Kesibukan Bisa Mendatangkan Kebahagiaan, Sebab Hidup Perlu Pencapaian

Fimela diperbarui 28 Mar 2018, 17:00 WIB

Setiap wanita punya kisah hebatnya masing-masing. Banyak inspirasi yang bisa didapat dari cerita seorang wanita. Seperti tulisan dari sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Rayakan Hari Perempuan Sedunia ini.

***

"Can I do it well?"
Sebuah pertanyaan yang awalnya sering terlintas dalam benakku ketika awal meniti karier. Memilih untuk bekerja sambil kuliah memang menjadi pilihanku. Bukan hanya sekadar mencari kesibukan, tapi karena memang aku membutuhkannya untuk membiayai uang kuliah dan juga biaya hidup sehari-hari.

Ya, sejak masih duduk di bangku SMA, keinginanku untuk kuliah memang sangat besar. Tapi, aku juga tidak tega kalau harus menengadahkan tangan terus kepada kedua orangtua, apalagi saat itu kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas. Aku bertekad untuk bisa berjalan sendiri tanpa bantuan dari kedua orangtuaku.

Aku pun mulai melihat apa kelebihan yang aku punya. Akhirnya, dengan kemampuan bahasa Inggris, aku mulai memberanikan diri menjadi asisten pengajar di tempat les, menjadi guru privat dan sekaligus menjadi guru honorer di sebuah Sekolah Dasar. Itu semua aku lakukan sambil menjalani kuliah di kelas karyawan di sebuah universitas swasta di Kota Bandung.



Seiring berjalannya waktu, aku mulai memberanikan diri membuka tempat les sendiri. Memang tidak semudah yang aku bayangkan, awal mula aku membuka tempat les, ada saja rintangannya. Mulai dari alat promosi yang aku sebar di jalan utama dirusak orang, sampai susahnya mencari murid. Life is a process. Itulah yang menjadi alasan kuatku untuk tetap bertahan. Dan, akhirnya mulai berdatangan orang-orang yang ingin belajar di tempatku.

Tak pernah terbayangkan aku bisa memiliki sekitar 100an murid. Bahkan aku ditawari untuk mengajar bahasa Indonesia untuk orang asing. Murid-muridku itu berlatar belakang mahasiswa, dosen, guru dan juga pengusaha.

Aku tak pernah mengira tawaran demi tawaran datang menyapa. Di saat jadwal yang sudah semakin padat, aku diamanahi untuk menjadi kepala sekolah di TPQ-MDA di Perumahan tempat tinggalku. Awalnya aku menolak, tapi karena tawaran ini ada sisi kemanusiaannya juga, akhirnya aku menerimanya.



Is that enough? No. Selain mengajar mengelola tempat les, mengajar bahasa Inggris, mengajar BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing), mengelola TPQ-MDA, aku juga memiliki kesibukan lain. Setiap akhir pekan, biasanya aku diminta mengisi seminar tentang remaja dan orangtua. Terkadang aku harus mengunjungi sekolah ataupun membuka kelas sendiri di tempat komunitas bersama beberapa orang teman.

“Miss Intan itu kapan sih makannya?”
“Miss Intan itu apa nggak capek kerja nggak ada liburnya?”
Pertanyaan-pertanyaan itu sering sekali aku dengar, baik itu dari murid, orangtua dan bahkan para tetangga maupun teman.



Memang dengan jadwal yang seabreg itu, aku terlihat tidak memiliki me time. Aku menghabiskan waktu dari Senin hingga Minggu untuk melakukan semua aktivitasku. Dan, jam mengajarku dari mulai pukul 5 pagi sampai 9 malam.

“Apa aku nggak lelah?”
Bohong rasanya kalau bilang tidak lelah. Apalagi sebelumnya aku memang terkenal sakit-sakitan. Awalnya aku sendiri sangsi dengan diriku. Tapi, akhirnya aku bisa membuktikan bahwa bisa melakukan semuanya. Aku bisa menjemput impian demi impian. Ya, dari 24 jam dan 7 hari itu, aku harus berhadapan dengan berbagai usia dan karakter. Aku memang mengajar mulai dari anak usia 2 tahun sampai kakek-nenek usia lebih dari 60 tahun.

Bagiku apa yang aku lakukan adalah sebuah pencapaian dalam hidup. Satu hal yang aku ambil pelajaran, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. I can do it well because I believe I can do it well.  





(vem/nda)
What's On Fimela