Pernikahan Tak Hanya Mengikat Dua Pribadi, Tapi Menyatukan Dua Keluarga

Fimela diperbarui 26 Jul 2017, 14:30 WIB

Tak bisa dipungkiri bahwa mempersiapkan pernikahan bisa bikin stres. Tapi bukan berarti semuanya akan terasa berat dijalani. Justru banyak pelajaran yang bisa diperoleh dari pengalaman mempersiapkan pernikahan itu, seperti pengalaman sahabat Vemale dalam tulisan yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Here Comes the Bridezilla ini.

***

Meeting dengan vendor, survei sana-sini, mencari jadwal wedding expo sampai browsing hal-hal yang berbau pernikahan menjadi kebiasaan baru sejak acara lamaran kami 10 Januari 2015. Persiapan pernikahan kami sebenarnya berjalan cukup lancar, tidak ada drama yang berlebihan tapi tidak mudah juga.

Setelah dilamar secara personal oleh (dulu calon) suami saya dan setelah diskusi yang panjang, saya akhirnya keluar dari pekerjaan saya dan ikut membantu usaha yang digelutinya. Meskipun ada banyak pertimbangan yang membuat saya mengambil keputusan besar itu, tapi salah satu alasan yang mendasar pada saat itu adalah karena kami akan disibukkan oleh rutinitas persiapan pernikahan.

Keinginan kami untuk mempersiapkan pernikahan berdua saja tanpa bantuan Wedding Organizer (WO) bukan semata-mata karena kami idealis, tapi karena ada banyak hal positif yang bisa kami dapatkan dari persiapan itu. Mempersiapkan pernikahan berdua saja sama hal nya dengan belajar menjadi suami dan istri dalam menjalankan peran kami nanti. Saya yang pada dasarnya punya sifat dominan harus belajar untuk menerima keputusan calon suami saya sewaktu persiapan pernikahan, karena nantinya dia adalah kepala keluarga bagi kami.

Calon suami saya yang punya sifat mengalah, harus belajar membuat keputusan untuk kami dan mau mendengarkan saya sebagai pendampingnya. Mempersiapkan pernikahan berdua membuat kami punya hubungan yang lebih dalam, karena kami sering saling mendengarkan dan didengarkan, sering punya waktu berdua bersama dan punya komunikasi yang semakin intens. Tapi, itu tidak semudah yang dipikirkan.

Meskipun persiapan pernikahan kami kelihatannya mudah, karena tanpa drama LDR dan drama curi-curi waktu di jam kerja karena beda kantor, tapi kami punya tantangan lain dalam mengurus berbagai persiapan. Bekerja dengan waktu yang fleksibel bersama calon suami ternyata tidak semudah yang dipikirkan.

Waktu kerja yang fleksibel malah menjadi kesulitan tersendiri bagi kami untuk mengurus ini dan itu. Jadwal meeting dengan vendor yang sering bentrok dengan jadwal client, kemacetan yang tidak jarang membuat jadwal berantakan, curi-curi waktu untuk mengerjakan deadline di kafe sambil menunggu vendorbahkan kami seringkali kami harus berkantor di dalam mobil untuk bisa berburu dengan waktu. Hal itu menjadi bumbu sekaligus tantangan buat kami. Maklum saja, semakin mendekati hari H, bukan hanya target persiapan yang harus rampung tapi target untuk mengumpulkan pundi-pundi di akun bank juga harus tercapai, jadi pekerjaan sekuler tetap jadi prioritas.

Tantangan lain yang kami hadapi adalah menyatukan pikiran dan kemauan dua keluarga. Karena pernikahan itu bukan hanya mengikat 2 pribadi tapi juga 2 keluarga, maka persiapannya juga harus melibatkan keluarga, dan jujur saja, hal ini yang paling tidak mudah dibandingkan semua tantangan lain.

Sebenarnya, saya ingin sekali menggelar pernikahan dengan suasana intim, bersama keluarga dan kerabat terdekat saja dan dilaksanakan di luar Jakarta sekalian untuk berlibur. Tapi tampaknya ini pengorbanan yang terbesar yang saya lakukan untuk pernikahan kami. Latar belakang orang tua kami yang punya keluarga besar dan punya cukup banyak relasi bisnis membuat saya harus menurunkan ego untuk bisa menyenangkan banyak pihak.

Memilih daftar tamu undangan menjadi hal yang tersulit bagi kami dalam proses persiapan permikahan kami. Kami harus bersikap adil dan masuk akal dalam menentukan siapa saja yang ingin diundang oleh kami dan masing-masing keluarga, sehingga pada akhirnya saya juga bisa merasakan pernikahan yang intimatemeskipun dengan jumlah undangan yang cukup banyak. Tidak egois dan tidak terlalu idealis merupakan keputusan yang benar yang sudah kami buat, sehingga yang menikmati kebahagiaan bukan hanya kami tapi juga orang tua dan keluarga kami yang bisa menjadikan pernikahan kami menjadi acara reuni dengan keluarga atau kerabat yang sudah lama tidak bertemu.

