Renungan Dari Nenek, Kekurangan Memperlihatkan Kelebihan

Fimela diperbarui 06 Okt 2013, 16:01 WIB

Aku selalu merasa orang tuaku dan keluarga mereka di kampung ketinggalan jaman. Mereka tak paham gadget, tak paham tren dan akhirnya tak paham apa yang kubicarakan. Oleh karena itulah aku memutuskan untuk merantau dan sekolah di kota.

Aku menemukan banyak orang yang sepaham denganku daripada saat di desa. Gaya hidup seperti ini yang kuinginkan. Yang maju dan bermimpi besar. Setelah 4 tahun menuntut ilmu di kota, aku melanjutkan untuk bekerja di kota besar yang berbeda.

Karirku tidak melejit pesat, namun cukup untuk membuatku mengikuti gaya hidup di sini. Teman-temanku orang-orang yang berselera tinggi. Mereka mengajarkan aku untuk tahu mana yang produk asli dan mana yang KW. Mereka juga mengajakku makan di resto-resto dengan chef internasional. Aku mungkin sudah lupa masakan emak di kampung.

Namun setelah 2,5 tahun aku merintis karir di kota, aku jatuh oleh rekan kerjaku sendiri. Persaingan dengan rekan kerjaku yang kukagumi ternyata hadir di kala aku terlena dengan kekagumanku pada mereka. Selagi aku kagum, mereka menusukku dari belakang. Membuatku merasa dikhianati.

Aku hampir gila dengan kejatuhanku ini. Berbekal keluh dan masalah, aku pulang membawa cerita PHK. Aku malu menghadapi ayah dan emak, serta aku harus kembali dengan kehidupan ala pedesaan yang selama ini aku remehkan.

Namun semua itu hanya di pikiranku saja. Ayah dan emakku senang dan penuh haru melihat kepulangan putra bungsunya ini. Mereka tahu aku tak membawa banyak uang atau status kerja yang membanggakan, namun malah memasak banyak makanan enak untuk menyambutku pulang.

Ahh, kare ayam buatan emak yang selama ini terlupakan karena aku sering makan di restoran mahal. Senyuman hangat dari orang-orang yang tidak jaga gengsi. Derai tawa dan canda akan cerita-cerita yang membuat kami rindu akan masa lalu. Bukan cerita tentang gaya hidup yang tak habis-habis untuk kuturuti. Ini bukan kampungan, ini kampung halaman.

Di antara keluargaku, nenekku dari pihak ibu adalah orang yang sering menceritakan hal-hal menyenangkan di masa lalu. Ia buta, tapi bisa mendengar dan mengingat dengan jelas semua yang kami lakukan di masa lalu. Ia hafal betul apa yang kami katakan dan tahu apakah kami sedang pura-pura senang.

Dua malam setelah kepulanganku, nenek menemaniku menonton TV. Ia duduk dengan baik dan mendengarkan dengan baik. Ia bahkan mengeluarkan celetukan tentang pemain televisi yang perannya bagus atau jelek.

"Itu dia nangis sungguhan, Le. Mungkin sebelum main film dimarahi sutradaranya," komentar nenek.

Aku tersenyum kecil, "Kok nenek tahu?" tanyaku heran.

Nenek tersenyum kecil, "Iya, suaranya seperti orang capek dan minta tolong."

Aku pun mendekati nenek dan memastikan mata nenek. Kadang dalam imajinasiku, aku berpikir nenek ini tak benar-benar buta. "Ngapain kamu, Le? Kok seliweran gitu?" tanya nenek.

"Nenek kok bisa sih nggak pelupa seperti nenek lainnya? Nenek juga bisa baca pikiran orang. Padahal kan nenek sudah lama buta?" tanyaku.

Nenek tersenyum kecil, lalu menepuk pundakku. Tepat di pundakku. "Bagaimana rasanya kehilangan pekerjaan dan kenikmatan hidup di kota, lalu pulang ke kampung lagi? Kamu tidak nampak sedih, Le" nenek menerka perasaanku.

Aku heran, tapi iya juga. "Iya lah, Nek. Balik ke rumah kan ya lega. Ada saudara, bapak dan emak. Makan nggak bayar. Hehe.."

Nenek mengangguk-angguk, "Nenek juga begitu. Mata nenek ini buta, tapi sejak itu, nenek ternyata mudah mengingat. Belajar mendengarkan dengan perasaan. Nggak pikunan seperti mbah-mbah seumuran nenek ini," ujarnya.

"Kok bisa ya, Nek?" tanyaku masih heran.

"Karena Tuhan itu Maha Adil. Kesenangan kita diambil, supaya kita merasakan kurang. Kalau kita merasa kurang, kita tidak sempat sombong dan lebih bisa merasakan kenikmatan yang sederhana," cerita nenek. Ia membuatku tertegun.

Orang kampung yang kuremehkan ternyata punya pemikiran besar. Aku punya pemikiran yang hanya sebesar kenikmatan di kota besar. "Maaf, Nek. Aku meninggalkan keluarga terlalu lama untuk mengejar kesombonganku saja," kataku sambil masih terngiang-ngiang kata nenek.

"Lho, tidak apa-apa, Le..." tepis nenekku. "Kami bangga kamu berani sekolah di kota besar, jadi orang pintar dan bekerja di sana. Kita memang harus bermimpi besar, tidak pernah puas, tapi juga tak lupa untuk bersyukur," tambahnya dengan suara yang hangat dan bijaksana.

Aku sekarang mengerti makna kejatuhanku. Ini adalah salah satu teguran agar aku tak lupa pada orang-orang yang kubilang tak mengerti gadget, tapi selalu mengerti aku, impianku dan keadaanku. Aku punya lebih dari sekedar teman-teman yang gaul dan trendi. Aku memiliki, keluarga yang hangat dan tak tergantikan.

Aku mengerti... Aku bersyukur..

(vem/gil)