Ibu, SAYA DI-BULLY!

Fimela diperbarui 12 Des 2012, 09:52 WIB

Oleh Fiona Yasmina

Belum lama ini masyarakat dikejutkan oleh sebuah berita bullying di salah satu sekolah di Jakarta Selatan. Situs Tempo mengabarkan kasus ini berawal dari seorang siswa baru yang mengikuti masa orientasi siswa (MOS) di SMA Seruni Don Bosco yang diduga menjadi korban bullying oleh kakak kelasnya. Siswa itu mengaku dipukuli dan disundut rokok di sekolahnya. Peristiwa ini membuat orang tua resah karena bisa jadi masih banyak peristiwa bullying lain yang tidak terekspose.

Bisa Berawal Dari Ejekan

Psikolog Universitas Indonesia yang sering menangani kasus bullying, Dra. Ratna Djuwita Dipl. Psych., (53) mengungkapkan, bullying merupakan bagian agresifitas, di mana tanda utamanya bisa dilihat dari ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban. Pelaku memiliki kekuatan lebih besar dibandingkan korban yang lebih lemah. “Akan disebut bullying ketika terjadi rencana kekerasan atau tindakan yang memang disengaja karena ada niat untuk menyakiti korban,” ujar Ratna. Ia menambahkan “Pelaku adalah seseorang yang memiliki power. Ketika korban melawan, ia akan semakin di-bully dan merasa bersalah atas pembelaannya,” tambahnya.

Bullying banyak bentuknya. Ejekan tentang fisik orang lain, misalnya ‘Gendut kamu!’ sebenarnya bisa menjadikan korban membenarkan atau merasa dirinya pantas menjadi bahan ejekan. “Ketika seseorang mempermasalahkan tuduhan itu dan akan menjadi pikiran berkepanjangan bahkan membuatnya takut, maka ia adalah korban,” jelas Ratna. Ia mengungkapkan, sikap tidak percaya diri ini merupakan salah satu bentuk sifat korban yang paling diincar oleh pelaku. Hal ini dibenarkan oleh Buku Richard Templar yang berjudul The Rules of Parenting yang menyebutkan 75 persen anak menjadi korban bullying karena penampilan mereka. Bahkan satu dari lima anak pernah kabur, membolos, atau pura-pura sakit untuk menghindari ejekan teman-temannya.

Mayoritas siswa-siswi sekolah lokal di Indonesia pernah menjadi target bullying. Dalam survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bulan April 2012, menyebutkan 87,6 persen dari 1.026 responden telah berjuang dari bullying secara mental, fisik, verbal, mulai dari pemanggilan nama hingga pemukulan. Teman sekelas diidentifikasi sebagai sumber bullying oleh 42.1 persen responden yang dilaporkan pernah menganiaya, diikuti administrator, juga guru di posisi 29,9 persen dan non-pengajar seperti petugas kebersihan dan penjaga sekolah sebanyak 28 persen responden.

Dikutip dari The Jakarta Post, Komisioner Bidang Pendidikan KPAI, Badriyah Fayumi mengatakan, kekerasan masih marak terjadi di masyarakat. Hasil laporan itu menyatakan ketidakpedulian masyarakat terhadap kekerasan memiliki efek berbahaya, termasuk kegagalan untuk menangani kekerasan secara serius dan sistematis.

 [initial]

Source: GoodHouseKeeping, Edisi Oktober 2012, Halaman 72

(GH/riz)
What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Empat Bentuk Bullying

(c) shutterstock.com

Bullying rentang terjadi ketika korban mengalami kurang percaya diri dalam kehidupan sosialnya dan masuk ke dalam lingkungan yang berbeda. Korban bisa mendapatkan dua bentuk bullying, yaitu langsung dan tidak langsung.

Bullying langsung adalah tindakan yang diketahui dengan jelas siapa pelakunya. Sementara yang tidak langsung, adalah sebaliknya. Ada empat bentuk bullying:

1. Fisik. Tipe bullying seperti ini biasa dilakukan oleh anak laki-laki, misalnya dipukul.
2. Verbal. Biasanya melalui perkataan yang diucapkan oleh pelaku kepada korban, misalnya ejekan.
3. Hubungan. Bullying yang dilakukan untuk merusak hubungan dengan cara mengucilkan atau memfitnah.
4. Elektronik. Sebuah bentuk bullying dengan perantara alat digital, misalnya sengaja membeli nomor tidak dikenal dan mengirim SMS teror. Atau menyebarkan foto (memalukan) teman.

Setiap pelaku tentu akan memilih korban yang menurutnya lemah. Biasanya perilaku ini dilakukan oleh ketua geng dan beberapa ‘asisten’-nya yang ikut mendapatkan ‘manfaat’ atas bullying-nya terhadap orang lain. Selain itu sebutan pelaku juga tidak hanya diberikan kepada orang yang melakukan saja, tetapi saksi yang melihat, mendiamkan, bahkan menertawakan kejadian itu bisa tersangkut menjadi pelaku. Saksi ini bisa disebut sebagai by stander

3 dari 4 halaman

Karena ia tahu dan tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan bullying.

