Wacana Full Day School, Akankah 'Menyelamatkan' Anak Bangsa?

Fimela diperbarui 11 Agu 2016, 10:17 WIB

"Sampai ketemu nanti setelah jam 5, ya Nak", atau "Nanti malam kita ketemu lagi, Yah, Bu ... dadaaah!"

Mungkin itulah contoh - contoh kalimat 'perpisahan' harian antara ayah, ibu dengan anak - anaknya yang masih SD dan SMP jika program Full day school akan benar - benar diterapkan oleh Menteri Pendidikan kita yang baru. Ya, beberapa hari belakangan ini, wacana dari Mendikbud, membuat 'geger' dan menimbulkan polemik dengan 'usulan'nya tentang konsep Full day schoolbagi siswa SD dan SMP di seluruh Indonesia.

Apa dasar alasannya? Menyitir penjelasan Pak Menteri di sebuah media, konon full day school ditujukan untuk 'menyelamatkan' anak - anak dari kesendirian tanpa pengawasan orang tua saat di rumah sepulang sekolah di siang hari. Full day schoolmengisi kekosongan kegiatan anak saat kedua orang tuanya masih bekerja atau beraktivitas di kantor. Selain itu agar anak - anak juga 'dijauhkan' dari jalanan atau aktivitas sia - sia di luar sekolahan tanpa keberadaan para orang tuanya. Wacana ini diharapkan memberikan pilihan yang lebih baik: tetap berada di sekolah mengerjakan tugas dan belajar hingga sore. Dasar pertimbangan dan perhitungan Pak Menteri yang simpel bak 1 + 1 = 2, bertujuan mulia, karena pastilah niatnya hanya untuk membantu Presiden memajukan pendidikan generasi muda di Indonesia sesuai amanat jabatan yang diembannya.

Namun, gejolak pun muncul. Bahkan sampai membuat petisi secara online untuk menolak usulan program baru di bidang pendidikan ini? Jika sampai saat ini, misalnya ada seribu pendukung dan penandatangan petisi, pastilah ada seribu dasar alasan, pertimbangan dan perhitungan yang berbeda namun serupa kesimpulannya. Karena setiap orang pasti punya pemikiran dan pendapat berbeda - beda tentang model atau metode pendidikan seperti apa yang paling baik dan pantas bagi anak - anak, cucu atau bakal keturunan mereka selanjutnya.

Perbedaan pola asuh dan pilihan institusi pendidikan ini ditunjukkan dengan pemilihan jenis sekolah atau lembaga pendidikan yang dipercaya. Ya yang sesuai dengan penilaian, keinginan dan kemampuan keuangan mereka serta faktor - faktor lainnya. Tidak seorangpun yang lain, yang bisa mempengaruhi apalagi memaksakan keputusan penting tentang pemilihan sekolah ini. Walau rekomendasi, saran atau masukan orang lain juga bisa dijadikan bahan pertimbangan. Karena setelah agama, bekal pendidikan adalah hal terpenting yang diyakini akan menjadi 'jalan' bagi anak - anak untuk menuju dan meraih kesuksesan dan kebahagiaan mereka di dunia, juga setelahnya.

Ada satu hal yang menggelitik pikiran, apakah anak - anak juga sudah dimintai pendapatnya? Apakah suara mereka malah cenderung diabaikan dan tidak dianggap penting serta dikesampingkan justru saat sebuah keputusan penting yang menyangkut diri mereka, digagas? Apakah belum cukup pengalaman dalam pemaksaan - pemaksaan dalam bidang pendidikan yang pernah terjadi terhadap anak - anak justru menyebabkan banyak kerugian? Menyangkut 'gonta - ganti' kurikulum, misalnya. Atau tidak cukupkah kewajiban demi kewajiban yang harus dipatuhi anak - anak dalam sistem pendidikan kita? Selama ini sistem pendidikan yang berubah-ubah, kadang justru menimbulkan gejolak pada diri anak - anak atau pemberontakan 'dalam diam' yang bagai api dalam sekam. Dan sudahkah dilupakan bahwa lembaga - lembaga penting diluar sekolah seperti keluarga, rukun tetangga, lingkungan dan kehidupan di luar sana yang lebih 'nyata' mendidik dan menciptakan karakter manusia? Bukankah sering kita menemui sendiri atau mendengarkan pernyataan 'ilmu atau cara ini tidak diajarkan di sekolah manapun' saat kita atau seseorang lainnya menyelesaikan satu masalah dalam kehidupannya?

