Sering Makan Burger, Ini Penyakit yang Mengintai Selain Obesitas

Karla Farhana diperbarui 10 Jul 2018, 13:16 WIB

 

Fimela.com, Jakarta Burger, salah satu makanan junk food yang paling disukai banyak orang. Makanan yang digemari hampir semua kalangan ini memang bikin ketagihan. 

Bahkan, saking banyak penikmatnya, kini muncul berbagai variasi burger dengan segala jenis tema. Mulai dari burger yang menggunakan daging yang diproses, hingga burger dengan daging asli kualitas tinggi. 

Bahkan, kini sudah banyak restoran yang menyajikan warna-warni untuk menarik perhatian. Namun sayang, burger yang bergitu nikmat nggak baik untuk kesehatan, apa lagi kalau dikonsumsi sering-sering. 

Dilansir dari the Fit Post, burger beserta fries atau kentang goreng mengandung banyak kalori. Sebagian besar burger, tergantung restoran dan penyajinya, merupakan high glycemic index foods. 

Artinya, setelah kamu mengonsumsi burber, kadar gula darah akan meningkat dengan sangat cepat, kemudian menurun. Hal ini memberikan sinyal kepada otak, kalau tubuh membutuhkan sumber gula. 

Akibatnya, kamu akan merasa sangat kenyang setelah makan burger. Tapi, dalam waktu 2 jam saja, kamu bakal lapar kembali. Nah, ini dia yang bikin orang jadi makan lebih banyak gara-gara burger. Sehingga, banyak orang yang sering makan burger akhriya kegemukan bahkan sudah mencapai batas obesitas. Tapi, selain itu, juga ada risiko penyakit lain yang bisa menghantuimu. 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Tingkatkan Risiko Asma

Pertolongan Tanpa Obat Saat Asma Kambuh Mendadak (Pathdoc/Shutterstock)

 

Selain obesitas, tulis Liputan6, sering-sering mengonsumsi burger juga bisa menigkatkan risiko mengi, asma, dan juga penyakit terkait alergia lainnya. Misalnya, seperti demam hay, juga rhinitis. 

Hal ini ditemukan oleh sebuah studi yang dimuat jurnal Respirology. Para peneliti dari Sichuan University menatakan kalau makanan cepat saji jadi dikaitkan dengan kualitas makan yang buruk. Dengan asupan kalori tinggi, kelebihan berat badan, juga obesitas pada anak-anak. 

"Dalam dekade terbaru ini, makanan cepat saji jadi komponen penting pola makan, terutama di negara-negara yang mengadopsi gaya hidup Barat dan berpendapatan tinggi. Konsumsi makanan cepat saji itu dikaitkan dengan kualitas makan yang buruk, asupan kalori tinggi, kelebihan berat badan serta obesitas pada anak-anak dan dewasa. Obesitas adalah risiko mandiri untuk asma dan sensitisasi alergi," kata mereka, seperti dikutip dari Liputan6. 

 

3 dari 3 halaman

Kenapa Bisa Sebabkan Asma dan Mengi?

Benarkah Asma Bisa Sebabkan Kanker Paru? (Pentium5/Shutterstock)

Selain itu, menurut para peneliti tersebut, diet dan pola makan buruk juga menyebabkan risiko penyakit asma dan mengi meningkat. Karena asam lemak jenuh bisa mengaktifkan reseptor yang memicu pelepasan kimiawi pro-inflamasi. Sehingga menyebabkan masalah peradangan kronis pada saluran pencernaan. 

"Contohnya, asam lemak jenuh bisa mengaktifkan reseptor yang memicu pelepasan kimiawi pro-inflamasi yang menyebabkan masalah peradangan kronis di saluran napas," jelas mereka, seperti dikutip dari Liputan6.