Antenatal Care Untuk Antisipasi Resiko Kehamilan

Fimela diperbarui 30 Sep 2013, 10:02 WIB

Badan kesehatan dunia, World Health Organization (WHO) memperkirakan 500.000 ibu meninggal setiap tahunnya sebagai akibat langsung dari kehamilan. Angka ini muncul mayoritas dari negara-negara berkembang; angka kematian ibu (AKI) mencapai sekitar 600 per 100.000 kelahiran hidup. Berdasarkan survey SDKI tahun 2007, AKI di Indonesia mencapai 228 per 100.000 kelahiran hidup dan masih merupakan yang tertinggi di Asia.

Untuk mengantisipasi masalah-masalah yang muncul saat kehamilan, para ibu membutuhkan kualitas Antenatal Care (ANC) yang baik dari dokter yang professional. ANC adalah periksa kehamilan secara rutin yang bertujuan untuk memeriksa kondisi ibu dan janin, “mengawal” agar kehamilan dapat berjalan normal dan mempersiapkan persalinan, serta memberikan informasi pada calon orang tua untuk membuat keputusan dalam menangani persalinan yang akan datang.

“Selain antenatal care, fasilitas dan layanan kebidanan dan kandungan (maternity care) yang komprehensif juga diperlukan untuk memonitor kesehatan ibu dan memastikan bayi yang dikandung bertumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi genetiknya,” ujar Dr. Bramundito Sp.OG, Spesialis Kebidanan dan Kandungan RSPI-Pondok Indah.

Jumlah kunjungan dan jenis pemeriksaan disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Secara garis besar, jumlah kunjungan selama kehamilan minimal 10 kali bagi yang pertama hamil dan 7 kali bagi yang sudah pernah melahirkan. Dr. Bramundito menambahkan, “Jumlah dan jenis pemeriksaan ditentukan dari apakah kehamilan tersebut merupakan kehamilan berisiko tinggi, apakah ibu hamil menderita penyakit yang akan menambah risiko kehamilan, serta gaya hidup dan lingkungan ibu hamil.”

Kehamilan risiko tinggi dapat dideteksi melalui pemeriksaan fetomaternal untuk mendiagnosa gangguan kehamilan dan gangguan janin sehingga proses persalinan dapat direncanakan dengan tepat sesuai dengan kondisi bayi dan ibu dengan kehamilan risiko tinggi. Pemeriksaan fetomaternal meliputi diagnosa dini fetal abnormalities (kelainan genetic, gangguan pembentukan organ, dsb), deteksi keguguran dan stillbirth (bayi lahir dalam keadaan meninggal); pre-term delivery (kelahiran prematur) dan screening untuk kelainan kromosom.

Beberapa risiko kehamilan yang sering dialami oleh ibu hamil antara lain pendarahan dan ketuban pecah pada kehamilan muda, plasenta previa, pre eklampsia, dan janin tidak berkembang. Pendarahan, terutama pada kehamilan muda, adalah komplikasi yang paling sering terjadi. Umumnya pendarahan terjadi pada trimester pertama kehamilan. Pendarahan dalam jumlah sedikit seperti bercak-bercak pada kehamilan minggu ke 7-9 merupakan hal yang normal karena implantasi embrio pada dinding rahim menyebabkan dinding rahim melepaskan sejumlah kecil darah dan berlangsung satu hingga dua hari. Mengangkat beban berat, aktivitas berlebih atau hubungan seksual juga dapat menyebabkan terjadinya pendarahan dan biasanya akan hilang setelah beristirahat cukup.

“Namun, pendarahan pada awal kehamilan juga perlu diwaspadai karena bisa jadi merupakan ancaman keguguran. Jika mengalami pendarahan hebat yang diikuti dengan kram perut atau disertai keluarnya darah beku atau jaringan fetus, maka kemungkinan sang ibu mengalami keguguran. Untuk itu, walaupun normal dialami pada kehamilan awal, para ibu tetap harus memeriksakan diri ke dokter untuk menghindari terjadinya komplikasi kehamilan lain,” jelas Dr. Azen Salim, Sp.OG-KFM, Spesialis Kebidanan dan Kandungan, Konsultan Fetomaternal RSPI-Pondok Indah.

