Di Mimpi Itu, Bapak Memelukku dan Menyampaikan Pesan Terakhir

Fimela diperbarui 11 Nov 2015, 15:40 WIB

Kisah Meilidyaningtyas Cantika Ryadiani tentang sosok ayah yang meninggalkan pesan yang begitu dalam.

***

Nama saya Meilidyaningtyas Cantika Ryadiani. Saya biasa dipanggil Meili. Tetapi di rumah saya lebih sering dipanggil Tya, panggilan kesayangan bapak untuk saya. Tya merupakan sebuah singkatan dari Tymor Asli. Hal ini dikarenakan saya lahir di sebuah kota kecil bernama Kota SoE yang berada di daratan Timor, tepatnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Saya seorang perempuan biasa, sama seperti perempuan lainnya di dunia  ini. Saya seorang karyawati sebuah perusahaan di Jakarta. Seorang anak pertama dari mama dan bapak, sekaligus seorang kakak dari seorang adik perempuan yang baik.

Bapak adalah sosok yang luar biasa. Tak pernah mengeluh, tak pernah marah bahkan selalu tersenyum di kala apapun. Banyak orang yang bilang kalau bapak adalah orang yang sangat baik. Bapak suka menolong sesama tanpa pamrih. Itulah bapak.

Sejak kecil, banyak kisah yang sudah saya lalui bersama bapak. Saya sangat bersyukur memiliki bapak yang hebat. Bapak selalu mengajak saya jalan-jalan kemanapun. Sambil mengendarai vespa berwarna biru tua, bapak mengajak saya keliling kota SoE hampir setiap hari. Ketika itu, sosial media, internet dan smartphone belum ada.  Bapak tidak akan pernah lupa untuk mampir bersilaturahmi ke beberapa rumah temannya, hanya untuk menyapa mereka hari itu. Jika hari sudah mulai larut, bapak selalu membeli martabak telor untuk dibawa pulang dan dinikmati bersama mama.

Jika dibandingkan mama, bapak lebih handal dalam urusan masak memasak. Bapak bisa masak apapun yang saya suka. Mulai dari nasi goreng sampai opor ayam, masakan bapak selalu menjadi juara tersendiri bagi saya. Jika bapak seorang chef yang hebat, mama adalah seorang partner yang hebat pula. Jika hari ini bapak menjadi chef, maka mama akan membersihkan rumah. Begitu sebaliknya setiap hari. Mereka adalah partner yang luar biasa. Selain itu, mama dan bapak adalah pecinta tanaman. Banyak tanaman hias yang ditata rapi di rumah saya. Bapak dan mama selalu bekerja sama untuk menata dan menjaga setiap bunga hias itu.

(vem/nda)
What's On Fimela
2 dari 6 halaman

Bapak yang Saya Ingat

Foto: dok. Meilidyaningtyas Cantika Ryadiani

Ketika saya berusia 2 tahun, bapak dan mama mengajak saya ke pameran tahunan tepatnya di bulan-bulan Agustus. Pameran selalu diselenggarakan di lapangan alun-alun kota. Semua instansi pemerintah memamerkan hasil karya mereka. Waktu itu, bapak berkeliling mencari sebuah mainan untuk saya. Bapak bilang ke mama untuk menunggu di depan salah satu stan milik kantor. Karena saya mencari-cari bapak tak ada akhirnya saya menangis sejadi-jadinya sampai mama terlihat bingung untuk menenangkan saya.  

Ketika mama berhasil membujuk saya untuk menunggu bapak, tiba-tiba bapak datang dari kejauhan sambil membawa sebuah plastik hitam kecil. "Cup... cup... anak bapak yang cantik jangan nangis lagi ya. Bapak tadi beli kapal bagus banget. Besok kita main sama-sama ya... ." sambil menunjukkan kapal "otok-otok" yang baru saja dibelikannya. Sambil sesenggukan dan tersenyum saya mengangguk menandakan "iya" kepadanya.

Tepat 1 hari setelah hari ulang tahun ke-4, pada tanggal 2 Mei 1996. Mama mengambil foto saya dan foto bapak. terlihat sangat kontras warna kulit kami. Bapak memiliki kulit hitam manis dan saya memiliki kulit sawo matang sama seperti mama. Bapak memeluk saya sambil bergaya menutup mata.

