Si Kurcaci Kekar dan Mimpinya: Aku Gadis Broken Home yang Bertahan Hidup

Fimela diperbarui 28 Sep 2017, 14:10 WIB

Kisah sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba My Body My Pride ini benar-benar bikin trenyuh tapi juga sangat menginspirasi. Meski mengalami banyak luka saat masih remaja, ia buktikan dirinya bisa menciptakan kesuksesan dan bahagianya sendiri.

***

Pada usia 12 tahun ibu saya meninggal karena bunuh diri karena hutang besar yang disebabkan kawan karib ayah yang meminjam uang di bank menggunakan data ayah saya. Jujur saja ayah saya sebenarnya orang baik dan suka menolong tapi sayang orang itu malah kabur.

Saya orang terkuat di keluarga. Ketika ibu saya meninggal hanya saya yang sedikit menangis tapi saya pegang Al-Qur’an ayat demi ayat dalam keadaan syok saya hanya berkata, “Allah jika ibu masih ada tugas di dunia kembalikan. Jika tidak tenangkan dia disisimu." Ternyata memang Allah menyayangi ibu, ibu takkan kembali tapi saya yakin ibu masih memberi cintanya di sisi Allah. Saya ikhlaskan kepergian ibu.

2 tahun setelah ibu meninggal, bapak menikah lagi. Dan saya resmi mempunyai ibu tiri dan saudara tiri laki laki. Sayangnya hari demi hari ibu tiri saya tidak menyukai saya sebab hanya saya satu satunya anak perempuan di rumah. Dia sering melecehkan saya dengan kalimat-kalimat yang tidak seharusnya. Dia bahkan menghasut tetangga saudara kakek nenek saya untuk membenci saya. Saya pun harus ngekos selama SMA dan berpisah jauh dari ayah. Karena gaji ayah saya tidak seberapa dan dikuasai ibu tiri, saya sering tidak makan atau membuat mie instan sebungkus dimakan 2 kali sebelum dan sesudah pulang sekolah pokoknya perut jangan kosong aja deh. Sedikit miris memang tapi anehnya di kehidupan miris itu saya pun tak kurus dan tidak pernah sakit. Sungguh besar kuasa dan pertolongan Allah.

Hingga kelulusan tiba dan saya harus kembali ke kota baru tempat ayah saya tinggal dan berdinas. Saya justru lebih merasa hancur dan sendiri, ayah saya sendiri pun sampai tidak berani memberikan kasih sayang dan kepedulian kepada saya. Untuk sekadar memberi uang pulsa saja harus dilempar dari ventilasi pintu. Anak salim saja ayah tengok ke dalam rumah takut dilihat ibu tiri saya. Kalian tidak percaya? Tapi inilah kejadian nyatanya.

Sedari kecil saat saya merasa kesepian. Ketika jogging, yang saya rasakan ketika saya melewati pohon pohon yang diam saya seperti melewati titik-titik kesedihan yang saya alami. Hingga suatu saat saya menemukan tempat gym di daerah saya. Saya mulai ngegym. Saya mulai berolahraga, saya mulai bahagia. Perlahan tidak peduli seberapa beratnya nanti ketika kembali ke rumah. 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan, ternyata saya diamati seorang pelatih angkat berat. Hahaha geli saya ketika bapak ini menawari saya menjadi atlet angkat berat. Kenapa dia menawari saya? Katanya karena badan saya kekar, pendek, dengan betis besar, dan lincah.

Berbulan bulan lamanya hampir 1 tahun saya ditawari untuk bergabung dalam klub atlet angkat berat. Hari itu saya menyetujui alasannya sepele karena biar bisa jalan-jalan keluar kota sekaligus bertanding agar tidak di rumah dan menatap pertengkaran ayah dan ibu saya. Ya, mereka selalu bertengkar tentang saya, padahal saya tidak melakukan apa-apa bahkan tidak berbicara yang tidak tidak. Di rumah saya bernapas saja seperti salah.

