Dikucilkan di Sekolah Ditambah Masalah Keluarga, Aku Sempat Mau Bunuh Diri

Fimela diperbarui 22 Mar 2018, 14:30 WIB

Setiap wanita punya kisah hebatnya masing-masing. Banyak inspirasi yang bisa didapat dari cerita seorang wanita. Seperti tulisan dari sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Rayakan Hari Perempuan Sedunia ini.

***

Sejak SD aku di-bully karena memiliki fisik yang bagi mereka ‘tidak cantik’. Bagi mereka cantik itu berkulit putih, sedangkan aku terlahir dengan kulit sawo matang yang cenderung gelap. Aku mengaku, pernah tidak mensyukuri kulit gelapku. Namun sekarang aku sadar bahwa cantik tidak harus berkulit putih.

Setelah lulus SD, aku berpikir bahwa bullying akan berakhir. Namun ternyata tidak. Saat duduk dibangku SMP, aku mengalami bullying hingga dijuluki ‘mulut comberan’ karena melaporkan tindakan penganiayaan yang dilakukan geng populer di sekolahku. Geng populer tersebut menganiaya salah satu orang temanku sepantaran yang tidak aku ketahui namanya.

Aku melaporkannya ke guru tatib (tata tertib) karena anak laki-laki yang dipukuli itu sudah babak belur dan mengucurkan darah hingga bangku rusak. Hati nuraniku terketuk untuk menyelamatkannya dengan cara segera melaporkan kejadian ini pada guru tatib. Guru tatib pun tiba dan menyelesaikan perkara.



Setelah melaporkan, aku pikir perkara akan selesai. Namun ternyata tidak. Aku justru menjadi ‘common enemy’ satu sekolah pasca melaporkan kejadian itu hingga dilabrak dan dicegat sepulang sekolah oleh para anggota geng populer perempuan. Bahkan mereka mengancam akan melabrak siapapun yang berani berteman denganku. Aku hanyalah anak perempuan biasa yang tidak populer sehingga aku tidak memiliki ‘power’ untuk melawan mereka. Tapi aku tidak menyesal telah melaporkan kejadian tersebut. Andai aku tidak melaporkan, mungkin kasus ini akan muncul di koran atau berita lokal.

Tiga tahun setelah aku melewati masa SMP, akhirnya masa SMA tiba. Namun bullying tetap menyasar padaku. Memang bullying yang aku alami tidak separah saat SMP. Aku mengalami body shamming karena memiliki payudara besar sehingga banyak yang menilaiku dengan stigma negatif tetapi aku cuek menghadapinya.



Di saat aku harus melewati masalah eksternal yang membuatku tertekan, ada masalah internal keluarga yang juga harus aku hadapi. Aku terlahir dari keluarga utuh tapi dengan orangtua nyaris akan bercerai. Ayahku berprofesi sebagai seorang dosen, sedangkan ibuku adalah seorang ibu rumah tangga yang mengabdikan dirinya mengurus anak-anak. Ayahku adalah seorang yang temperamental hingga tak jarang ia kerap berkata kasar dan memukul istri dan anak-anaknya. Pertengkaran ayah dan ibuku kerap menjadi tontonan bagiku dan adik-adikku. Ayahku sering mengeluarkan kata-kata menyakitkan hanya karena rumah kurang bersih, masakan tidak enak, atau adikku bermasalah di sekolah. Sebagai seorang perempuan, aku sakit hati melihat perlakuan ayahku terhadap ibuku.



Ibuku adalah lulusan sarjana yang seharusnya bisa melanjutkan karier. Karena terbuai dengan cinta, ibuku memilih menikah muda. Dahulu saat ibuku ingin bekerja, ayahku melarangnya. Namun kini ayahku justru merendahkan ibuku dengan cara menghinanya tidak bisa berkontribusi bagi ekonomi keluarga. Perih rasanya ketika aku tak sengaja melihat ibuku menangis diam-diam. Ia menyembunyikan air matanya di depan anak-anaknya.

Melewati masa-masa sekolah dengan penuh bullying dan terlahir dari keluarga ‘broken home’ yang sering mengalami kekerasan, pernah membuatku mencoba untuk bunuh diri. Namun aku sadar bahwa bunuh diri tidak akan menyelesaikan masalah. Aku harus bangkit dan membuat sinar kebahagiaan di duniaku yang suram.



Usai melalui lika-liku kerasnya kehidupan, aku berhasil meraih gelar sarjana dengan predikat cumlaude di usia 22 tahun. Tak menunggu lama, kini aku bekerja di sebuah perusahaan berita online bagian digital promotion. Aku juga aktif di dalam organisasi kemanusiaan yang menyuarakan suara perempuan. Bergabung dalam organisasi kemanusiaan, aku menemukan sebuah ‘circle’ pertemanan positif. Aku banyak belajar tentang kasus kekerasan seksual, kekerasan perempuan dan anak, dan kemanusiaan. Bukan hanya itu, bahkan aku bertemu langsung dengan mereka dan memberikan dukungan moral.

Setelah semua yang aku alami, aku sadar bahwa hidup itu pilihan kita sendiri. Tuhan mungkin menakdirkan kita terlahir dengan keterbatasan fisik, kekurangan ekonomi, berparas kurang menarik, mengidap sakit keras dan memiliki keluarga broken home. Tetapi Tuhan tidak menakdirkan hidup seseorang akan sengsara. Sengsara atau bahagia itu kita sendiri yang menentukan jika kita percaya bahwa kita bisa.





(vem/nda)