Pada tahun 1998, pada waktu terjadinya kerusuhan di masa penurunan presiden Soeharto. Bapak melarang saya untuk bermain di luar bersama teman-teman. Di tengah keadaan yang genting itu, bapak mengunci pintu rumah dan berada di dalam rumah bersama saya dan mama. Waktu itu mama sedang mengandung adik saya.

Di dalam rumah itu, bapak mematikan lampu dan hanya menyalakan sebuah lampu templek dan menceritakan kisah yang menarik. Mulai dari masa kecilnya, ketika bermain di sawah sambil menunggangi kerbau. Kemudian bermain layang-layang bersama temannya dan akhirnya bapak mulai belajar memasak ketika ikut bersama pakde dari bapak. Waktu itu bapak bilang, "Bermainlah... nikmati masa kecilmu. Perbanyaklah teman agar kau tak kesepian suatu hari nanti. Simpan ceritamu, dan ceritakan kembali kepada anakmu kelak." Itu kesimpulan di akhir cerita yang bapak ceritakan.

Ketika saya menginjak usia 6 tahun, mama melahirkan seorang anak perempuan lagi. Ya, adik saya. Saya begitu bahagia menjadi seorang kakak. Bapak tak kalah bahagianya, bapak menggendong adik, mengajaknya bercanda dan tersenyum selalu ketika bermain bersama kita.

Kami sangat berbeda, wajah saya lebih mirip ke bapak dan adik lebih mirip ke mama. Bapak begitu mencintai kami berdua. Bapak selalu mengajak kami berjalan-jalan keliling kota menggunakan vespanya setiap sore.

Suatu hari, sebelum bapak mengajak kita jalan-jalan, bapak meminta saya dan adik bergaya untuk difoto. Kami bergaya sesuai arahan bapak, tapi hasilnya tak ada yang bagus. Namun ketika kami sedang bercanda, "Jepret!" didapatlah foto terbaik kami berdua. Bapak tersenyum melihat tingkah laku kami.

3 dari 6 halaman

Kepergian Si Bungsu

Di bulan Agustus di tahun 2000, mama  akan melahirkan seorang anak perempuan lagi. Si bungsu. Di kota Soe, bidan dan dokter sangat susah ditemukan ketika hari minggu. Karena mama sudah kontraksi terus-menerus, akhirnya mama hanya berbaring di tempat tidur sambil menunggu bidan.

Mama sudah pada posisi siap untuk melahirkan. Saya dan bapak mencari bidan di tempat yang berbeda. Bapak mengunjungi rumah salah satu bidan yang dikenal di kota itu, dan saya pergi ke sebuah klinik untuk mencari bidan. Sia-sia, kami tidak menemukan bidan yang kami cari. Bapak tidak mudah menyerah, bapak mengunjungi rumah bidan yang pernah membantu mama melahirkan saya waktu itu. Alhamdulillah, bidan tersebut ada di tempat dan segera bapak ajak untuk ke rumah.

Dengan alat seadanya, mereka sampai di rumah kami. Bidan tersebut kaget bukan main, mama telat melahirkan si bungsu dengan selamat. Si bungsu lahir dalam keadaan tengkurap dan telah meminum banyak air ketuban. Kata bidan saat itu, si bungsu harus segera diberi tindakan. Dipompalah si bungsu untuk mengeluarkan cairan air ketuban yang diminumnya.

Bapak terlihat khawatir tapi tetap berusaha tenang. Bapak memeluk saya dan adik saya, kemudian mengajak kami keluar agar mama juga tak terlalu panik. Sekitar 15 menit kemudian, bidan ingin berbicara dengan bapak dan mama. Saya menjaga adik saya di ruang depan, tapi terdengar samar-samar pembicaraan mereka.

Bidan mengatakan bahwa si bungsu harus dibawa ke rumah sakit agar diberi tindakan yang lebih baik, karena si bungsu telah meminum banyak cairan air ketuban. Jika dibiarkan si bungsu dapat mengalami gangguan pernapasan, kelainan jantung dan penyakit lainnya. Bapak dan mama menyetujui keputusan bidan tersebut.