Menjelang kelahiran, biasanya ibu akan mengalami air ketuban pecah yang terjadi beberapa jam sebelum persalinan atau pada saat persalinan. Umumnya air ketuban pecah jika usia kehamilan sudah mencapai 37 minggu, namun pada beberapa kasus, air ketuban pecah sebelum waktunya (pada usia kehamilan di bawah 37 minggu) atau yang dikenal dengan Ketuban Pecah Dini (KPD).

“Bayi prematur memiliki risiko gangguan kesehatan tinggi, karena perkembangan dan fungsi organ-organ yang belum matang serta kemampuan beradaptasi di luar kandungan yang masih sangat terbatas. Masalah yang sering terjadi adalah kesulitan pernapasan (respiratory distress). Di awal kehidupannya, mereka butuh bantuan pernapasan agar tidak jatuh pada kondisi darurat sampai bayi tersebut stabil,” ungkap Dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp. A (K) Spesialis Anak dan Konsultan Perinatologi RSPI-Pondok Indah.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan rumah sakit antara lain memastikan tersedianya dokter spesialis kebidanan dan kandungan (obstetri dan ginekologi) serta subspesialisasinya (konsultan), atau spesialis lain yang mendukung. Selain itu, rumah sakit yang memiliki standar keselamatan internasional, peralatan medis yang lengkap untuk menunjang kualitas diagnosa serta tersedianya Unit Perawatan Intensif, NICU (Neonatal Intensive Care Unit), juga menjadi hal yang perlu dipertimbangkan.

Fasilitas Neonatal Intensive Care Unit (NICU) menjadi sentra pertama dan utama untuk menangani bayi yang memerlukan perawatan khusus maupun intensif, dengan kelengkapan rangkaian teknologi terkininya, demi mencegah dan mengobati kegagalan organ vital seawal mungkin. Sayangnya, rumah sakit yang memiliki fasilitas NICU dengan kualitas yang memenuhi persyaratan masih terbatas (baik tempat, ruangan, peralatan, dokter, dan perawatnya, serta fasilitas penunjang medik seperti laboratorium dan radiologi). Selain NICU, fasilitas lain yang dapat membantu pemantauan kehamilan secara detil adalah ultrasonografi 4 dimensi (USG 4D) atau USG real-time 3D karena mampu memberikan gambaran kondisi bayi dalam kandungan layaknya video.

Selain itu, pemeriksaan USG 4D dapat ditunjang dengan USG Doppler yang dilengkapi kemampuan untuk mengukur arus pembuluh darah janin (misalnya aliran darah pada tali pusar, pada otak bayi, dsb) sehingga bisa diketahui apakah janin kekurangan oksigen, apakah janin mendapat cukup suplai darah dan berkembang sesuai usianya, bahkan pada calon Ibu, USG ini bisa mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya pre-eklampsia. Dengan demikian, maka kegawatan kehamilan juga dapat dicegah.

Dr. Yanwar Hadiyanto, CEO RS Pondok Indah Group, mengatakan, “Rumah Sakit Pondok Indah Group menyediakan layanan maternity lengkap, termasuk NICU, yang didukung oleh dokter-dokter spesialis Kebidanan dan Kandungan serta subspesialisasinya seperti Fetomaternal, Fertilitas dan Endokrinologi atau subspesialis lain yang mendukung seperti Perinatalogi, Anastesi, Gastroenterologi Hepatologi (lambung, saluran cerna, dan hati), subspesialis ginjal dan jantung yang menambah kesiapan tim rumah sakit untuk mengantisipasi komplikasi yang terjadi. Kami memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun menangani kelahiran dan berbagai kasus komplikasi seputar kehamilan/ kelahiran berkat dukungan tenaga medis yang berpengalaman serta teknologipenyerta yang didedikasikan bagi calon ibu juga buah hatinya.

(vem/dyn)