Sebelum Balikan Dengan Mantan, Baca Dulu Nasihat Nenekku Ini

Fimela diperbarui 03 Okt 2014, 13:30 WIB

Kata orang, kalau sudah putus cinta, sebaiknya cari yang lain. Jangan mengulang kesalahan yang sama dengan kembali ke pelukan mantan.

Tapi, aku melihat beberapa temanku yang kisahnya putus-sambung. Akhirnya mereka menikah juga. Jadi kupikir balikan dengan mantan bukan hal yang buruk.

Beberapa bulan lalu aku putus dengan pacarku yang gantengnya seperti bintang iklan deodoran. Kami putus setelah ternyata dia menyelingkuhi aku beberapa kali. Aku sangat sakit hati dan akhirnya mengakhiri hubungan kami dengan perasaan hancur.

Sebenarnya aku masih cinta padanya. Sulit sekali move on darinya. Setiap melewati tempat langganan kami saat kencan, aku pasti ingat dia. Bahkan lihat pasangan gandengan pun aku ingat padanya.

Suatu hari, sepertinya Tuhan mendengar doaku. Mantanku menghubungiku lagi dan bertanya apakah kami bisa bertemu. Aku bilang iya.

Hari pertemuan itu sangat menyenangkan dan mengesankan. Seperti menyirami hatiku yang kering akibat patah hati. Aku sadar sepertinya aku masih cinta dia dan kangen berat padanya. Kesalahannya di mataku pun seakan sirna, seperti sebuah masalah biasa yang kami lupakan hingga bisa baikan lagi saat masih pacaran.

Aku pulang ke rumah dan menemui nenekku. Beliau sudah seperti sahabatku, maka aku cerita tentang pertemuan ini dan keinginanku padanya.

Ternyata, nenek memberitahuku satu hal yang sangat bijaksana. "Oh, Sayang. Ingat kau putus dengannya karena alasan apa?"

"Ya, aku tahu, Nek. Tapi aku bisa merasakan aku masih cinta dia," kataku. Nenek menghela nafas sambil merajut, "Jangan sampai kau terkenal sindrom 'tai kucing rasa cokelat'," ujarnya.

"Hah? Sindrom apa itu?", tanyaku sambil melongo. Nenek melihatku dan tangannya yang keriput tapi lembut itu membelai rambutku. "Dengarkan nenek," ujarnya.

"Sindrom tai kucing rasa coklat itu begini. Saat tai kucing itu masih hangat, kau tahu bahwa itu adalah kotoran, maka kau tak mau dekat-dekat dengannya," ujar nenek. Aku mengangguk meski belum paham.

"Di sisi lain, saat tai kucing itu sudah lama beberapa waktu, dingin dan mengeras, banyak orang yang mengira itu adalah cokelat. Kemudian mereka mencobanya dan tersadar bahwa bagaimanapun itu adalah kotoran," cerita nenek.

Aku tergelak dan tertawa cekikikan bersama nenek. Kemudian nenek memberitahuku, "Dia mengencanimu, tapi berselingkuh. Itu adalah tai kucing, bukan cokelat. Itu adalah pengkhianatan, bukan cinta. Ingat saja itu," ujarnya.

Seketika aku tersadar. Kali ini nenek benar. Cinta itu harusnya cokelat, bukan kotoran kucing. Saat aku putus, aku benci sekali pada perselingkuhannya. Bagaimana bisa aku berpikir bahwa ia mencintaiku?

Ini pasti hanya karena aku terbawa suasana sehingga aku seolah masih mencintainya. Bagaimana aku bisa mencintai orang yang mengkhianatiku? Ah.. tidak-tidak.

Setelah aku mendengar nasihat nenek, aku tak lagi memikirkan mantan kekasihku. Pelan-pelan aku bisa melepaskan bayangannya dan sesekali mendengar dari temanku bahwa ia pernah menggandeng wanita yang berbeda dalam 3 bulan terakhir. Aku hanya diam sambil tersenyum, karena aku tidak menyesal telah menjauhi tai kucing rasa cokelat itu.

(vem/gil)