Bapak dengan sigap, segera menyiapkan semua perlengkapan si bungsu dan segera menggendongnya. "Tya, jaga mama dan adik di rumah ya. Kamu tunggu saja disini. Bapak tidak lama. Kamu berani kan, nak? Kamu sudah besar sekarang." Dengan jawaban pasti saya mengangguk dan menjawab "Iya pak, Tya jaga mama dan adik di rumah. Hati-hati, pak." Kemudian bapak, bidan, dan si bungsu pergi menuju rumah sakit umum di Kota SoE.

Entah apa yang terjadi selama di rumah sakit Kota SoE, bapak menghubungi mama bahwa bapak harus pergi ke rumah sakit yang lebih besar untuk menyelamatkan si bungsu. Mama hanya berpesan untuk hati-hati di jalan dan segera memberikan kabar jika terjadi sesuatu. Saya melihat mama begitu tegar walaupun rasa khawatir mama tergambar jelas di wajah mama.

Sekitar jam 1 malam, saya terbangun karena suara dering telepon. Bapak memberikan kabar bahwa si bungsu sudah terlihat sehat, sudah bisa tersenyum. Bisa saya bayangkan wajah bapak yang berseri karena senang. Saya pun melanjutkan tidur sambil memeluk mama.

Tidak berapa lama, bapak kembali menelpon. Suaranya terdengar sangat terpukul. "Bu, tabah ya. Si bungsu sudah pulang ke Rahmatullah. Ikhlas ya bu, anaknya pulang". Terdengar isak tangis bapak dari telepon, tapi bapak berusaha seperti tidak apa-apa. Spontan, mama menangis dan memeluk kami berdua. Saat itu adik saya terlelap dan saya bisa melihat kalau mama terpukul dengan kejadian itu.

Keesokan harinya, bapak pulang dan menyiapkan segala persiapan pemakaman si bungsu. Mata bapak kelihatan sedikit bengkak karena menangis, namun bapak ingin terlihat kuat di depan saya dan adik. Sampai akhirnya bapak menangis ketika terakhir kali bapak melihat si bungsu sebelum dibungkus menggunakan kain kafan. Itu pertama kali saya melihat bapak menangis. Begitu sedih, begitu pilu.

Kami semua berangkat mengantarkan si bungsu ke tempat peristirahatan terakhirnya. Mama di rumah karena kondisinya yang belum pulih pasca melahirkan. Bapak yang masuk ke dalam liang kubur, mengadzani si bungsu dan akhirnya membantu memasangkan papan sampai akhirnya kuburnya tertutup rata dengan tanah.

Setelah bunga ditabur, bapak mengajak saya untuk memanjatkan doa di samping pusara kubur si bungsu. Bapak bilang, "Doa adalah salah satu cara kamu menyampaikan rasa sayangmu kepada orang yang kamu sayang, kepada mereka yang telah pulang ke Rahmatullah mendahului kamu". Sambil mengelus lembut kepala saya, bapak dan saya berdoa untuk si bungsu. Kemudian kami pulang ke rumah untuk menemani mama dan adik.

4 dari 6 halaman

Kepergian Bapak

Foto: dok. Meilidyaningtyas Cantika Ryadiani

Kisah sedih itu berlalu seiring berjalannya waktu, satu tahun kemudian. Bapak membelikan mama sebuah rumah. Rumah milik sendiri karena sebelumnya kami tinggal di sebuah kontrakan kecil. Saat itu bapak memutuskan untuk membeli rumah dan mama melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang  lebih tinggi, menjadi seorang sarjana.

Mama bersama adik sementara tinggal di Malang. Saya bersama bapak tinggal di rumah baru kami. Saya selalu pergi kemanapun bersama bapak. Melakukan semua hal bersama. Mulai dari bapak membantu mencuci rambut saya yang sangat panjang, bermain bersama, belajar bersama sampai memasakkan makanan kesukaan saya.

Mama tidak khawatir jika saya ditinggal berdua bersama bapak, karena bapak adalah chef yang hebat sekaligus partner yang baik untuk mama. Waktu berlalu begitu cepat, hampir 6 bulan lamanya mama tinggal di Malang. Kami saling bercerita di telepon untuk mengobati rindu. Saya selalu mendengar bapak berpesan kepada mama sebelum telpon ditutup, "Bu, sholatnya jangan lupa dikerjakan ya walau sibuk kuliah. Jaga diri baik-baik, salam sayang untuk Tika," kemudian telepon ditutup.

