Jangan Mendesak Kapan Aku Menikah Lagi, Sebab Aku Punya Pilihan Sendiri

Fimela diperbarui 21 Agu 2017, 15:50 WIB

Ditanya, "Kapan menikah lagi?" hati wanita mana yang tak merasa tersakiti.  Seperti kisah salah satu sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Stop Tanya Kapan ini. Kisahnya mulai dari awal pernikahan sampai akhirnya ditinggal berpulang oleh suami yang dulu tak dicintainya, benar-benar bikin air mata meleleh.

***

Masyarakat merupakan sekumpulan orang dari berbagai golongan yang tinggal di suatu wilayah dengan berbagai aturan yang harus ditaati. Interaksi kita dengan sesama anggota masyarakat lainnya tidak dapat dipungkiri akan berdampak pada cara kita memandang diri sendiri. Namun yang menjadi masalah adalah ketika tiba masanya ocehan mereka yang (katanya) didasari rasa peduli justru terasa mengganggu dan kian menyesakkan.

Dahulu, ketika usiaku sudah mencapai 30 tahun, usia genting bagi seorang gadis untuk menikah, kalian pun mulai bertanya, “Kapan dilamarnya? Mau umur berapa lagi punya anaknya?”

Pernikahan bukan soal perlombaan, itu pun juga yang kuyakini. Akhirnya kalian pun senyap dengan selembar undangan yang kubagikan. Ya, aku menikah dengan lelaki itu. Lelaki yang tidak kucintai, lelaki yang sempat aku benci karena kunjungannya pada ibu bapakku yang akhirnya mendorong mereka untuk memaksaku menikahinya. Lelaki yang selalu kusoroti kekurangannya, yang kubenci keluarganya. Lelaki itu, ayah dari dua putra putriku.



Selama kami menjalani pernikahan, kami tinggal di rumah dinas yang jauh dari kata mewah. Ingat kah kalian ketika mulut-mulut usil itu kembali bertanya, “Kapan mapannya, Bu kalau cuma ngandalin gaji PNS? Kapan bisa punya rumah sendiri?” dan bla... bla... segala macamnya. Pertanyaan yang biasa tapi percayalah jika berulang kali masuk ke telingamu, panas hati rasanya.

Lelaki itu kembali menjadi tempat tumpahan kesal dan amarahku. Entah karena itu atau dorongan lainnya nyatanya dia mampu membungkam kalian dengan segala usaha dan kerja kerasnya untuk kami keluarga kecilnya.

Jungkir balik duniaku dimulai di suatu Rabu pagi ketika dia, lelaki yang tak kukasihi itu dengan beraninya pergi meninggalkan kami. Rutinitas cuci darah itu telah merenggut sosoknya dariku. Dengan lancangnya dia hembuskan napas terakhirnya di depan mataku. Tak tahukah dia berat hidup ini kujalani tanpanya? Setahun kematiannya diiringi dengan air mata buah hatiku dan tak lupa juga dengan pertanyaan kalian, “Kapan nikah lagi, Bu? Kan udah lama sendiri." Mereka peduli? Kurasa bukan. Mereka hanya sekedar bertanya dan bertanya tanpa ada maksud untuk memperhatikan.



Sesuatu akan jauh terasa lebih berharga setelah kita kehilangannya. Pepatah yang cukup sering kubaca namun baru benar kupahami maknanya sekarang. Aku merindukan dia tiap malamnya, kenapa setelah wujudnya tak ada baru aku sadar bahwa dia, lelaki yang kubenci itu lah pelengkapku, teman hidupku.

Dulu ketika aku melahirkan putri pertama kami, dia menangis menciumi bayi mungil itu. Dia tidak pernah keberatan untuk gantian bangun di tengah malam menggendongi si bayi di tangannya sampai pagi menjelang, tak juga mengeluh ketika menggantikanku memasak bahkan mencuci pakaian bayi kami. Membersihkan sisa darah dari pakaianku pun tetap dikerjakannya tanpa diminta.

Aku memang sempat mengalami pendarahan pasca melahirkan. Tugas memalukan bagi kebanyakan lelaki di luaran sana. Dengan segala sikap kasarku kepadanya, tak pernah sekalipun tamparan atau cacian kuterima. Apakah aku sekarang sudah mencintainya? Entahlah, satu hal yang pasti adalah aku benci ditinggal olehnya, aku benci ketika kusadari tak satu pun sosok yang bisa seperti dia.



Beberapa waktu setelah kematiannya, beberapa pria mulai mendekatiku dan menawarkan pernikahan. Satu per satu juga mereka menghilang tanpa ada kelanjutan kabarnya. Tentu kalian pun terus bertanya, “Kapan pestanya? Kenapa nggak mau sama si ini itu?” Apa yang harus kulakukan untuk menghentikan pertanyaan tidak penting kalian itu?

Satu hal yang harus kalian tanamkan, aku tidak akan menikah kembali seberapa sering pun kalian bertanya. Dulu aku mengucapkan janji sehidup semati dengan dia. Keyakinanku adalah untuk tetap menjadikannya satu-satunya dalam hidupku. Jawaban-jawaban tegas ini yang kuberikan dan kuharap dapat menghentikan pertanyaan “kapan dan kapan” dari mereka, orang di sekitarku.

Jika dulu aku menganggap bahwa pertanyaan “kapan” akan terhenti ketika aku melakukan apa yang diminta dan dimaksud oleh sekitarku, sekarang aku menanamkan bahwa, aku lah yang menentukan hidupku. Masyarakat mungkin sampai kapanpun akan tetap terus melontarkan pertanyaan “kapan”, namun aku yakin diriku lebih dari siap untuk membuktikan bahwa pertanyaan itu tak akan lagi mengganggu cara pandang dan hidupku.



(vem/nda)