Melisa Sundjaya dan Mimpi Besar di Balik Brand ''Tulisan''

Fimela diperbarui 14 Agu 2017, 13:30 WIB

Melissa Sundjaya kecil adalah seorang yang pemalu, ia mengaku sulit mengungkapkan perasaan dan pikirannya ke pada orang lain. Ia lebih suka sendiri, dan menuangkan perasaannya lewat karya seni.

“Saya dari kecil, banyak yang anggap aneh. Saya pernah membungkus pohon dengan koran. Maksud saya mau bikin roket. Tapi anak lain tidak mengerti imajinasi saya. Saya malah diomongin,” Ungap Mellisa saat berbincang dengan Vemale di Ritz Cartlon Ballroom, Pacific Place Jakarta, beberapa waktu lalu.

Baginya, melukis adalah sebuah terapi. Coretan tangannya itu dulu membantu dia melewati gangguan pernapasan sewaktu kecil. Selain itu coretan tangannya juga merupakan kisah hidup yang terkadang sulit ia ungkapkan secara langsung.

“Karena pemalu, saya sulit mengungkapkan sesuatu. Gambar saya ini adalah usaha saya menyampaikan sesuatu tanpa harus berbicara,” ujarnya lagi.

Bermula dari tahun 2006 lalu, Mellisa memutuskan untuk melepaskan karirnya sebagai Brand Stratregies di Amerika Serikat yang sudah ia jalani selama 15 tahun. Tak main-main, visa yang didapat Melissa dari negeri Paman Sam itu adalah visa khusus, yang ditujukan untuk seniman-seniman berprestasi.

Namun bagi Melissa, mengejar passion juga berarti mampu berkorban. Akhirnya, ia memulai ‘Tulisan’ hanya dengan modal Rp5 Juta. Tujuan utamanya adalah, ia ingin membuat sebuah karya, mewah, dan membuat si pemakai bangga menggunakan karyanya. Setiap detail dari ‘Tulisan’ tak luput dari perhatian Ibu dua anak ini. Karena ia menganggap, semua produk tulisan adalah coretan cerita kehidupannya.

“Awalnya saya melukis, menyablon, memproduksi, hingga menjajakan, itu semuanya sendiri,” kenangnya.

Bagi Mellisa, menciptakan ‘Tulisan’ tak hanya sekadar berbisnis, dan sukses. Ia punya misi yang jauh lebih besar dari itu.

“Dulu pertama kali pulang dari Amerika, UMR Jakarta itu kalau nggak salah Rp1,8 juta. Saya hitung-hitung, untuk hidup selama satu bulan itu sangat kecil nilainya. Saya nggak mau itu terjadi pada pekerja saya,” ujarnya.

Melissa menjamin, semua karyawannya bekerja dengan suasana dan bayaran yang sangat layak. Dia mengaku, sebenarnya bisa saja membayar tim produksinya dengan bayaran yang lebih rendah seperti kebanyakan gaji pengrajin, tapi ia tak mau melakukannya. Melissa saat ini mengajak tiga orang anak jalanan untuk bekerja di bengkelnya. Dalam setahun anak-anak itu mendapatkan pendapatan hingga 50 juta.

“Itu cukup besar kan. Dan saya membantu mereka dengan cara meyakinkan kalau mereka mampu bekerja sendiri, tanpa harus meminta-minta pada orang lain,”

Selain itu, ia juga memastikan, hanya bekerja sama dengan bengkel percetakan yang memiliki sertifikat blue sign system. yaitu pabrik yang menjamin setiap pekerjanya bekerja dalam lingkungan yang sehat, bebas toxic dan kondisi yang manusiawi.

“Saya mau, para pekerja, dan kalau bisa seluruh orang Indonesia, mampu bekerja dengan jujur, tanpa harus korupsi, namun tetap dapat hidup dengan layak dan berkecukupan,” ujarnya lagi.

Mellisa mengaku, banyak orang yang bertanya padanya, mengapa produknya relatif mahal. Namun ia memastikan, di setiap hasil produksi ‘Tulisan’, jerih payah para pekerjanya dibayar dengan sangat layak.

Jika kamu tertarik untuk memiliki karya Melissa Sundjaya ini, silakan klik di sini.

(vem/kee/ivy)
What's On Fimela