Generasi Sandwich: Antara Tanggung Jawab Orang Tua, Anak dan Diri Sendiri

Fimela diperbarui 24 Jan 2018, 12:47 WIB

Sandwich generation. Mungkin istilah ini belum begitu populer di Indonesia. Kalau kamu membayangkan "sandwich generation" adalah istilah yang mengacu pada dunia kuliner, bukan ... Sebutan ini adalah menyoal tanggung jawab mereka yang berusia 30 hingga 50 tahun yang berada dalam posisi 'terjepit'.

Tanggung jawab di pundak generasi sandwich

Semakin kita dewasa, semakin besar pula tanggung jawab kita. Dulunya saya berpikir, "tanggung jawab" itu adalah bagaimana kita bisa hidup mandiri dan menyelesaikan segala masalah sendiri. Tetapi realitanya, tanggung jawab bukan hanya menyangkut diri sendiri. Keluarga adalah bagian dari paket yang menyertainya. Bagi yang berkeluarga, kebutuhan anak dan kebutuhan orang tua yang memasuki usia pensiun adalah dua hal yang tak bisa dilepaskan dari paket tanggung jawab ini. Selain kebutuhan hidup sehari-hari tentunya.

Penelitian yang kami lansir dari Pew Research Center tahun 2013 menyebutkan, sekitar 47 persen orang dewasa di usia 40 hingga 50 tahun memiliki orang tua dengan usia 65 tahun ke atas, sementara mereka juga memiliki anak dengan usia sekitar 18 tahun. Kedua kelompok usia ini (anak-anak/remaja dan orang tua) adalah kelompok yang butuh didukung secara finansial oleh generasi sandwich ini.

Generasi sandwich rentan stres

Generasi ini berada dalam posisi 'terjepit' karena adanya tanggung jawab merawat orang tua yang sakit dan tak lagi produktif dan memenuhi kebutuhan anak yang beranjak dewasa. Jika dilihat lebih luas, posisi terjepit ini bukan hanya soal finansial, melainkan juga secara emosional dan fisik.

Dengan beban tanggung jawab yang berat, sandwich generation diharuskan punya karir dan penghasilan yang bagus, punya manajemen waktu yang baik untuk orang tua dan anak-anaknya, sementara mereka juga harus bisa mengelola personal issues-nya (mempersiapkan pensiun, tabungan pribadi, mengelola stres dan sebagainya).

Nyatanya, justru segala tekanan ini membuat generasi sandwich rentan trehadap stres. Di saat orang lain di luar dirinya diperhatikan, tanpa disadari mereka sendiri tak memperhatikan dirinya. Their life is juggling, upside-down.

Jika kamu adalah generasi sandwich dan memiliki saudara, cobalah diskusikan dengan saudaramu untuk pembagian tugas ini secara finansial atau pun emotional support. Jika kamu adalah anak tunggal, cobalah berkonsultasi dengan financial planner bagaimana mengelola kebutuhan yang beragam ini.

Apapun yang terjadi, generasi sandwich selayaknya tak mengesampingkan kesehatan jiwa dan raganya sendiri. Bukan berarti tanggung jawab yang tinggi mengorbankan dirimu. Memang tak mudah, tetapi kamu pasti bisa menjalaninya.

(vem/wnd)
What's On Fimela