November. Bulan yang menjadi saksi kisah sedih yang tak pernah terlupakan sepanjang hidup saya.

Tepatnya tanggal 17 November 2001, hari pertama puasa. Bapak membangunkan saya untuk makan sahur agar saya kuat untuk berpuasa. Saat itu saya duduk di bangku kelas 4, dan bapak merasa saya sudah besar dan harus bisa berpuasa penuh.

Setelah sahur, bapak mengajak saya untuk nonton televisi sejenak sembari menunggu sholat subuh. Ketika adzan berkumandang, bapak mengajak saya sholat berjamaah. Setelah melakukan sholat, bapak bilang, "Kita tidur saja lagi, hari ini kamu tidak usah sekolah dulu karena puasa hari pertama." Kami melanjutkan tidur.

Sekitar jam 7 pagi, Mbak Rince, orang yang membantu membersihkan rumah pun datang. Bapak membukakan pintu dan membangunkan saya. "Tya, ayo bangun. Mbak Rince sudah datang. Kamu mandi terus main dulu sama Mbak Rince. Bangunkan bapak kalo mau mengaji ya," katanya sambil tersenyum dan bapak pergi tidur lagi.

Sekitar jam setengah 12, ketika hendak membangunkan bapak untuk mengajaknya sholat dzuhur berjamaah, telepon rumah berdering.  Kring... kring... saya mengangkatnya. Saya kira mama yang menelpon, tetapi bukan, melainkan guru mengaji saya saat itu. Beliau memberitahukan bahwa hari itu libur mengaji, besok baru mulai kembali mengaji.

Saya segera pergi ke kamar bapak dan mencoba membangunkannya. Namun, ketika saya memegang lengan bapak sesuatu terasa aneh bagiku. Badan bapak dingin seperti es. Saya memanggilnya dengan suara lembut, "Pak... bapak... ayo bangun, pak," tak ada respon.

5 dari 6 halaman

Bapak Pergi untuk Selamanya

Foto: dok. Meilidyaningtyas Cantika Ryadiani

Saya bersandar pada tiang pintu dan menyandarkan kepala. Firasat saya mengatakan bapak telah meninggal. Tapi saya masih belum yakin. Saya lari ke dapur, memanggil Mbak Rince dan mencoba meyakinkan diri bahwa firasat saya salah.

"Mbak, bapak badannya dingin semua, Mbak. Ayo coba kita lihat," kata saya ujarku Mbak Rince. Mbak Rince segera berlari ke dalam, memegang kaki bapak dan ternyata benar, kakinya sedingin es. Saya mulai menangis, saya bilang "Bapak meninggal mbak. Bapak meninggal. Bagaimana menghubungi mama, mbak?" tanya saya pada Mbak Rince.

Mbak Rince hanya bisa menggeleng karena bingung harus berbuat apa. Saya segera berlari menuju tetangga sebelah. Saya memberitahukan hal yang sama seperti yang saya katakan pada Mbak Rince. Dengan wajah kaget, seakan tak percaya, tetangga saya segera menuju rumah bersama saya.

Saya lihat, dia seakan menyembunyikan sesuatu. Dia memegang badan bapak. Dingin seperti es. Tubuhnya kaku sambil memeluk guling kesayangan saya. Dia mengecek detak jantung bapak, dan tak dirasakan apa-apa. Lalu dia bertanya pada saya, "Tadi bapak bilang sakit nggak? Atau waktu sahur kamu dan bapak makan apa?"

Saya menjawab kami memakan opor dan bapak tidak bilang kalau sakit apapun. Segera tetangga saya memeluk saya dan bilang, "Tya, jangan sedih ya nak. Bapak sudah meninggal." Dalam hati saya cuma bisa bilang firasat saya benar. Bapak meninggal dunia. Saya menangis memeluk bapak seakan tak percaya. beberapa jam yang lalu, bapak masih tersenyum kepada saya. Tersenyum kepada anak gadis tertuanya yang baru berusia 8 tahun. Saya tak tahu harus bagaimana menghubungi mama di Malang.

Tetangga saya segera menghubungi polisi dan memberitahu pihak masjid untuk membantu mengurus pemakaman bapak. Mereka mencoba membuka lemari, mencari kain untuk alas bapak. Mencari nomor telpon mama dan mencoba menghubunginya.

