Live Must Go On II

Fimela diperbarui 12 Agu 2012, 09:30 WIB

Kisah sebelumnya, Live Must Go On

Ditinggal Istri

Kisah tragis dimulai tiga hari sebelum kelahiran si kembar. Hari Jumat tanggal 5 Agustus 2011, Lily mulai merasa sesak. Sebelum itu, Ary bercerita bahwa istrinya memang sesekali merasa sesak napas, tapi tidak terlalu mengkhawatirkan.

“Menurut orang itu lumrah, karena ada tiga janin di kandungan Lily.” Namun, Sabtu, 6 Agustus 2011, Lily merasakan sesak yang sangat sampai ia menangis. “Kita langsung ke rumah sakit. Setelah dicek dokter, saat itu juga harus rawat inap dan langsung pakai oksigen. Besoknya, Lily merasa baikan dan sesak berkurang. Lewat suster, dokter mengatakan Lily harus caesar hari Senin, atau Selasa. Tapi Lily menolak, katanya kasihan kalau terlalu cepat, karena jabang bayi masih betah di perutnya. Lily memikirkan soal biaya. Dengan tekad kuat, dia memutuskan untuk menunggu seminggu lagi, supaya jabang bayinya lebih kuat dan matang.”

Sampai Senin, Lily masih juga batuk dan sesak. Malah semakin parah. “Saat batuk, ada warna semu kemerahan. Lily juga hanya bisa duduk pada posisi 90 derajat, karena ia akan merasa sesak jika rebahan,” kata Ary. Melihat kondisi Lily memburuk, dokter pun memutuskan untuk melakukan operasi caesar pada siang hari itu.

Tanggal 8 Agustus 2011, pukul 16.335, tiga bayi mungil lahir prematur dari rahim Lily dan langsung dimasukkan ke dalam inkubator, kemudian dipasangi selang oksigen dan infus. Sementara sang ibu terlihat tenang. “Kami sempat ngobrol. Saya mengatakan kepada Lily untuk istirahat dan jangan banyak bicara,” cerita Ary.

Menjelang malam, setelah meyakinkan kondisi Lily baik dan stabil, Ary bersama ayah Lily yang tinggal. Tengah malam, Ary dipanggil ke ruang ICU. “Karena sebelumnya sudah beberapa kali dipanggil untuk urusan tanda tangan, maka saya tidak membangunkan ayah Lily,” ujar Ary dengan nada sedikit menyesal.

Begitu masuk ruang ICU, Ary melihat Lily dikelilingi oleh dua dokter dan para suster yang sedang menekan-nekan dada istrinya seperti menolong jantung. Seketika itu, Ary gemetar dan lemas. Sekilas, Ary melihat layar monitor menunjukkan angka 0 untuk detak jantung Lily. Pria ini menangis. Dokter mengatakan ada kelainan di jantung Lily, membesar dan tidak normal, padahal setahu Ary, istrinya tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Segera Ary menelepon keluarga memberitahukan Lily dalam keadaan kritis.

Setengah jam berjuang, detak jantung Lily mulai membaik. Namun, lima menit kemudian, kembali layar menunjukkan detak jantung Lily semakin menurun. Para suster kembali mengambil tindakan. Mereka berusaha membantu mengembalikan jantung Lily dengan menekan-nekan dada, hingga menyuntikan obat. Ary tidak sanggup lagi berdiri. Ia terduduk di sudut, sekitar 5 meter dari tempat istrinya, sambil menangis dan tak henti-hentinya berdoa. Hingga akhirnya Ary mendengar teriakan adik Lily yang menangis dengan sangat, dan suster menghampirinya sambil memberitahukan bahwa istrinya sudah tiada.

 

Menjadi Single Father

Sepeninggal istri tercinta, kontan semua rencana dan cita-cita pudar. Namun, ada ketiga buah hati yang menyemangati Ary. “Perkembangan Adeela, Adeena, dan Adeeva sangat bagus dan baik. Malah banyak yang bilang pesat. Meskipun terlahir prematur, di usia 2 bulan, mereka sudah bisa miring hampir tengkurap, kadang-kadang tidurnya mutar 90 derajat. Mereka sudah bisa memegang botol susunya sendiri dan bisa menjawab kalau diajak ngobrol,” ujar Ary tersenyum.

Kini, Ary harus berjuang sekuat tenaga untuk masa depan ketiga buah hatinya. Urusan merawat ketiga buah hatinya, ia percayakan kepada ibu mertuanya dengan mempekerjakan dua pengasuh. “Sementara ini saya tidur di tempat saya bekerja, sebuah konveksi, usaha bersama saudara. Karena jam operasional konveksi dari pagi sampai tengah malam, jadi saya harus stand by setiap saat. Siang hari, bila pekerjaan sedang agak lowong, saya menyempatkan diri ke rumah mertua menengok anak-anak. Selepas Maghrib, atau Isya saya selalu berusaha sudah ada di rumah mertua. Saat itulah waktu saya bermain bersama anak-anak, mengajak ngobrol, dan menggendong mereka, kemudian mencoba menidurkan mereka. Setelah semuanya tertidur pulas, baru saya kembali lagi ke konveksi,” cerita Ary tentang kesehariannya.

Tentu saja, menghidupi tiga anak kembar bukan sesuatu yang mudah dan murah. “Penghasilan saya tidak bisa menutupi pengeluaran itu walaupun setengahnya,” ujar Ary. “Untuk setahun ini, kebutuhan si kembar sudah tertutupi dengan bantuan dan donasi dari masyarakat. Sejak kejadian yang menimpa istri saya dan hadirnya ketiga bayi kembar saya tersebar di internet, televisi dan media cetak, banyak yang bersimpati kepada kami. Lalu memberikan bantuan dan donasi. Teman-teman SMP, SMA dan kuliah saya juga memberikan support dan menggalang dana. Dari kelompok-kelompok sosial, seperti dari Blood for Life dan AIMI ASI juga banyak menolong, sampai dari StandUpIndo, yaitu Ernest Prakasa, mengadakan charity night di Cafe RollingStone dengan comedy show yang diisi beberapa artis, seperti Panji dan Farhan. Tentu saja, saya sangat terenyuh. Belum lagi dari perkumpulan ibu-ibu, dari perusahaan-perusahaan, serta dari perorangan yang tidak saya kenal sama sekali, saya bersyukur mereka bersimpati dan mau membantu, tanpa mereka semua, saya tak tahu bagaimana menghadapi ini,” lanjutnya.

Ary menceritakan banyaknya simpati sungguh meringankan bebannya. “Saat pelunasan pembayaran RS ketika membawa pulang puteri-puteri saya, sisa tagihan dianggap lunas oleh pihak RS Mitra Keluarga. Jumlahnya kurang lebih 7 juta rupiah,” cerita Ary. Untuk proteksi masa depan, Ary juga membeli polis asuransi jiwa. “Baru kemarin disetujui,” katanya.

Dengan tabah, Ary melanjutkan, “Lily benar-benar tak tergantikan di hati saya. Kelak kalau Adeela, Adeena, dan Adeeva sudah besar dan sudah bisa mengerti, saya akan menceritakan kepada mereka bahwa mereka memiliki seorang ibu yang sangat luar biasa dan sangat sayang sama mereka, walaupun mereka masih di dalam kandungan. Saya akan menunjukkan foto-foto video dokumentasi tentang ibu mereka yang bisa mereka lihat nantinya.

Source: Goodhousekeeping, edisi November 2011, halaman 81- www.goodhousekeeping.co.id

(vem/tik)
What's On Fimela