Batik Indonesia, Batik Dunia

Fimela diperbarui 13 Agu 2012, 09:30 WIB

Oleh: Budiana Indrastuti

Jika bukan kita yang melestarikan batik, siapa lagi?

Sekitar lima belas tahun lalu, kain batik seperti hanya punya dua fungsi: menjadi pakaian resmi untuk acara penuh urutan protokoler, atau menjadi busana rumahan alias daster para ibu. Kepandaian dan kejelian para desainer yang cinta budaya Indonesia membalikkan semua ‘kebiasaan’ itu. Obin dan Edward Hutabarat menunjukkan bahwa kain batik telah mengalami metamorfosis, mulai baju sehari-hari hingga gaun mewah, semua bisa diwujudkan dari kain batik. Padu padan dengan kain lain, tabrak motif dan juga teknik pecah pola membuat kain batik semakin cantik.

Aksi pengakuan beberapa motif batik oleh negara tetangga seperti blessing in disguise. Masyarakat Indonesia seperti digugah untuk semakin mengenal budaya negeri sendiri. Usaha-usaha memeroleh pengakuan internasional sebagai pemilik batik pun mulai dilakukan. Dan tahun lalu, Unesco mengukuhkan Batik Indonesia sebagai warisan budaya.

Indonesia, Rumah Batik

Yayasan Batik Indonesia memperingati Hari Batik Nasional 2011 dengan menyelenggarakan World Batik Summit. Kegiatan bertaraf internasional ini diisi konferensi soal batik dan pameran, diadakan di Jakarta Convention Center. Diikuti sebelas negara, puncak acara adalah sebuah Malam Pertunjukan Seni Budaya yang menampilkan karya perancang busana dari Indonesia, Cina, Jepang, dan Malaysia menggunakan batik Indonesia asli. Acara penutup ini sekaligus menunjukkan pencapaian akhir forum ini, yaitu sebuah deklarasi yang menyatakan bahwa Indonesia adalah asal muasal batik di seluruh dunia, Indonesia is global home of batik.

Prosesnya, Bukan Motifnya

Banyak yang salah kaprah, mengartikan bahwa batik hanyalah motif. Padahal yang dimaksud sebagai batik adalah proses pembuatannya. Untuk semakin memperdalam pengetahuan tentang hal tersebut, sutradara ternama Nia Dinata membuat sebuah film dokumenter berjudul Batik, Our Love Story.

Masalah para pembatik, proses pembatikan yang rumit, dan motif-motif warisan yang harus dilestarikan diungkap dalam film tersebut. Beberapa perajin batik dari Pekalongan, Cirebon, Lasem, Yogyakarta, dan Madura menjadi narasumber. Menyaksikan film tersebut, terasa betul bahwa proses yang harus dilakukan dari sehelai kain menjadi kain batik bukanlah hal sederhana. Dimulai dari membuat pola, membatik, mewarnai, melorod, dan menjemur, proses ini akan semakin rumit ketika desain motif membutuhkan banyak warna. Tak heran, seorang perajin mengaku membutuhkan lebih dari setahun untuk mengerjakan sehelai kain. Persoalan regenerasi pembatik menjadi hal penting untuk memastikan bahwa batik akan selalu ada di Indonesia. Daya tarik kerja di pabrik lebih besar dibanding jadi pembatik, adalah salah satu “penghalang” terjadinya regenerasi pembatik.

Tak Hanya Kain

Perhatian masyarakat pada batik memang makin besar. Meski masih jarang yang peduli perbedaan batik tulis, batik cap, atau kain motif batik, bukan berarti mereka acuh pada kekayaan Indonesia itu. Selain mulai banyak yang gemar mengenakan busana batik dalam berbagai kesempatan, beberapa anak muda mengakrabi lagi motif-motif asli Indonesia. Semakin banyak yang paham tentang motif parang, mega mendung, sampai motif kompeni. Batik khas juga digali kembali. Galeri Batik Jawa di Jakarta, misalnya secara khusus memopulerkan lagi batik indigo.

Dengan semakin besarnya animo masyarakat, batik lalu meluas, tak lagi hanya diaplikasikan pada kain. Tahun lalu, deasiner Carmanita membatik sebuah Mercedes C250 dengan motif sekar jagat. Inspirasi serupa diwujudkan Mohammad Abduh, seorang pengusaha yang tinggal di Bekasi, untuk memopulerkan furnitur batik, bahkan juga menerima pesanan gitar dengan motif sesuai keinginan pelanggan. “Membatik di kain, sudah biasa, banyak saingan. Jadi sejak tiga tahun lalu saya coba membatik di atas kain jati atau kayu sonokeling. Semua proses pembatikan saya lakukan pada furnitur saya, termasuk melorod dan mewarnai,” tutur Abduh yang memasarkan produknya secara online lewat Rumahbatik.com.

Source: Goodhousekeeping, edisi November 2011, halaman 91- www.goodhousekeeping.co.id

(vem/tik)