Anak itu Digendong lalu Digandeng, Anak itu Dijunjung bukan Dijinjing

Fimela diperbarui 18 Jan 2018, 13:15 WIB

Saat seorang anak dilahirkan, beberapa hak dasar telah melekat pada dirinya dan salah satu hak yang paling sering diabaikan adalah hak untuk berpartisipasi dan berpendapat di dalam keluarga, sebagai individu yang bebas dan merdeka. Lalu bagaimana dengan anak–anak yang belum bisa menyampaikan pendapatnya dikarenakan ketidakmampuannya berkalimat atau disebabkan belum mampunya mereka tuk berkata–kata secara sempurna?

Jika mereka bisa berbicara semenjak dilahirkan, mungkin beberapa hal pokok inilah yang ingin disampaikan oleh mereka;

Semestinya setiap orang tua membekali diri tentang pemahaman tentang tugas dan kewajibannya sebagai pengasuh, pelindung, penyedia sekaligus sebagai pengabdi yang setia bagi anak–anaknya. Karena bagaimanapun juga anak–anak adalah aset masa depan bukan saja bagi kedua orang tuanya, namun juga bagi lingkungannya sebagai generasi penerus peradaban manusia.

Dengan mengasuh dan mendidik anak–anak menjadi manusia–manusia yang sempurna akal dan budi pekertinya, berarti para orang tua secara langsung dan tidak langsung telah mewariskan pengetahuan tentang cara menjadi orang tua yang baik pula. Walau di dunia ini tidak ada sesuatu hal yang sempurna, namun setidaknya, menjadikan anak–anak sebagai manusia–manusia yang berfungsi, berguna dan bermanfaat bagi lingkungannya sudah merupakan tugas yang telah sukses dilaksanakan dengan hasil yang memuaskan dan pencapaian yang istimewa.

Menghargai anak–anak dalam setiap aktivitas kehidupan sehari–hari adalah salah satu contoh tugas orang tua yang harus dijalani. Dengan menghargai mereka, berarti mengajarkan mereka untuk menghargai orang lain sebagai salah satu hasil pencapaiannya. Tiada mungkin seorang anak akan menjadi manusia yang bisa menghargai orang lain, jika dia dibesarkan tanpa rasa penghargaan bagi dirinya dari orang tuanya. Dan sekali lagi, sudah menjadi hak dasar mereka untuk dihargai keberadaan, pendapat serta partisipasinya dalam kehidupan berkeluarga, semenjak mereka dilahirkan ke dunia.

Dengan naluri, kemudian dengan nalar berlogika, mereka akan menyerap makna dari penghargaan yang diberikan oleh orang tuanya yang mereka terima dalam setiap saat kehidupan mereka. Setiap perkataan, setiap perlakuan yang diterima oleh mereka, akan dikembalikan dalam wujud yang serupa. Baik kepada orang tua mereka, atau kepada anak–anak mereka nantinya. Karena sudah bukan menjadi satu rahasia lagi, bahwa ‘mengasuh dan mendidik anak–anak dengan baik, berarti mengasuh dan mendidik dengan baik anak–anak dan keturunan mereka selanjutnya.’

Sejak bayi, hargailah anak–anak sebagai makhluk yang istimewa yang dititipkan oleh Sang Pencipta dengan syarat dan ketentuan yang telah jelas dan berlaku semenjak manusia pertama di dunia. Bahwa anak–anak harus diasuh, dididik, dan dilindungi serta dihargai sebaik mungkin sebagai makhluk berjiwa yang memiliki pikiran dan hati nurani mereka sendiri.

Santunlah kepada mereka, maka mereka akan menjadi sopan. Sayangilah mereka, maka mereka akan menjadi pribadi yang pengasih. Nomor satukanlah mereka, maka mereka akan mengutamakan orang tua dan keluarganya. Terutama saat munculnya beberapa prioritas yang menjadi penyebab munculnya dilema, maka jadikanlah mereka sebagai prioritas yang utama. Karena memilih mereka sebagai prioritas utama, menunjukkan pengabdian mutlak orang tua pada alur kehidupan yang selalu akan bergerak maju, bukannya mundur dan surut ke belakang atau diam berhenti di tempat saja.

Akhirnya, jika saja anak–anak diberikan kemampuan bicara sejak detik pertama mereka dilahirkan, mungkin saja mereka akan berkata;

“Wahai ayah dan ibu, hargailah kami sejak hari ini dan ingatlah bahwa dunia dan seisinya bukanlah warisan nenek moyang kalian semua, namun pinjaman dari kami dan akan berlaku demikian seterusnya, hingga keturunan-keturunan kami selanjutnya.”

(vem/feb)