Botox Bisa Bantu Sembuhkan Stroke? Ini Penjelasannya!

Fimela Editor diperbarui 20 Mar 2015, 12:00 WIB
2 dari 3 halaman

Next

Jakarta Jika selama ini kita mengenal botox untuk membuat tampilan keriput lebih jauh tersamarkan di area wajah, ternyata penggunaan botox di dunia medis lebih jauh dari itu. Kini botox juga sudah mulai diandalkan banyak dokter spesialis saraf untuk membantu pengobatan permasalahan medis seperti stroke dan juga TIC Facialis (Kejang Saraf Muka).  

�Botox itu memang digunakan pada otot dengan tujuan untuk merelaksasi otot tersebut. Sedangkan untuk pengaplikasian di bagian saraf, kita bisa menggunakannya di seluruh tubuh yang ada ototnya,� ucap dr. Abdul ketika ditemui FIMELA.com beberapa waktu lalu.

Selain wajah, area tubuh lain yang juga bisa diinjeksi dengan botox adalah tangan dan kaki karena dua daerah ini termasuk area yang paling banyak ototnya. �Biasanya pada bagian ini jika sudah lama tak digerakkan akan jadi kaku, termasuk bagian ototnya. Oleh karena itu, supaya area ini bisa dilatih dengan mudah, ototnya harus direlakskan terlebih dahulu. Baru nanti difisioterapi. Permasalahannya, kalau masih kaku dilatih dengan fisioterapi pun jadi nggak terlalu efektif,� jelasnya.

Namun satu hal yang perlu diketahui bahwa botox bukanlah pengobatan utama untuk permasalahan medis tersebut, namun hanya pengobatan tambahan. �Botox memang sudah menjadi bagian dari pengobatan. Nah, lima tahun belakangan ini botox sudah mulai banyak dilakukan pada bagian saraf. Dua tahun belakangan sudah mulai banyak pelatihan pada dokter untuk mengaplikasikan botox pada proses pengobatan,� ujar dr. Abdul. See? Ternyata untuk menggunakan botox pun diperlukan pelatihan khusus, tak bisa dilakukan oleh sembarang dokter saraf sekalipun.

What's On Fimela
3 dari 3 halaman

Next

Prosedur pelaksanaan injeksi botox dalam dunia kecantikan dan dunia saraf pun ternyata nggak jauh berbeda. Jika di dunia kecantikan biasanya botox perlu diinjeksi kembali dalam jangka waktu 4-6 bulan, di bagian saraf justru lebih rendah dari itu. �Kalau di bagian saraf, kami biasanya melakukan pengulangan tiga bulan, tak boleh kurang dari tiga bulan ini. Kalau kurang dari tiga bulan, efeknya malah jadi buruk untuk kesehatan,� jelas dokter spesialis saraf yang baru membuka prakteknya di Brawijaya Women & Children Hospital Jakarta tersebut.

Pengulangan ini pun juga tak melulu sama ke setiap orang. Relatif, tergantung kondisi medis per pasien. �Misalnya pasien A dan B dilakukan injeksi botox pada waktu yang sama di area yang sama. Namun, pasien A kondisinya sudah lebih bagus dengan pergerakan area tubuhnya sudah lebih bagus maka pengulangan injeksi botox akan beda,� tambahnya. Perbedaan kondisi ini ternyata juga bisa dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, mulai dari seberapa besar strokenya sampai fisioterapi yang dilakukan pasien tersebut.

See? Ternyata botox nggak cuma bisa membuat wajah terlihat lebih sempurna, namun juga bisa diandalkan untuk pengobatan tubuh kita. Now everyone should thank more it was invented.