Rumah saya pun seketika menjadi penuh dengan orang. Ada yang datang sambil menangis. Ada yang menyiapkan air untuk memandikan jenazah bapak. Ada yang membangun tenda. Suasananya begitu kacau. Terlalu banyak orang yang datang ke rumah, dari yang saya kenal sampai yang tak saya kenalpun datang silih berganti.

Mereka bilang, "Bapakmu orang baik, mengapa dia pergi begitu cepat?" sambil menangis memeluk saya. Kemudian, ada seorang ibu cukup tua datang memeluk saya, "Nduk, ibukmu sudah ditelpon. Beliau akan segera pulang malam ini bersama Tika dan paklikmu. Sudah jangan nangis, ya," katanya mencoba menghibur.

Saya duduk di samping jenazah bapak yang sudah dimandikan, berbalut kain putih. Wajah bapak begitu damai, begitu berseri. Saya memandangnya terakhir kali. Saya menahan sekuat tenaga agar air mata ini tak jatuh. Saya tak ingin membuat bapak bersedih.

Sudah lebih dari 24 jam, mama belum sampai di rumah. Ketika pukul 13.30 WITA, awan mulai mendung, kemudian turun hujan lebat seketika. Hujan deras beserta angin kencang, merobohkan tenda yang dibangun di depan rumah. Pohon besar yang tadinya tak bisa dipotong pun akhirnya tumbang  menimpa beberapa motor yang parkir di dekatnya.

Seorang pemuka agama yang ada di kota Soe duduk di samping jenazah bapak sambil berkata, "Sabar ya pak, ibu sudah masuk ke kota, sebentar lagi ibu sampai di rumah. Sabar sedikit ya pak." Tiba-tiba hujan reda seketika ketika rombongan mobil yang membawa mama sampai.

Mama sudah tidak terlihat menangis, tapi mama sangat terpukul. Wajahnya begitu sedih. Partner terbaiknya telah pergi meninggalkannya selamanya. Mama duduk terkulai lemas di samping jenazah bapak.

Memandangi wajah bapak penuh makna, kemudian mama bilang, "Mari kita lanjutkan pemakamannya, kasihan suami saya sudah terlalu lama menunggu." Kemudian, seluruh badan bapak dibalut kain putih, dan kami mengantarnya ke peristirahatan terakhirnya. Tepat di samping makam si bungsu, bapak diistirahatkan untuk terakhir kalinya.  

Mama mengajak saya dan adik untuk berdoa di samping pusara bapak dan mengulangi perkataan bapak yang pernah disampaikan pada saya. Kata mama,  "Doa adalah salah satu cara kamu menyampaikan rasa sayangmu kepada orang yang kamu sayang, kepada mereka yang telah pulang ke Rahmatullah mendahului kamu, termasuk untuk bapak. Jangan lupa ya nak... Doa adalah kado terbaik untuk almarhum bapak dan mama," kemudian mama memeluk saya dan adik.

Kami kembali ke rumah. Rumah yang tadinya begitu ramai dengan canda tawa, kini terasa sepi dan masih dalam suasana berduka. Mama menyelesaikan setiap pengajian untuk mendoakan bapak sebelum kembali ke Malang.

Pada suatu malam, tepat di malam ke-40 hari setelah bapak meninggal, satu hari sebelum lebaran, saya bermimpi tentang bapak. Dalam mimpi itu, seperti biasa, bapak mengajak saya untuk jalan-jalan keliling kota.  Bapak membelikan saya baju baru dan mukena baru. Tak lupa bapak membelikan saya dan adik baju dan mukena yang sama.

Bapak juga tahu kami sangat menyukai kembang api. Bapak membelikan kembang api 12 pack. 7 untuk saya dan 5 untuk adik. Kemudian bapak mengantar saya pulang ke rumah. Anehnya, bapak hanya berdiri di depan pintu rumah tanpa mau masuk ke dalam.