Sebagai anak baru di pertandingan saya cukup memukau saat itu, karena saya mampu mengalahkan senior-senior yang terdahulu dan pastinya beratnya jauh di atas saya. Mengenangnya lucu tapi saya bangga atas diri saya sendiri dengan badan besar tapi pendek justru membawa saya pada kemenangan. Dari liga-liga kecil saja nama saya mulai dikenal orang orang di desa apalagi pertandingan besar sebab di tempat saya ketika ada seorang anak mampu meraih prestasi tingkat provinsi akan lebih cepet dikenal. Mungkin karena di desa orang lebih peka kali, ya.

Perlahan-lahan orang mempercayai bagaimana pribadi saya sesungguhnya. Perlahan-lahan orang menghormati saya. Perlahan-lahan saya mempunyai teman-teman di desa itu. Perlahan-lahan orang peduli dan ramah dengan saya karena pada akhirnya mereka tahu siapa saya dan siapa ibu tiri saya. Saya bersyukur, tak henti tersenyum dan bersyukur. Dulu yang saya diomongin begini begitu akhirnya perlahan terhapus. Dan tetangga-tetangga akhirnya bisa menilai baik buruknya keluarga saya.

1,5 tahun kemudian saya pindah ke Surabaya. Saya berangkat ke Surabaya dengan uang saku sisa karantina dan pertandingan terakhir. Menyedihkannya tidak ada 1 pun anggota keluarga yang mengantarkan saya ke ke terminal atau sekadar ke pinggir jalan. Tidak apa apa tidak ada yang peduli, toh saya ke Surabaya bertekad untuk memperbaiki hidup saya dan mengangkat martabat saya sendiri.

Setiap hari 5 amplop lamaran kerja saya sebar ke kantor-kantor dan ke pabrik-pabrik selama 2 bulan. Bisa dibayangkan berapa banyak lamaran yang saya kirim. Nggak sedikit ditolak karena alasan tubuh saya yang tidak proporsional. Itulah saya si keras kepala dan pantang menyerah meski jatuh bangun.

Puji syukur saya diterima kerja bahkan di saat saya tidak punya kemampuan apa-apa dan tidak ada yang menarik dan tubuh saya. Saya bisa mengalahkan sarjana-sarjana baru yang mungkin IPK tinggi dari universitas ternama. Tahun ke tahun saya mencoba mencari tempat kerja yang lebih besar dari tempat lama saya. Biarpun saya tidak punya kemampuan apa apa, saya mau belajar. Di saat pegawai lain naik gaji setahun sekali, saya hampir 3 bulan sekali naik. Nggak berhenti saya ucap syukur. Alhamdulillah. Pelan pelan seiring waktu saya bisa kuliah dan menyelesaikan studi hukum saya serta bisa membayar kendaraan sendiri. Hanya dalam waktu 3,5 tahun saya perbaiki hidup saya.

Oke pada usia 23 tahun saya dengan tegap meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya bangga atas diri saya sendiri. Dan anak yang pernah teraniaya psikis ternyata mampu berdiri tegak seperti bendera yang berkibar.

Tahun ini saya adalah wanita berusia 24 tahun. Alhamdulillah saya telah menjadi seorang istri. Bekerja di perusahaan bonafide, membiayai pernikahan sendiri ada rasa bahagia dan bangga yang saya lihat dari wajah ayah saya.

Untuk suami saya tercinta, terima kasih kamu yang selalu setia di kota lain menunggu saya. Kamu menerima kekurangan saya dan kondisi kekacauan keluarga saya dan selalu supportapapun tindakan saya dan seberapa keras kepalanya saya yang berusaha meraih impian impian kecil saya. Sabar sayang saya janji akan menyusul kamu setelah tabungan cukup untuk membuka usaha di sana.

Dan untuk wanita wanita kurcaci kekar lainnya, biar tubuh kamu besar kekar tapi pendek, jangan takut mengukir prestasi atau meraih mimpi kamu. Hanya tubuh yang pendek tapi masa depan masih panjang. Ketika kamu mampu meraih mimpi-mimpi kamu dengan mensyukuri bentuk badanmu sekarang saat itulah tubuhmu menjadi jauh lebih cantik dan menarik.

(vem/nda)