Single di Usia 30, Aku Pusing Terus Dicecar ''Kapan Nikah?''

Fimela diperbarui 29 Agu 2016, 12:30 WIB

Kisah nyata ini ditulis oleh Ruby Astari, salah satu Sahabat Vemale yang mengikuti Lomba Menulis #StopTanyaKapan. Ia menceritakan soal orang-orang yang makin mencecarnya dengan pertanyaan "kapan nikah".

-oOo-

"Kapan nikah?"

Nggak di acara keluarga, reuni teman-teman lama, sampai kadang sahabat sendiri, pasti ada saja yang suka nanya begitu. Apalagi bila sahabat yang tadinya sama-sama single,terus habis nikah langsung ikut-ikutan nanya. Variasi lain dari pertanyaan yang sama adalah, “Kapan nyusul?”

Bahkan, orang yang nggak kenal-kenal amat juga sok ikut menasihati. Percaya deh, obrolan basa-basi, misalnya sama penjaga warung, yang tadinya nyantai bisa jadi bikin bete begitu mereka tahu status dan umur kamu. Kalo nggak ditanya, kadang pakai sekalian diceramahin panjang-lebar.

Bukannya nggak mau nikah, tapi nggak mau melakukannya untuk alasan yang salah. Lagipula, nikah juga nggak bisa sembarangan. Jangan hanya karena diuber umur, demi menyenangkan orang lain (bahkan ortu sendiri, lho!), sampai alasan ‘kebelet’ lantas jadi gegabah. (Kalo dipikir-pikir, kenapa nikah sampai disamakan dengan ingin ke toilet segala, ya? Aneh.) Susahnya? Mau secuek dan sekalem apa pun, ada saja mulut usil yang bikin gerah hingga naik darah. Didiamkan makin "jadi", giliran kita marah yang usil malah enteng menuduh kita sensi. Maunya apa, sih?

Kalo hanya ditanya, “Kapan kawin?” biasanya saya akan menjawab dengan nada separuh bercanda, “Tentu saja habis ijab kabul. Tapi nggak ada yang saya undang, ya!” Ya, iyalah. Masa saya harus ngundang penonton untuk melihat saya dan suami di malam pertama? Yang bener aja!

Kalo ditanya, “Kapan nikah?”, biasanya saya hanya menjawab, “Ya, doakan saja segera” atau sejenisnya. Apalagi, kebetulan kakak perempuan sudah menikah dan punya empat anak. Adik laki-laki juga sudah menikah dan sebentar lagi akan jadi ayah.

Saya sendiri masih melajang di atas usia tiga puluh. Apakah situasi ini terdengar sangat familiar?

Sayangnya, jawaban kalem versi saya kadang tidak cukup. Pasti ada saja yang lantas berusaha mencari-cari ‘cacat’ penyebab saya belum dilamar juga. Yang paling menyakitkan bila keluarga sendiri yang menyerang. Ada tante yang cukup kejam pernah berkomentar begini, “Kurusin, dong. Kamu mau ‘kan, punya pacar?” Sadis banget, ‘kan? Ada juga tante lain yang bilang kalo saja saya berusaha seperti kakak saya (entah apa maksud beliau), mungkin saya akan lebih mudah mendapatkan suami.

Masih soal penampilan, cara berpakaian saya pun dikritik. Lucunya, saya sendiri nggak pernah usil sama gaya berpakaian yang mengkritik. Menurut saya, laki-laki kalo udah beneran cinta pasti nggak akan masalahin bila perempuannya nggak selalu mood ingin dandan. Namanya juga manusia biasa.

Soal kepribadian juga begitu. Ah, itu ‘kan relatif. Hayo, ngaku aja, deh. Pasti pernah bingung ‘kan, kenapa perempuan yang menurut kamu nggak cantik-cantik amat atau kelakuannya nyebelin, tapi malah bisa dapat pasangan yang ganteng dan baik hati. Padahal, bisa aja si laki-laki dikirim Tuhan untuk membuat perempuan itu lebih baik atau laki-laki itu melihat kebaikan lain si perempuan yang belum tentu kelihatan di mata kita.

Ada juga yang lantas langsung mempertanyakan kualitas ibadah si sosok yang belum menikah juga. Pernah dengar atau mengalami sendiri? “Kamu kurang ibadah, kali.” “Kamu pasti kurang puasa/beramal/berbuat baik sama orang/dan lain-lain.” Perkara benar atau salah, siapa juga sih, yang suka dituduh langsung seperti itu? Siapa yang nggak bakalan tersinggung, coba? Memangnya setiap usaha mereka mencari belahan jiwa harus dilaporkan ke kamu sebagai pembuktian belaka?

Intinya, peduli boleh. Jangan sampai menyakiti hati. Daripada selalu usil setengah-mati yang kemudian bikin rusak proses silaturahmi, lebih baik doakan saja mereka dengan baik setiap hari. Harusnya semudah itu. Nggak perlu pakai mem-bully.

Buat yang masih hobi nanya-nanya “Kapan kawin/nikah?” ke saya atau para perempuan lain yang masih lajang, saya ada saran jitu agar kamu nggak bikin orang keki. Selain rajin mendoakan saya dan para perempuan lajang lainnya agar segera dipertemukan dengan belahan jiwa atau diberikan yang terbaik oleh Tuhan, cobalah untuk mulai lebih banyak membaca buku. Jadi, pas kita ketemu, nanyanya nggak yang itu-itu melulu.

(vem/nda)