Review: Novel Cahaya di Tirai Sakura - Riza Perdana Kusuma

Fimela diperbarui 18 Des 2017, 19:30 WIB

Judul: Cahaya di Tirai Sakura
Penulis: Riza Perdana Kusuma
Penyelia naskah: Mirna Yulistiani
Editor: Sasa
Desain sampul: Fauzi Fahmi
Desain isi: Nur Wulan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Penugasan Riza di Nagoya, Jepang, oleh perusahaan penerbangan tempatnya bekerja, membuatnya merasakan bagaimana hidup di negara lain. Tak hanya strategi untuk mengembangkan bisnis, usaha menjalani budaya Jepang yang berbeda dengan budayanya—Indonesia, Jawa, dan muslim—juga menjadi tantangan baginya. “Culture shock” yang ia alami—mulai dari cara orang Jepang menghargai waktu, kebiasaan mereka minum sake, mahalnya harga barang-barang di sana, hingga harakiri yang terjadi pada kolega dekatnya—memberi makna dan ilmu tersendiri bagi hidupnya. Ia percaya, dengan hati yang ikhlas, perbedaan dua budaya itu bisa dijalani tanpa menanggalkan prinsip yang tertanam dalam dirinya sejak kecil.

***

Kalau mendengar soal negara Jepang, hal pertama apa yang terlintas di benak kita? Soal budayanya yang serba disiplin atau mungkin kita langsung membayangkan soal Gunung Fuji? Yang pasti negara Jepang selalu memiliki daya tariknya sendiri. Ada banyak hal menarik yang selalu membuat kita penasaran soal negeri sakura ini.

Buat kamu pecinta novel dan penasaran dengan berbagai hal yang berhubungan dengan Jepang, novel yang satu ini bisa pas banget buatmu. Cahaya di Tirai Sakura menceritakan seorang pria bernama Riza yang ditugaskan bekerja di Nagoya, Jepang. Penugasan itu pun menjadi sebuah babak baru dalam kehidupannya.

Begitu sampai di Jepang, Riza langsung dibantu oleh salah satu staf di perusahaan yang sama dengannya bernama Yuta Takashima. Yuta adalah orang asli Jepang yang lancar berbahasa Indonesia. Sehingga kehadirannya bisa cukup membantu Riza untuk beradaptasi selama bekerja dan menjalani hidup baru di Jepang.

Gegar budaya (culture shock) jelas dialami Riza. Mulai dari soal makna dan aturan dalam memberi salam atau hormat dengan membungkuk (ojigi) yang ada beberapa tingkatan, kebiasaan tepat waktu yang begitu ketat (bukan cuma soal datang telat yang dianggap memalukan, datang terlalu cepat pun dianggap kurang sopan), keharusan melepas sepatu di rumah, hingga soal upacara dalam beberapa agama.

Dari pengalaman Riza bekerja di Jepang, kita jadi memahami soal budaya kerja di sana. Selama bekerja di sana, Riza tak menjumpai karyawan yang nongkrong atau menghabiskan waktu mengobrol dengan rekan lain selama bekerja. Ketepatan waktu pun sangat dijunjung tinggi. Ada karyawannya yang lebih memilih untuk izin cuti setengah hari hanya karena ia bakal datang terlambat di kantor. Ada juga yang menarik soal membagi oleh-oleh ke para karyawan yang sempat membuat Riza salah paham pada awalnya.



Banyak sekali pengalaman baru yang didapat oleh Riza. Seperti soal harakiri yang masih terjadi di Jepang. Penggunaan sumpit yang benar juga ada aturan dan maknanya sendiri. Teman Riza yang datang ke Jepang sempat ada yang bilang kalau di toiletnya ada "hantu". Soal kenapa tidak ada jalan menanjak di Jepang. Juga aturan dan etika dalam menghadiri undangan sampai soal melayat seorang rekan yang baru bisa dilakukan satu tahun setelah kematiannya.

Ditulis dengan bahasa yang ringan dan mengalir, novel ini seperti catatan harian. Kita akan diajak mengikuti perjalanan dan pengalaman Riza selama bekerja di Jepang. Sebagai seorang muslim, ia pun menemui sejumlah kendala saat beradaptasi. Salah satunya adalah soal nomikai, budaya minum-minum di Jepang. Sebagai seorang muslim, ia sempat dilema dengan budaya tersebut. Tapi ternyata dengan memberi pemahaman yang jelas, rekan-rekannya ternyata cukup terbuka dan tak mempermasalahkannya.

Membaca novel ini secara tidak langsung akan membuat kita memahami berbagai macam sisi dan budaya Jepang. Tak hanya itu saja, kita juga akan dikejutkan dengan beberapa hal yang ternyata mirip dengan yang ada di Jawa. Banyak hal dan nilai-nilai positif yang bisa diambil dari negara Jepang. Juga ada banyak hal kocak yang dialami oleh Riza dalam proses adaptasinya tinggal di Jepang.

Cahaya di Tirai Sakura merupakan salah satu novel yang bermuatan inspirasi. Membacanya tak hanya menghibur tapi juga memberi kita banyak pengetahuan baru yang mungkin selama ini belum kita ketahui sebelumnya soal Jepang.

(vem/nda)
What's On Fimela