(c) shutterstock.com

Lebih jauh Ratna mengungkapkan, “Umumnya pelaku atau otak bullying itu tidak mudah diketahui,” ujarnya. Pelaku memiliki persepsi apabila melakukan hal tersebut ada manfaat ‘positif’ buat dirinya, misalnya merasa punya kesempatan untuk menjadi eksis dan ketika melakukannya lagi eksistensinya akan naik karena dikenal banyak orang.

Biasanya pelaku bullying adalah senior terhadap juniornya. Misalnya senior meminta uang jajan juniornya secara paksa atau memaki-maki juniornya di depan umum. Namun nyatanya Ratna menyebutkan tidak semua kasus bullying terjadi antara senior kepada junior. Ia mengungkapkan bahwa bisa saja terjadi sebaliknya, antara junior kepada senior bahkan dengan teman sebaya. Misalnya ketika junior merupakan anak pejabat, guru membela anak tersebut, segala peraturan sekolah tidak berlaku padanya, otomatis anak itu akan mendapatkan kekuatan sehingga ia merasa tidak takut melawan siapapun, termasuk teman sebaya, senior bahkan guru-gurunya.

Kerjasama Orangtua dan Guru

Ratna menyebutkan penanaman nilai luhur pada anak semakin berkurang. Anak-anak masih kurang paham akibat dari apa yang ia lakukan. Saat melakukan bullying, anak seakan bangga atas apa yang ia lakukan. Ia menganggap dirinya keren dan korban memang pantas di-bully. Dunia seakan terbalik, begitu juga efek yang pelaku dapatkan. Seharusnya hukuman yang mereka dapatkan dapat dijadikan pelajaran atas perilakunya dan membuat jera. Namun sekarang saat diskors pelaku bullying akan merasa senang, keren dan bangga. Padahal seharusnya ia merasa malu bahkan rugi. Ratna menambahkan, “Ketika orang tua dipanggil karena anaknya bermasalah, orang tua jadi membela anak. Kadang itu menjadi kompensasi untuk anaknya sebab ia merasa bersalah tidak memiliki waktu untuk anak di rumah,” ujar Ratna saat diwawancarai melalui telepon.

4 dari 4 halaman

Ibu, SAYA DI-BULLY!

(c) shutterstock.com

Ratna mencontohkan, “Sekarang orang tua lemah terhadap anak, 50 tahun yang lalu orang tua memperkenalkan budaya ora ilok (suatu yang tak pantas) pada anaknya. Orang tua mendidik anak melalui dongeng dan cerita wayang. Tapi suasana demokratis di kota besar dan hidup stres membuat orang tidak introspeksi diri.”

Sikap bercerita seringkali dianggap mengadu dan lemah. Karena korban bullying adalah orang yang tidak berdaya, maka sikap ini bisa dikategorikan sebagai sikap yang lemah atau cengeng. Sebenarnya saat korban mengalami bullying, mereka seakan berkonflik pada diri sendiri. Ia takut ketika bercerita ke orang tua, korban merasa tidak akan dibela orangtuanya bahkan ia takut kalau ternyata saat ia cerita dianggap cengeng dan lemah. Ia takut orang tuanya mengatakan, “Gitu aja cengeng!” Sikap tidak mau cerita seperti ini sebenarnya membuat ia semakin tertekan. Hal ini tentu memberi efek anak tidak mau sekolah, tidak bisa konsentrasi, memiliki kepribadian yang berbeda, dan merasa bahwa sekolah bukan milik mereka.

Mewaspadai anak Anda menjadi korban bullying sebenarnya tidak sulit. Semakin tambah usia anak, mereka jadi tidak mau terbuka. Tentu Anda tidak akan langsung tahu apa yang terjadi dengannya di sekolah.

Ratna mengungkapkan ada tiga cara untuk mewaspadai anak Anda korban bullying misalnya menyadari perubahan perilaku anak, misalnya dari periang menjadi pendiam, sudah tidak mau diajak pergi; barangnya sering hilang, misalnya sepatu dan laptop, terdapat luka lebam, ketika ditanya mereka memiliki seribu macam alasan. Selain itu, dukung sekolah yang merupakan salah satu kunci penting, karena itulah bekerjasamalah dengan pihak sekolah.

Peran serta sekolah juga dibutuhkan dalam menangani kasus bullying. Misalnya dengan mewaspadai jumlah siswa di sekolah yang banyak dan penekanan kejar nilai untuk seluruh mata pelajaran. Untuk mengatasi energi anak yang masih meluap-lua, berikan kesempatan olah raga pada anak-anak agar mereka masih memiliki kesempatan untuk bermain.

Agar anak Anda tidak menjadi korban berulang, selain sekolah peran serta keluarga tentu masih dibutuhkan dalam memberikan ‘terapi’ kecil untuk anak. Buatlah suasana di rumah yang nyaman agar anak berani cerita, selain melihat adanya perubahan perilaku pada anak, letakkan juga kepercayaan pada anak untuk menjelaskan masalah, misalnya katakan pada anak, “Nak, nanti misalnya kalau diejek, tertawa saja biarkan saja mereka mengejekmu atau kamu pura-pura tidak dengar saja.” Berikan juga pemahaman bahwa anak Anda berharga dan punya kemampuan. Juga memberikan nilai-nilai luhur padanya, misalnya saling menghargai atau menghormati orang lain.