Memaknai Perpisahan Dengan Cara yang Berbeda

Fimela diperbarui 25 Nov 2016, 16:00 WIB

Pepatah menyebutkan saat bertemu dengan seseorang maka kamu harus siap dengan perpisahan. Mungkin tidak terjadi hari ini, esok, seminggu, sebulan atau bertahun kemudian. Percayalah bahwa perpisahan selalu membayangi setiap pertemuan. Suka atau tidak, kamu pasti akan berpisah dengan orang yang kamu temui. Memang tidak menyenangkan berada pada fase ini. Sudah yakin bahwa bisa bahagia selamanya ternyata kenyataan berkata lain. Kamu dan dia harus berpisah. Padahal bukan itu harapanmu.

Kesal? Pasti. Marah? Tentu saja. Tapi apakah hanya bisa seperti itu. Yang biasa terjadi saat mengalami perpisahan adalah menyalahkan orang yang meninggalkanmu. Menyalahkan, mengapa dengan tega membuat kamu sendiri. Menghadapi perasaan sedih seorang diri. Memendam kecewa sepanjang waktu seorang diri. Seakan-akan bahwa kamu adalah manusia paling menyedihkan karena ditinggalkan.

Hmm, tapi benarkah orang yang meninggalkanmu tidak merasakan hal yang sama? Ladies, pernahkah kamu membayangkan bagaimana perasaan seseorang yang meninggalkanmu. Benarkah ia tidak pernah sakit hati. Tidak sekalipun merasa kecewa. Benarkah, perpisahan adalah penyelesaian masalah yang dia inginkan? Bisa jadi yang sebenarnya terjadi adalah sebaliknya. Dia jauh merasa sakit, kecewa, sedih dan menyesali perpisahan ini dan merasa sangat kejam karena meninggalkanmu.

Cara paling bijak untuk memahami perpisahan adalah dari sisi yang pergi. Seseorang yang ditinggal pergi sudah pasti sedih dan kecewa, tapi tahu tidak Ladies, jika orang yang meninggalkanmu mengalami kesedihan jauh lebih dalam dibandingkan denganmu. Pernahkah kamu menanyakan alasan seseorang meninggalkanmu? Benarkah alasan yang ia ungkapkan adalah hal yang sebenarnya? Jangan-jangan dia sedang menyembunyikan satu hal yang tidak ingin ia ungkapkan karena takut menyakitimu. Bukankah kebenaran seringkali menyakitkan?

Cobalah untuk memahami orang yang pergi tidak jauh lebih baik padamu. Mereka akan selalu terlihat salah dan tidak benar. Bisa jadi keadaannya tidak seburuk itu. Jadi sudahkah kamu memaafkan ia yang meninggalkanmu? Selamat hari ini.

(vem/apl)