Hafizh Suradiharja, Jadikan Singapura Sebagai Inspirasi Bisnis Kuliner

Fimela diperbarui 24 Nov 2013, 14:00 WIB

Mapan, tampan, dermawan, siapa yang tak kenal sosok Hafizh Suradiharja, pengusaha kelahiran 29 Januari 1988 ini masih sangat muda untuk menorehkan banyak prestasi gemilang. Di usianya yang belum menginjak kepala tiga, Hafizh mampu menyabet prestasi wirausaha muda bank Mandiri, finalis wismilak diplomat dan berbagai prestasi lainnya. Kesuksesannya ini didapat dari hasil terjun ke dunia bisnis dengan mewaralabakan jajanan kaki lima asal Singapura.

Kemapanan tidak didapatkan Hafizh secara cuma – cuma, ataupun mengandalkan warisan orangtua. Hafizh membangun semuanya itu dari nol, dengan jatuh bangun beberapa kali, hingga akhirnya menemukan jodohnya pada sebuah roti. Ya, sebelum menemukan jodohnya ini, Hafizh pernah gagal beberapa kali. Sebut saja pada 2009, bisnis pertama yang digelutinya yaitu sekolah DJ, baru setahun digeluti sudah terpuruk, hingga akhirnya gulung tikar.

Tidak berhenti sampai di sini, Hafizh mencoba peruntungan baru, dengan membuka usaha sop buah, lagi - lagi gagal. Namun ini tidak menyurutkan semangat Hafizh menjadi wirausaha, Hafizh kemudian mencoba lagi bisnis travel, malang tak dapat dibendung, usaha ini kandas juga di tengah jalan.

Tapi ketika di bisnis travel inilah, ada hikmah yang didapatkan, ketika Hafizh sering dibawakan sebuah roti asal Singapura yaitu roti John dari rekannya. Hafizh menemukan sebuah ide, untuk bisnis yang pada akhirnya menjadi jodohnya ini.

“Waktu di bisnis travel sering dibawakan roti John dari Singapura, dan di Indonesia tidak ada, saya berpikir bahwa tingkat kebutuhan masyarakat Indonesia tinggi untuk makanan seperti roti, yang bisa dimakan kapan saja, dan di mana saja. Tapi saya ingin yang different dan mempunyai nilai lebih,” ungkap pengusaha yang awalnya bercita-cita ingin menjadi pemusik

Berbekal modal 30 juta, Hafizh nekat membawa roti john versi Singapura ke Indonesia. Dengan memilih lokasi di bukit duri Jakarta, dekat dengan kediamannya, Hafizh mencoba merealisasikan idenya tersebut. Sayangnya pada saat itu Hafizh salah kaprah untuk membidik segmen masyarakat Indonesia, dengan roti yang keras, harganya pun mahal dan tidak mengenyangkan. Maka usahanya pun tidak berjalan lancar.

Tapi di sini Hafizh terus memutar otak, apa sekiranya yang membuatnya tidak berjalan lancar. Maka dengan tambahan modal pinjaman sebesar 50 juta, Hafizh meng-hire seorang chef untuk membantunya memodifikasi roti John agar tepat di lidah masyarakat Indonesia. Tidak salah, setelah mengalami penyesuaian ini, penjualan pun meningkat, karena sesuai dengan selera masyarakat Indonesia, tekstur roti yang lebih empuk, mengenyangkan, serta dengan harga terjangkau.

Maka pada tahun 2010 hingga 2011, Hafizh mulai melebarkan sayapnya dengan membuka beberapa cabang, dan menghadirkan berbagai varian rasa yang menggugah selera dari versi aslinya. Hingga saat ini, dengan sistem franchise roti John fresh sudah terdapat di 35 outlet, tersebar di sepuluh kota besar di Indonesia. Bahkan baru-baru ini roti John fresh launching versi café yang dilengkapi dengan berbagai minuman yang diolah dengan bahan-bahan pilihan. 

"Saya terkesan ketika mengikuti pameran perdagangan 40 negara, di sana juga terdapat orang-orang asal singapura, lucunya ketika makan siang, mereka rata – rata mampir untuk mencicipi roti john fresh, dan ternyata mereka suka, " papar Hafizh yang dengan mantap menetapkan goal untuk 2015 yakni masuk pasar Asia. 

(vem/ims/dyn)