 2 orang anak. Komitmen untuk bertukar peran pun membuat Rizki fokus untuk mengurus 2 orang anak dan masalah rumah tangga harian mereka. Walaupun sebagai Bapak Rumah Tangga, Rizki tidak sepenuhnya menganggur karena usaha foto yang dijalani Rizki masih mendatangkan job yang membuatnya tetap bisa berkontribusi dalam membiayai keperluan rumah tangga.

4 dari 5 halaman

Next

 

Bagus (26), lajang, mengaku pada FIMELA.com bahwa ketika nanti ia menikah, ia pun ingin menjadi seorang Bapak Rumah Tangga. Tidak takut pada komentar sinis dan miring yang akan didapatinya nanti, Bagus mengaku bahwa keputusannya untuk menjadi Bapak Rumah Tangga semata demi kepentingan anaknya kelak.

“Ketika saya menikah nanti, saya tidak mau bekerja. Saya hanya ingin di rumah mengurus anak bersama istri, tapi kalau istri saya mau bekerja, saya tidak akan melarang. Menjadi Bapak Rumah Tangga bukan berarti lepas tangan dan tidak bisa menafkahi keperluan keluarga. Saat ini saya tengah merintis usaha, dengan demikian nanti ketika saya menikah, usaha saya yang akan menjadi sumber utama penghasilan dan saya tidak harus bekerja pada orang serta menghabiskan sebagian besar waktu saya di luar rumah. Keputusan saya ingin menjadi Bapak Rumah Tangga berdasarkan pengalaman pribadi saya yang tumbuh besar tanpa ayah, hanya bersama ibu yang juga sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan saya. Saya tidak ingin anak-anak saya kelak mengalami nasib seperti saya. Komentar miring? Saya tidak malu jika harus menyandang gelar ‘Bapak Rumah Tangga’,” bagus bercerita pada FIMELA.com.

5 dari 5 halaman

Next

 

Diana Tarigan, Psikolog pengembangan perempuan dan anak, dalam sebuah kesempatan mengatakan bahwa saat ini rata-rata perempuan sudah menjalani peran ganda, sebagai istri dan sebagai perempuan karir. Namun, lagi-lagi tidak bisa dipungkiri bahwa satu persepsi yang terbentuk pada masyarakat sering kali menimbulkan komentar-komentar lain yang bisa memengaruhi kita saat menjalani peran masing-masing.

Seperti Fita dan Rizki yang bertukar peran hingga memiliki 2 orang anak, mengaku bahwa pro dan kontra dari keluarga tentang keputusan mereka pun pastinya menghujani rumah tangga mereka. Namun, mereka mengaku bahwa kunci utama yang harus dipegang adalah ‘rumah tangga langgeng’, dengan demikian pihak keluarga dan pihak-pihak lain secara otomatis akan mendukung. So, bagaimana menurut kamu, Fimelova, apakah bertukar peran antara suami dan istri bisa diterima?

 

*foto: berbagai sumber