[startpuisi]Bapak memeluk saya cukup lama, kemudian bapak berpesan terakhir kalinya dalam mimpi itu. "Tya, gadis yang bapak paling sayang. Bapak mau pergi sama si bungsu. Boleh bapak titip sesuatu sama kamu? Bapak titip jaga mama dan adikmu. Jangan lupa kerjakan sholat dan mengaji ya, Nak. Raihlah cita-citamu setinggi langit dan tetaplah menjadi gadis cantik bapak yang sangat bapak sayang. Jangan menangis lagi, kamu sudah besar. Kamu pasti bisa hebat seperti bapak dan mama. Bapak pergi dulu ya," kemudian bapak memeluk saya lagi dan bapak pergi. Bapak dijemput oleh si bungsu menggunakan sebuah kereta kuda yang putih bersinar. Bapak tersenyum kemudian pergi.[endpuisi]

Saya ingat baik-baik pesan bapak, "Raih cita-citamu setinggi langit dan jagalah mama dan adik." 14 tahun tanpa bapak, saya mencoba untuk kuat dan saya buktikan kalau saya bisa membanggakannya.

Saya akhirnya telah menyelesaikan pendidikan sarjana tahun lalu dengan hasil yang memuaskan. Saya berdiri berdampingan dengan partner terbaik bapak dengan wajah bahagianya.



Mama sudah tidak terlihat menangis, tapi mama sangat terpukul. Wajahnya begitu sedih. Partner terbaiknya telah pergi meninggalkannya selamanya. Mama duduk terkulai lemas di samping jenazah bapak.

Memandangi wajah bapak penuh makna, kemudian mama bilang, "Mari kita lanjutkan pemakamannya, kasihan suami saya sudah terlalu lama menunggu." Kemudian, seluruh badan bapak dibalut kain putih, dan kami mengantarnya ke peristirahatan terakhirnya. Tepat di samping makam si bungsu, bapak diistirahatkan untuk terakhir kalinya.  

Mama mengajak saya dan adik untuk berdoa di samping pusara bapak dan mengulangi perkataan bapak yang pernah disampaikan pada saya. Kata mama,  "Doa adalah salah satu cara kamu menyampaikan rasa sayangmu kepada orang yang kamu sayang, kepada mereka yang telah pulang ke Rahmatullah mendahului kamu, termasuk untuk bapak. Jangan lupa ya nak... Doa adalah kado terbaik untuk almarhum bapak dan mama," kemudian mama memeluk saya dan adik.

6 dari 6 halaman

Pesan Bapak yang Selalu Kuingat

Foto: dok. Meilidyaningtyas Cantika Ryadiani

Tak lama kemudian, saya pun telah menyelesaikan pendidikan master saya tahun ini dengan hasil yang memuaskan pula. Walau bukan mama yang mendampingi tapi mama sudah sangat bahagia saya bisa menyelesaikan dan mewujudkan kerja keras dan keringat mama selama ini.

Terima kasih bapak untuk semuanya. Allah punya rencana indah ketika memanggilmu kembali lebih dulu ke Rahmatullah. Saya banyak belajar tentang setiap proses kehidupan. Jangan mudah menyerah, jangan mudah putus asa. Teruslah berusaha.

"Bapak, sudahkah bapak baca sebuah surat yang kutulis kala aku dalam keadaan terpuruk? Surat ini aku tuliskan ketika aku masuk ke universitas. Di mana aku jauh dari mama, jauh dari adik dan tanpa bapak."

"Doa adalah salah satu cara kamu menyampaikan rasa sayangmu kepada orang yang kamu sayang, kepada mereka yang telah pulang ke Rahmatullah mendahului kamu, termasuk untuk bapak. Jangan lupa ya, Nak," pesan itu selalu kugenggam erat hingga saat ini.

"Bapak... aku sangat merindukanmu. Banyak yang ingin kuceritakan langsung kepadamu. Aku percaya, walau ragamu telah tiada, kau selalu ada di dalam hatiku. Bapak akan menjadi lelaki yang aku cinta seumur hidupku. Terima kasih bapak untuk semuanya."

Love you, dad. Tya dan Tika selalu menyayangi bapak sampai waktu ini berhenti berputar.

Selamat hari ayah, untuk ke-14 kalinya tanpa sosok bapak di samping Tya, Tika dan mama.

***

Kisah nyata ini dikirim oleh Meilidyaningtyas Cantika Ryadiani untuk mengikuti Lomba Menulis Vemale.com Kisahku dan Ayah. Kamu juga bisa mengirimkan kisah tentang ayah dan berkesempatan memenangkan hadiah dari Negarawan.

[pos_1]