Mamah Menunggu Izin Bapak untuk Embuskan Napas Terakhirnya

Fimela diperbarui 27 Feb 2018, 13:00 WIB

Kedua orangtua kita seringkali jadi role model utama kita dalam memaknai cinta. Seperti kisah yang diceritakan sahabat Vemale yang disertakan dalam Lomba Bukan Cinta Biasa ini. Sungguh mengharukan bagaimana seorang istri masih begitu kuat berjuang hingga akhir hayatnya.

***

Menikah di tahun 1988, memiliki tiga orang puteri dan hidup pas-pasan menghiasi rumah tangga orangtua saya. Gaji Bapak sebagai guru sekolah menengah di tempat terpencil tak bisa mencukupi kebutuhan sebulan penuh, ditambah sifat Bapak yang, “Gimana nanti aja,” seringkali membuat Mamah kesal, dan mengambil langkah untuk menambal perekonomian keluarga.

Mamah yang berkemauan keras dan paling benci bermalas-malasan kemudian memilih untuk membuka warung. Keputusan Mamah tersebut tentu saja setelah mendapatkan izin dari Bapak. Ia tak mau melakukan hal yang melangkahi posisinya sebagai seorang istri. Ia tak mau melangkahi Bapak dan membuat Bapak merasa tidak dihargai sebagai kepala keluarga. Berkat izin tersebut, alhamdulillah, rezeki kami waktu itu mengalir dengan sangat lancar. Mamah yang berdagang dan Bapak yang mendapat tugas untuk berbelanja kulakannya. Perekonomian keluarga membaik dan kami bisa menabung, sebuah hal yang nyaris tak bisa kami lakukan sebelumnya.



Memiliki penghasilan yang lebih besar dari Bapak tak lantas membuat Mamah jadi besar kepala, apalagi sampai unggah adat atau lupa diri. Mamah tetaplah Mamah, seorang wanita biasa yang begitu hormat kepada suami, ia tahu persis jika ridha Allah bagi para istri ada pada ridha suami dan ia amalkan betul hal itu. Ia tak pernah keluar rumah tanpa meminta izin Bapak, tak pernah ia pergi kemana-mana tanpa Bapak ketahui. Pergi ke tetangga untuk memberitahukan jemuran kehujanan saja Mamah minta izin, lho!

Mamah dan Bapak tidak romantis, tetapi sesekali saya pergoki Bapak memeluk Mamah, lalu mengecup keningnya dengan sayang sambil berterima kasih atas semua pengorbanannya untuk keluarga. Biasanya Mamah hanya akan tersenyum, sambil malu-malu, “Anak-anak lihat,” begitu katanya. Saya yang masih SMP saat itu cuma bisa ikut malu-malu, sambil dalam hati berharap bisa jadi istri sekuat Mamah, dan memiliki suami yang setia seperti Bapak.

Hingga pernikahan mereka ditimpa musibah, fitnah keji menghantam karier Bapak dan membuat keluarga terpaksa mengungsi. Bukan karena nama yang tercoreng, hal itu tak membuat gentar karena  Mamah yakin Bapak tidak bersalah dan Tuhan akan membersihkan nama Bapak suatu saat nanti. Mamah hanya ingin situasi yang kondusif dan aman untuk pertumbuhan saya serta adik-adik, kesehatan jiwa kami jauh lebih penting daripada tetap bertahan di dalam zona nyaman—yang tak lagi nyaman itu.

Setelah cinta dan kesetiaan Mamah teruji saat fitnah keji tersebut datang, sekarang giliran Bapak yang diuji. Mamah divonis tumor payudara dan harus dilakukan pengangkatan sebelah payudara jika tak ingin penyakitnya menyebar. Ikhlas, begitulah yang saya lihat dari Mamah dan Bapak. Proses kemoterapi yang panjang, menghabiskan tenaga dan kesabaran, tetapi Bapak tetap mendampingi Mamah.

Mamah yang biasanya penuh rasa optimis, semangat menatap masa depan langsung ambruk dengan kenyataan yang menghantamnya. Rambut yang rontok sampai habis, kulit yang menghitam dan tubuh yang sangat ringkih membuat Mamah tak merasa cantik lagi. Pada masa-masa inilah Bapak melimpahkan cinta pada Mamah dalam hitungan yang tak terkira. Bapak memeluk Mamah lebih sering dari yang ia lakukan sebelumnya, menyayangi Mamah lebih banyak dari biasanya, ia tahu betul bahwa Mamah butuh dukungan luar biasa dari dia, suaminya.



Hampir setahun Mamah berjuang menjalani pengobatan, harapannya untuk sembuh sangat besar. Ia ingin hidup lebih lama bersama Bapak, juga saya dan adik-adik. Akhir tahun 2017, pengobatan tak kunjung membawa Mamah pada kesembuhan, kondisi Mamah memburuk dan awal tahun 2018 kami lewatkan dengan hati yang pilu. Mamah berulang kali keluar masuk rumah sakit, dirawat inap ditemani Bapak berdua saja. “Tak apa, hitung-hitung pacaran lagi,” canda Bapak, Mamah tersenyum tipis mendengarnya.

Hari itu, tanggal 13 Februari 2018 pagi, Mamah sudah dimandikan Bapak sampai bersih betul. Pakai pakaian bersih dan sudah disuapi, Bapak pun pamit membawa obat kemoterapi bulanan untuk Mamah di luar kota, butuh waktu 8 jam untuk pulang pergi. Mamah mengangguk lesu, berusaha tersenyum supaya Bapak tak khawatir.

Hari beranjak siang, kondisi Mamah memburuk dan saudara-saudara yang datang mulai mengaji. Tak perlu diceritakan hancurnya hati saya waktu itu melihat Mamah yang begitu kuat dan tegar, menjadi sangat ringkih dan lemah saat sakratul maut. Saya peluk Mamah seperti yang Bapak lakukan, membisikkan lafadz Allah dan menghibur Mamah untuk menunggu Bapak yang sebentar lagi pulang. Mamah yang patuh, ia tenang menunggu Bapak. Allah mengizinkan Bapak untuk bertemu Mamah terakhir kali, sesaat setelah kembali dari mengambil obat, Bapak sempat memeluk Mamah dan membimbingnya menyebut asma Allah. Hanya dua tarikan napas dan ruh Mamah lepas dari raganya.



Bapak pucat seketika, tapi ia tak menangis. Sama sekali tidak, kenapa? Ia tak mau teteskan air mata karena ingin melepas istri yang ia cintai menemui Rabb-nya dengan hati yang ikhlas dan ridha, ia ingin menagih janji Allah yang akan masukkan seorang istri ke dalam surga berbekal ridha sang suami. Ini adalah bentuk cinta Bapak pada Mamah, kasih sayang Bapak yang ingin menemani perjalanan Mamah menuju surga.

Hingga ke pemakaman, Bapak tak sedikit pun lepaskan matanya dari Mamah. Tatapannya nanar, tapi senyum lirih di bibirnya. Berkali-kali berbisik, “Mah, Bapak ikhlas. Bapak ridha. Mamah istri yang patuh, semua yang Mamah lakukan Bapak ridho.”

Dan sampai saat ini, saya yang sulit menahan tangis. Betapa Mamah dan Bapak saya saling mencintai, sampai detik terakhir sekalipun. Semoga Allah membukakan pintu surga untuk Mamah saya, istri patuh dan penurut. Biarkan Mamah menanti Bapak, untuk berkumpul bersama di surga-Nya suatu saat nanti. Aamiin. Al-Fatihah.



(vem/nda)
What's On Fimela