Di samping ada banyak tantangan yang secara teknis yang menguras waktu dan tenaga kami, dan tentu tidak bisa saya ceritakan semuanya. Ada satu tantangan besar lain yang yang muncul menjelang pernikahan, ini bukan perdebatan saya dan calon suami saya saat itu, bukan juga perdebatan keluarga yang (katanya) sering muncul dalam persiapan pernikahan, karena selama persiapan pernikahan, kami tidak pernah berdebat soal apapun. Tantangan ini muncul dari perasaan sendiri, rasa yakin.

Menjelang hari H, saya merasa uring-uringan, lebih mellow dan sering ragu. Bukan ragu dengan siapa yang saya pilih untuk menjadi teman hidup. Saya hanya tidak yakin bisa meninggalkan rumah, keluarga dan kehidupan saya di rumah orang tua saya. Seringkali saya menangis. Saya merasa siap menikah, tapi saya tidak siap keluar dari rumah. Perasaan yang campur aduk kan? Maklum saja, saya dibesarkan oleh keluarga yang penuh cinta.

Mama Papa saya adalah role modelpernikahan ideal yang ada di depan mata saya, selalu saling menyayangi tidak hanya antara mereka berdua tapi juga dengan anak-anaknya, termasuk saya, dan itu yang selalu saya rasakan selama bertahun-tahun. Saya tidak pernah merasakan kurang kasih sayang atau perhatian dari keluarga saya.

Menikah membuat saya harus memupuk keyakinan yang lebih, tidak hanya yakin bahwa dia adalah orang yang tepat untuk saya, tetapi juga yakin jika dia bisa memberikan cinta yang besar seperti yang saya dapatkan sebelumnya, tidak hanya 1-2 tahun tapi sampai akhir hayat kami.

Kekhawatiran saya untuk meninggalkan rumah, selalu saya ceritakan ke pasangan saya, mungkin sampai dia bosan mendengar curhatan saya atau bahkan berpikir saya ragu dengan dia. Tapi reaksi dia selalu positif, dia mendengarkan saya, meyakinkan saya dan membantu saya berpikir lebih dewasa. Maklum saja, umur saya masih 23 tahun saat itu, jadi secara emosi mungkin belum cukup stabil. Hal positif dari pasangan saya, membuat saya berpikir lagi dan merasa pernikahan kami tidak akan menjauhkan kami dengan keluarga kami masing-masing, malah pernikahan kami mendekatkan kami. Keluarga saya punya anak laki laki baru. Keluarganya punya anak perempuan baru.

Saya sangat bersyukur, bisa melewati berbagai warna dalam persiapan itu. Kami bersyukur punya keluarga yang mendukung segala keputusan kami, yang tidak banyak menuntut atau memberatkan kami dengan ekspektasi yang terlalu tinggi. Saya bersyukur, punya(calon) suami yang sangat amat baik, sabar, pengertian dan tidak pernah lelah dengan segala kerumitan persiapan pernikahan.

Maklum, saya mengerti kalau biasanya kaum pria tidak pernah sabar dengan segala printilan yang berhubungan dengan pernikahan. Tapi satu hal yang sangat saya syukuri, pasangan saya tidak pernah meninggalkan saya sendiri untuk mengurus pernikahan kami. Dia selalu ada di samping saya dan mungkin itulah yang membuat saya tidak terlalu stres dalam menghadapi pernikahan. How blessed I am!

Persiapan pernikahan ternyata bukan hanya soal teknis persiapan, bukan hanya soal mewujudkan hari pernikahan yang diinginkan, bukan hanya tentang caranya menyenangkan orang banyak dan bukan tentang banyak hal mainstream yang biasa ada dalam buku atau web persiapan pernikahan.

Persiapan pernikahan lebih dari pada itu.

Persiapan membantu kami mengubah sudut pandang tentang banyak hal, tentang menghadapi keadaan yang tidak selalu sesuai dengan harapan, tentang mengalah dan mencari solusi yang terbaik serta tentang berurusan dengan perasaan orang lain.

Persiapan pernikahan mengubah kami. Mendewasakan pikiran, memantapkan hati dan meyakinkan diri bahwa acara pernikahan hanyalah gerbang.Tidak ada yang sempurna dalam awal sebuah langkah berkeluarga dan kami tidak punya kuasa untuk menyenangkan semua pihak. Kami hanya melakukan apapun yang kami bisa kami lakukan untuk dapat secara sah memulai kehidupan yang baru, yaitu pernikahan.

Sebelum lupa, ada catatan kecil dari saya.

Meskipun kata orang acara pernikahan itu hanya sekali seumur hidup jadi harus dipersiapkan dengan sangat matang, bukan berarti kita selalu berfokus bahkan menjadi stres karena semua persiapan yang kita harapkan sempurna.

Dari pengalaman saya, sewaktu hari pernikahan, sebenarnya sulit bagi kami untuk bisa menikmati acara bahkan untuk menikmati makanan saja sudah tidak cukup selera (karena sudah lelah dengan run-down acara). Jadi seringkali yang akan kita nikmati dan kita kenang setelah menikah adalah bukan momen hari pernikahannya tapi segala persiapannya.

Karena itu buatlah persiapan pernikahan menjadi sesuatu yang menyenangkan, sebagai pengalaman baru yang penuh warna bersama pasangan, bukan sebagai beban yang membuat kita tidak punya cerita indah yang akan kita kenang dan bagikan nanti.

(vem/nda)