Ketika Kebaikan Hati Orang Asing Melebihi Kebaikan Ibuku

Fimela diperbarui 14 Agu 2014, 17:00 WIB

Ada yang bilang bahwa ibu adalah orang terbaik di dunia, orang yang paling sabar menghadapi Anda dan bersedia melakukan apapun agar anak-anaknya bahagia. Namun kadang, ibu begitu menyebalkan, bahkan orang yang tidak Anda kenal atau baru Anda kenal jauh lebih baik dibanding ibu. Benarkah begitu? Mungkin Anda harus menyimak kisah ini.

Suatu suatu malam, seorang anak perempuan berusia 24 tahun dan ibunya sedang bertengkar. Sebut saja nama anak itu adalah Putri. Putri kesal karena ibunya dianggap tidak pernah mengerti apa maunya. Pertengkaran itu membuat Putri nekat meninggalkan rumah dan tidak membawa apa-apa kecuali telepon genggam miliknya.

Saat hari makin malam, Putri sadar kalau dia belum makan malam. Perutnya sudah mulai lapar dan perih, namun dia tidak membawa uang sepeserpun dan tidak membawa kartu ATM yang ada di dompetnya. Saat sedang duduk di pinggir jalan raya, ada seorang ibu yang menepuk pundaknya. Ibu itu adalah pedagang soto ayam di pinggir jalan.

"Nak, wajahmu pucat, apa kamu belum makan?" tanya sang ibu penjual soto.

Putri tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.

"Kalau begitu masuklah ke kedai saya, dan makanlah,"

"Saya tidak punya uang, bu," ujar Putri.

Sang ibu penjual soto tersenyum dan meminta Putri tetap masuk ke dalam kedai makannya yang sederhana. Ibu itu bilang tidak perlu membayar karena Putri mengingatkannya pada anak perempuan si ibu yang sedang kuliah di luar kota.

Putri menurut dan masuk ke dalam kedai soto. Dia mendapat semangkuk soto ayam lengkap dengan nasinya. Putri langsung terharu dan bersyukur karena dia bertemu dengan ibu yang sangat baik dan mau memberinya makan gratis. Soto itu langsung dimakan dengan hati gembira. Putri berpikir betapa baik ibu ini, lebih baik dibanding ibunya.

"Terima kasih, bu. Saya sudah kenyang," ujar Putri ketika sotonya sudah habis. "Ibu baik sekali, berbeda dengan ibu saya. Tadi saya bertengkar dengannya dan memutuskan pergi dari rumah," lanjut Putri.

Sang ibu penjual soto tersenyum.

"Ibu baik sekali, padahal ibu adalah orang asing yang tidak kenal dengan saya, tetapi ibu memberikan makan malam gratis untuk saya,"

Penjual soto itu langsung duduk di depan Putri, wajahnya teduh dan senyumnya sangat bijaksana.

"Jadi menurutmu, ibu baik karena memberi satu mangkuk soto gratis ini?" tanya si ibu.

Putri mengangguk.

"Apakah kamu pernah menghitung berapa mangkuk makanan gratis yang sudah diberikan ibumu setiap hari?" tanya sang ibu penjual soto.

Putri tersentak mendengar pertanyaan itu.

"Anakku, kamu tersentuh dengan kebaikan ibu, tapi ibu yakin, ibumu jauh lebih baik dibanding ibu. Penahkah kamu hitung berapa malam yang dia habiskan untuk menahan sakit saat mengandungmu, saat mengganti popokmu, saat kamu haus minta ASI, saat kamu sakit? Ibumu yang melakukan semua itu, bukan ibu, ibu hanya memberi semangkuk soto, tidak ada apa-apanya dibanding apa yang sudah ibumu berikan untukmu,"

"Kalau sekarang kamu merasa kesal dengan ibumu, karena saling salah paham, karena tidak saling mengerti keinginan masing-masing, cobalah untuk berbicara lebih baik dengannya. Saat kamu tumbuh dewasa, ibumu semakin bertambah tua. Kamu yang seharusnya makin banyak mendengarkan dan memahaminya,"

"Soto ini memang pemberian ibu, tapi ibu yakin, soto ini adalah doa ibumu yang terkabul, agar kamu tidak kelaparan malam ini," ujar sang ibu penjual soto sambil tersenyum. "Pulanglah ke rumah, ibu yakin, ibumu sedang cemas menunggumu," lanjutnya.

***

Seringkali kita berpikir bahwa ibu adalah orang yang cerewet, keras kepala, dan banyak maunya. Tapi di balik itu semua, seorang ibu selalu memberi yang terbaik untuk anaknya dan mendahulukan doa untuk anaknya. Ketika Anda makin dewasa, ibu Anda semakin tua. Ketika Anda makin kuat, ibu Anda makin lemah.

Maka rangkullah ibu Anda, dengarkan cerita-ceritanya, kalaupun ada hal yang tidak menyenangkan darinya, katakan secara halus. Sayangi ibu Anda, selagi Tuhan masih memberikan waktu itu kepada Anda.

(vem/yel)