Bulan Ramadan Menyisakan Trauma, Namun Sekarang Aku Bisa Menerima

Fimela diperbarui 29 Jun 2017, 12:41 WIB

Tidak semua orang menyambut bulan Ramadan dan Lebaran dengan suka cita. Namun, sebuah trauma dan luka tetap harus disembuhkan. Waktu adalah jawaban terbaik. Kisah ini dikirim oleh M. P. sebagai bagian dari Lomba Menulis Ramadan 2017.

***

Ketika bulan Ramadan datang, semua orang pasti akan menyambutnya dengan sukacita. Apalagi ketika hari raya Idul Fitri sudah tiba. Keinginan untuk mudik, bersilaturahmi dan berkumpul bersama sanak keluarga besar menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu. Mungkin bagi semua orang, itu adalah bahagia. Namun bisa jadi hanya saya satu-satunya orang yang tidak merasakan hal yang sama.

Sedari saya kecil, saya tidak pernah menyukai bulan puasa apalagi hari raya Idul Fitri. Bukan apa-apa, tapi lebih karena pengalaman pribadi yang buat saya tidak menyenangkan yaitu perselisihan panjang dengan orangtua dan menguras emosi.

Bayangkan saja, bulan Ramadan seharusnya penuh dengan kedamaian dan perasaan hati yang teduh, namun kurasakan beda sejak usia 9 tahun. Aku harus tinggal di dalam rumah yang penuh dengan amarah, pertengkaran dan tidak jarang juga Ibu saya mendapat kekerasan fisik dari Ayah saya.

Yang menyedihkan adalah kami sekeluarga (saya punya seorang kakak yang berusia dua tahun di atas saya) harus tetap berakting seakan semua baik-baik saja di hari Lebaran. Seakan Ayah dan Ibu memiliki kesepakatan bahwa mereka hanya pertengkaran mereka hanya boleh dilakukan di rumah, sementara saat berkumpul ke rumah keluarga besar, semua harus tertutup dan tersembunyi.

Kekerasan Yang Dilakukan Ayah Berdampak Besar Pada Saya

Melihat itu semua, ada perasaan tidak suka muncul dalam diri saya. Pada akhirnya saya melampiaskan kecewa itu dengan ketidaktertarikan menghadapi hari raya Idul Fitri. Mungkin saya salah atau berdosa. Mungkin juga ini hanyalah sebuah trauma. Saya tidak membenci keyakinan apalagi Tuhan, saya sangat memerlukan Dia untuk menentramkan hati saya. Tapi tidak bisa saya hindarkan adanya duka dan beban yang berat setiap kali bulan Ramadan datang menjelang. Setiap tahun terasa seperti itu. Kalaupun di bulan-bulan puasa berikutnya pertengkaran antara kedua orangtua saya sudah jarang terjadi, tetap saja ada luka yang bertahan dan memberikan perasaan tidak tentram.

Sampai suatu hari, saya memutuskan pergi kuliah jauh ke pulau Jawa dan meninggalkan rumah. Memiliki kehidupan yang baru seorang diri, sudah pasti saya juga melewatkan bulan Ramadan d lingkungan yang berbeda dengan tempat tinggal saya. Waktu itu mungkin bukan perasaan damai yang saya rasakan tapi lebih sebuah kelegaan karena berhasil melarikan diri dari trauma masa kecil.

Pada Akhirnya Saya Pulang Dengan Sebuah Kesadaran

Sejak kuliah saya tidak pernah lagi kembali pulang saat Lebaran datang. Namun pada suatu kali, kakak saya menelepon untuk mengabari bahwa Ayah dan Ibu akan bercerai dan meminta saya untuk menjaga ibu selama Ramadan. Karena kuliah saya sudah hampir selesai, dengan berat hati tidak mungkin saya tolak. Jadilah saya pulang setelah beberapa tahun merantau. Saya menemani Ibu selama bulan Ramadan sampai Idul Fitri dimana untuk pertama kalinya juga saya menemukan suatu kesadaran.

Kesadaran bahwa merantaunya saya ke pulau Jawa membuat saya lebih mampu belajar menerima semuanya. Trauma, perasaan tidak suka di masa kecil, duka dan beban yang tersembunyi menjelang Lebaran, perasaan sedih setiap mengenang Ayah dan Ibu yang bertengkar.

Mungkin juga karena saya semakin dewasa, semakin mampu juga untuk bisa ikhlas menerima masa lalu. Bisa jadi. Tapi kini saya melihat Ayah dan Ibu menjadi lebih bahagia justru ketika sudah berpisah. Meski pernikahan adalah apa yang kita semua selalu ingin pertahankan, tapi bila memang sudah begini jalannya, tentu saya dan kakak saya harus bisa menerima. Semua demi kebahagiaan orangtua.

Pada akhirnya, ini adalah cerita kecil tentang belajar ikhlas dan mencintai hal yang dulu selalu saya ingin untuk lewatkan. Kini saya juga sama seperti banyak orang lainnya, menyambut dan merayakan bulan penuh kemenangan. Trauma dan beban masa lalu sudah saya biarkan secara tulus pergi. Semuanya saya relakan dengan maaf, sama seperti saya memaafkan Ayah dan Ibu.

(vem/yel)