Gigi Berlubang Pada Anak Dapat Menurunkan Prestasi Di Sekolah

Fimela diperbarui 26 Feb 2015, 16:30 WIB
Anak-anak yang mengalami sakit pada gigi berlubang kecenderungan lebih banyak tidak masuk ke sekolah, mau tidak mau kondisi ini juga mempengaruhi prestasi belajar murid.
 
Pepsodent berhasil melakukan penelitian yang dilakukan bersama Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat dan Kedokteran Gigi Pencegahan FKG UI mengenai masalah kesehatan gigi dan mulut. Penelitian dilakukan di sekolah dasar Bekasi. Penelitian terhadap 984 responden dari tiga SD di daerah Bekasi memperlihatkan fakta bahwa 94 persen anak usia 6-7 tahun mengalami sedikitnya satu gigi berlubang pada gigi susu. Masalah yang sama juga dialami anak usia 10-11 tahun sebanyak 82 persen pada gigi tetap mereka.

"Pepsodent meyakini bahwa gigi berlubang tak hanya membuat anak mengalami rasa sakit, namun juga akan mempengaruhi kehadiran anak di sekolah," papar drg. Ratu Mirah Afifah GCClinDent, MDSc selaku Head of Professional Relationship Oral Care PT. Unilever Indonesia, Tbk. saat ditemui di Hotel Mulia Senayan Jakarta Pusat Rabu 25 Februari 2015. 

Terbukti, lanjutnya, ketika kami amati lebih lanjut dalam 2 bulan sebelum dan 2 bulan sesudah penelitian anak-anak dari kelompok umur 6-7 tahun yang memiliki lubang pada gigi tetap mereka, memperlihatkan kecendrungan lebih banyak hari tidak ke sekolah dibanding pada anak yang tidak memiliki gigi berlubang. Jumlah hari tidak ke sekolah adalah 3 hari, sedangkan yang tidak memiliki gigi berlubang adalah 2 hari. 

Menurutnya, penelitian yang dilakukan Pepsodent dengan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia selama hampir setahun dengan delapan minggu program edukasi perawatan gigi tersebut tidak hanya melihat indikator kebersihan rongga mulut. Indeks plak dan pendidikan untuk perawatan gigi pada guru, murid, dan wali murid juga dilakukan.

Indeks plak tinggi yang ditemukan setelah melakukan pemeriksaan awal mencapai 49 persen pada anak usia enam sampai tujuh tahun dan 38 persen pada anak usia 10 sampai 11 tahun. Setelah intervensi dengan program edukasi perawatan gigi yang benar diberikan, penurunan dari angka sebelumnya mencapai 54 persen pada kelompok anak umur enam sampai tujuh tahun, sedangkan pada kelompok anak usia 10-11 tahun mencapai 66 persen.

"Plak memang musuh utama dari banyak masalah gigi, termasuk gigi berlubang. Oleh karena itu berapa kali menyikat gigi dan kualitasnya harus ditingkatkan sebagai kebiasaan baik untuk mencegah masalah gigi yang dapat mempengaruhi prestasi anak di sekolah," kata drg Ratu Mirah.

Fuad, seorang siswa sekolah dasar negeri 11, Kebon Jeruk dalam kesempatan yang sama juga berbagi cerita mengenai pengalaman sakit gigi yang pernah ia dialami. 

"Waktu kelas 3 semester 1, saya sering sakit gigi. Kalau tidak masuk sekolah, saya tidur di kelas supaya sakitnya tidak terasa. Karena sering ketinggalan pelajaran, ranking saya turun dari 3 menjadi ranking 5," tuturnya, pada kesempatan yang sama.

Penelitian terhadap anak usia sekolah dasar, khususnya pada anak usia enam sampai tujuh tahun dan 10-11 tahun didasarkan pada alasan khusus. Drg Ratu Mirah mengatakan bahwa usia 6-7 dipilih karena pada usia tersebut anak masih memiliki gigi susu dan sudah mulai memiliki gigi permanen. Sementara anak usia 10-11 tahun sudah memiliki gigi permanen yang hampir lengkap.

"Ini menjadi pertimbangan kami untuk melihat sejauh mana kebiasaan membersihkan gigi dilakukan oleh anak-anak sampai mereka mulai menumbuhkan gigi permanen. Penelitian kami menemukan bahwa pada usia di mana gigi permanen baru tumbuh, masih ada masalah gigi berlubang. Oleh karena itu, edukasi dan intervensi kebersihan gigi sangat diperlukan sejak dini," tutup drg. Ratu Mirah sekaligus memberikan pesan kepada orang tua. 

So Ladies, jangan bosan-bosan ajarkan anak Anda untuk menyikat gigi 2 kali sehari, setelah sarapan pagi dan malam sebelum tidur ya! :)

(vem/yun/chi)