Walau banyak yang menyatakan menolak, pasti ada juga yang menyetujui usulan ini. Setidaknya, orang nomor dua di negeri ini konon telah merestui dan sudah menyatakan dukungannya. Dan jika saja ada seribu orang yang menyetujuinya, mungkin juga ada 1000 dasar argumentasi yang berbeda satu dengan yang lainnya. Karena setiap orang pun juga menyadari dan bersedia mengakui keterbatasan dan ketidakmampuannya dalam mendidik dan mengawasi anak - anaknya karena harus sibuk bekerja. Walau berarti bahwa dengan Full Day School, biaya pendidikan anak - anakpun juga akan bertambah full. Alibinya adalah dengan anak - anak berada seharian di sekolah, setidaknya kedua orang tua bisa lebih fokus bekerja dan mencari nafkah. Yang berarti beban tanggung jawab pengawasan dan pendidikan anak - anak oleh sekolah dan guru akan semakin bertambah. Mampukah?

Jika saja guru dan pihak sekolah ditanya, pasti juga beragam pula jawabannya. Seribu guru atau sekolah, bisa jadi memunculkan 1000 pendapat yang berbeda - beda berkaitan dengan dasar alasannya. Yang jelas, menolak atau menyetujui bagi mereka, akan bergantung juga pada kesiapan orang tua dan pemerintah dalam memperhatikan kesejahteraan mereka juga. Pastilah harus demikian, karena gurupun juga manusia dan merekapun juga para orang tua yang memiliki anak - anak sendiri di rumah masing - masing. Dan sekolah, baik negeri atau swasta, modern atau konservatif, sekuler atau berbasis agama, adalah institusi yang membutuhkan biaya dan malah bertujuan pada profit atau keuntungan. Siapkah kita semua untuk membiayai operasionalnya yang akan meningkat, mungkin berkali - kali lipat? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang muncul seiring dengan digulirkannya usulan Full Day School, bak 'bola panas' yang menggelinding ke segala arah.

Full day school yang sedang digagas, akan meminta full commitment semua pihak jika tetap akan dilakukan. Full effort, full energy serta hasilnya pun bisa jadi full of surprise. Ya, karena 'obyek' usulan program ini adalah anak - anak yang selama ini sudah terbukti tak henti - hentinya telah memberikan kejutan - kejutan bagi kita dengan ucapan, tindak - tanduk dan tingkah polahnya.

Bagi saya yang seorang ayah sekaligus single parent,semakin lama anak - anak di sekolah, sekilas akan semakin 'menyamankan'. Karena walaupun anak - anak pun pulang sekolah lebih awal di siang hari, bakalan tak ada yang menjaga dan mengasuhnya bahkan terpaksa malah harus dititip - titipkan. Waktunya sebagai satu - satunya orang tua, bisa dimaksimalkan untuk mencari penghidupan dan penghasilan tambahan. Namun suatu hari, anak saya yang baru beberapa hari masuk kelas 1 SD, berkata, "Pah, Adik capek. Habis sekolah ada les Al Quran, kursus angklung, sama latihan renang. Gimana kalo Adik di rumah saja bersih - bersih rumah atau 'bantuin' Papa 'nyari' uang?"

Sebuah 'kejutan' dari anak usia 7 tahun yang mungkin sudah lelah mengikuti program pendidikan yang harus dilaluinya setiap hari. Rasa lelah ini terungkap lewat mulut mungilnya yang mengusulkan sesuatu yang jauh dari prediksi. Dari hal-hal sederhana ini kita bisa merasakan, usulan baik dari Pak Menteri Pendidikanpun menjadi bahan pertanyaan dan dipertanyakan:

"Sudahkah menerapkan 'segala hal yang terbaik' bagi anak - anak?"

Dituliskan oleh Yasin bin Malenggang untuk rubrik #Spinmotion di Vemale Dotcom. Lebih dekat dengan Spinmotion (Single Parents Indonesia in Motion) di http://spinmotion.org/

(vem/wnd)