Fenomena Pelakor dan Cinta yang Tidak pada Tempatnya

Fimela diperbarui 28 Feb 2018, 14:30 WIB

Tulisan sahabat Vemale yang satu ini menyoroti fenomena pelakor dan cinta yang sering jadi kambing hitam.

***

Setiap orang pasti menantikan apa yang dinamakan cinta. Cinta yang memiliki beragam sudut pandang. Cinta yang kadang mengubah kita jadi iblis atau membuat kita menjadi lebih humanis. Tidak semua orang bisa mendefinisikan cinta dengan tepat serta bijak karena ia sendiri ambigu. Cinta pun beraneka warnanya.

Bukan cinta biasa merupakan cinta yang memiliki sisi tidak sempurna namun ia akan bertahan untuk menjadi sempurna. Ada perasaan rela untuk berkorban. Ada perjuangan untuk kesempurnaan. Namun di sisi lain ada cinta yang  seharusnya tidak terjadi. Ada cinta yang lebih banyak menyakiti daripada mengukir bahagia.   

Di sini saya akan membahas realita yang  telah menjadi fenomena dalam masyarakat. Bukan cinta biasa dilihat dari sudut pandang serta realitas yang cenderung negatif. Realitas yang mengambinghitamkan cinta sehingga kehilangan legalitas. Cinta yang telah kehilangan esensi murninya sebagai sesuatu yang membawa bahagia karena lebih banyak menyakiti pihak lain.  



Fenomena pelakor (perempuan perebut laki orang) merupakan salah satu, contoh konkret bukan cinta biasa yang lebih banyak mendapatkan penilaian negatif masyarakat. Pelakor hadir bagaikan efek domino yang meresahkan banyak ibu rumah tangga. Saya memang  belum berkeluarga tetapi saya senang mengamati dan berdialektika dengan keadaan di sekitar. Pelakor yang diidentikkan dengan perusak rumah tangga orang sesungguhnya adalah tokoh sentral dalam tulisan ini.

Kekayaan yang berlimpah yang selama ini dijadikan indikator kenapa seorang suami memiliki WIL (wanita idaman lain) atau zaman sekarang lebih dikenal sebagai pelakor. Tetapi anggapan itu saat ini sudah tidak relevan lagi, karena fenomena pelakor telah mendobrak batas stratifikasi sosial. Kenyataan itu bisa kita temui di sekitar kita bahwa mereka yang memiliki WIL bukan hanya mereka yang memiliki kemampuan materi yang mumpuni. Tetapi mereka yang ekonominya terhitung biasa-biasa saja.

Seseorang yang dianggap sebagai pelakor biasanya memiliki perasaan cinta yang tidak pada tempatnya karena ada hati lain yang terluka. Perasaan cinta adalah hak prerogatif setiap orang tetapi bukan berarti harus menyakiti perasaan, sesama apalagi sesama wanita. Manusia hidup bermasyarakat oleh karena itu di sebut makhluk sosial. Makhluk sosial adalah makhluk yang pasti membutuhkan orang lain dalam memenuhi kebutuhannya. Termasuk dengan kebutuhan untuk mencintai dan juga dicintai.

Sujiwo Tejo pernah menyatakan, "Menikah adalah nasib, mencintai adalah takdir. Kau boleh berencana menikah dengan siapa tapi tak bisa kau tentukan cintamu untuk siapa."



Ungkapan ini benar tapi bukan untuk membenarkan tindakan para pelakor. Di sinilah sebenarnya  kita diajarkan untuk mencintai dengan cara yang bersahaja dan bijaksana. Cinta tak selalu datang sebagai  bentuk kesenangan. Ia datang dengan berbagai macam wujud dan juga maksud. Cinta kadang datang sebagai ujian yang tidak melulu kebahagiaan, di sinilah kita dituntut untuk meletakkan rasa cinta pada tempat yang seharusnya.

Menurut sudut pandang saya cinta yang dirasakan para pelakor hadir untuk menguji kebijaksanaan. Bukan serta-merta menyakiti hati sesama kaum wanita. Hanya untuk meraih kesenangan pribadi dengan mengambinghitamkan cinta sebagai perasaan yang tidak pernah salah.

Mungkin hal ini sulit tetapi percayalah para wanita yang mampu mengendalikan diri untuk tidak menjadi pelakor  meskipun banyak kesempatan sesungguhnya adalah wanita yang sangat  luar biasa. Kebaikan dan kesejahteraan akan selalu tercurah pada mereka. Karena dengan menjadi seorang pelakor tindak hanya hati satu wanita yang mereka sakiti. Bahkan  anak-anak dan anggota keluarga yang lain. Anak-anak yang tidak berdosa kadangkala akan merasa trauma dan tidak percaya dengan cinta sejati.

Bagaimana pun warna-warni definisi cinta hadir dalam kehidupan kita, letakkan sesuatu yang amat indah nan agung ini pada tempat yang semestinya, sehingga tidak ada orang yang merasa telah direbut miliknya. Memang cinta itu tak salah tapi kita sebagai sesama wanita kita harus berpikir bagaimana seandainya kita berada pada posisi yang tersakiti. Bagi pria  atau wanita yang sedang terlibat dalam hubungan cinta yang cukup rumit ini, seyogyanya kita selalu mengingat bahwa kita semua lahir dari seorang ibu yang juga seorang wanita.
     
Tidak selamanya cinta hadir untuk bersama. Kadang ia datang hanya untuk mengajarkan kita sesuatu. Untuk bijaksana  tidak memaksa memiliki tapi merelakan saat cinta itu tertambat pada dia yang tidak tepat.







(vem/nda)
What's On Fimela