Bagikan kepada Ayah, Bagaimanakah Mereka Ingin Dikenang oleh Anak Mereka

Fimela diperbarui 12 Jan 2018, 18:30 WIB

Ayah, dimanapun juga diharapkan untuk menjadi pemimpin, panutan bahkan ‘pahlawan serba bisa’ yang menjadi kebanggaan bagi setiap anaknya. Hal ini sudah menjadi kodrat lelaki yang memang diciptakan Tuhan dengan postur yang pada umumnya lebih besar, lebih kuat dan juga lebih bernyali dibandingkan perempuan yang menjadi pasangannya. Namun bagaimana jika seorang ayah, pemimpin di dalam rumah tangga malah kemudian pergi begitu saja, meninggalkan keluarganya karena perceraian yang terjadi? Masihkah dia akan menjadi pemimpin, panutan dan ‘pahlawan serba bisa’ bagi anaknya yang ditinggalkan? Ataukah dia hanya akan menjadi seseorang yang asing tak dikenal dan sosok yang tak dipahami oleh anaknya sendiri nanti? Ataukah dia malah akan menjadi ‘musuh terbesar’ anaknya yang menunggu kesempatan untuk membalas sakit hati dan dendam mereka kepadanya?

Dari sebuah perceraian, ada 3 kemungkinan yang bisa terjadi terhadap hubungan ayah dan anak mereka selanjutnya, dan ketiganya memiliki akibat, resiko dan konsekuensinya sendiri. SPINMOTION mengkategorisasikan profil ayah di mata anak–anak setelah perceraian terjadi di dalam keluarga mereka.

Ayah yang Ayah

Setelah perceraian antara seorang lelaki dan perempuan, hak dan kewajiban sebagai orang tua bagi anak–anaknya akan tetap melekat pada diri mereka berdua selamanya. Apabila kesadaran dan kerelaan akan hal ini tetap mereka berdua miliki, maka mereka akan tetap bisa bekerja sama, bahu membahu dan saling mengisi di saat menjalankan tugas dan kewajiban mereka berdua sebagai orang tua bagi anak mereka, walaupun sudah tidak bersama lagi sebagai suami isteri. Co-parenting yang baik akan menghasilkan hasil yang baik pula terutama dalam memberikan pemahaman kepada anak atas peristiwa perpecahan yang telah terjadi dalam keluarga mereka. Citra keduanya sebagai orang tua pun di mata anak, juga tetap akan baik dan justru akan membaik seiring dengan kerjasama yang terus dilakukan dalam setiap momen pengasuhan anak dalam aktivitas sehari–hari. Ayah akan tetap menjadi ayah yang dicintai, dihormati dan menjadi panutan bagi anak mereka, walaupun dalam hal perceraian yang telah terjadi, anak dianjurkan untuk tidak boleh mencontoh dan mengikuti.

Ayah yang Payah

Keberadaan sosok lelaki yang egois, mendahulukan kepentingannya sendiri di atas tanggungjawabnya sebagai ayah terhadap keluarganya setelah perceraian yang terjadi dengan pasangannya, sangatlah banyak. Konon 2 dari 3 perceraian yang terjadi di negeri ini akan memunculkan permasalahan dalam keluarga yang ditinggalkan oleh para lelaki karena peran membesarkan, mengasuh dan mendidik anak mereka, justru diabaikan oleh para lelaki. Yang seharusnya setiap mereka memahaminya sebagai amanah yang dianugerahkan oleh Tuhan sebagai seorang laki-laki. Hanya sesekali, sesuai keinginannya sendiri, dengan upaya seadanya sebagai andil untuk membantu jalannya kehidupan keluarga yang mereka tinggalkan. Demikianlah yang biasanya dilakukan oleh para lelaki ini. Buruk dalam berkomunikasi, kurang atensi dan jarang mengunjungi anak mereka yang hak asuhnya dimiliki oleh para perempuan sebagai ibunya , karena usia anak yang masih belia. Dan sebagian besar mereka tidak memenuhi tanggungjawab finansial khususnya terhadap anak-anaknya dalam hal biaya hidup dan pendidikan.

Ayah yang Parah!

Pernahkah mendengar cerita seorang lelaki yang pergi begitu saja tanpa pamit, dan berkabar sama sekali setelah perceraian dengan isterinya terjadi? Atau pernahkah mendengar kisah seorang lelaki yang berselingkuh dengan perempuan lain, menikah lagi secara diam-diam dengan segala muslihat yang dilakukan, kemudian meninggalkan isteri pertama dan anak-anaknya tanpa pertanggungjawaban sama sekali? Bahkan seringkali penyelewengan ini justru menggunakan secara sepihak aset atau kekayaan yang seharusnya menjadi hak milik bersama dengan isteri pertamanya sekaligus hak milik anak-anaknya yang sejatinya adalah sebagai atas semua kekayaan yang dimiliki oleh mereka berdua. Inilah profil sesosok ayah yang akan dikenang oleh anak – anaknya sebagai perusak hidup mereka. Tak lagi sekadar ‘bukan panutan lagi’ namun akan menjadi ‘musuh utama’ bagi anak-anak mereka bahkan hingga akhir jaman. Hal ini menjadi tak terelakkan, manakala anak-anak telah menjadi saksi sekaligus menjadi korban atas egoisme seorang lelaki yang seharusnya menjadi ayah yang penuh pengertian dan mengabdi kepada kepentingan keluarga, namun justru melakukan penelantaran. Sakit hati dan dendam terhadap ayahnya yang dimiliki oleh anak-anak akan sulit dihilangkan dalam sepanjang hidupnya, dan bisa jadi mereka akan ‘membalas’ jika mereka mendapatkan kesempatan di kemudian hari.

Demikianlah 3 kemungkinan profil yang akan dimiliki oleh seorang lelaki setelah perceraian yang terjadi dengan isterinya dan harus berpisah dengan keluarga yang dibinanya dari awal perkawinan mereka berdua. Profil dan citra yang didapat dari kaca mata anak-anak mereka dengan dasar penilaian atas apa dan bagaimana lelaki tersebut tetap bertindak sebagai ayah bagi mereka. Ya, para lelaki yang akan tetap menjadi ayah bagi anak- anaknya walau apapun yang terjadi. Karena mantan suami itu adalah predikat yang niscaya bagi lelaki manapun yang menikah, namun status ‘mantan ayah’ tak akan mungkin terjadi semenjak mereka memiliki anak-anak dari hasil perkawinan mereka. Dan walaupun menjadi ayah adalah selain pilihan dan hak setiap laki-laki, namun menjadi ayah yang baik adalah kewajiban yang harus dilaksanakannya semenjak seorang bayi terlahir dari rahim yang dibuahinya. Titik tak pakai tapi, tanpa kecuali!

(vem/apl)
What's On Fimela