Langkah Via Vallen Ungkap Pelecehan Didukung Aktivis

Fimela diperbarui 06 Jun 2018, 15:30 WIB

Via Vallen memilih untuk mengungkap sekaligus mempermalukan pelaku pelecehan terhadap dirinya, walau ia tak mengungkap identitasnya secara gamblang. Walau mendapatkan beragam tanggapan, namun bagi Anindya Restuviani Co-Director Hollaback! Jakarta, lembaga yang berjuang membela hak perempuan, langkah pedangdut itu sudah benar.

Parameter terjadi pelecehan

Banyak yang menganggap bahwa Via Vallen bereaksi berlebihan. Tak sedikit yang berujar bahwa pelantun “Sayang” itu hanya mencari sensasi. Tapi menurut Anindya, parameter pelecehan itu sangatlah luas.

“Parameter pelecehan itu dapat terjadi ada relasi kuasa antara pelaku dan target, relasi kuasa merasa berhak melakukan. Terjadi pelecehan ketika kita merasa tidak nyaman, contohnya ketika di jalan pria melakukan catcall bilang ‘hai cantik’. Ada beberapa orang yang merasa itu pujian, adapula yang merasa pelecehan karena merasa tidak nyaman mendapat catcall, karena Itu sebenarnya sudah merebut ruang pribadi perempuan. Jadi tergantung dari diri kita sendiri nyaman atau tidak nyamannya,” jelasnya saat dihubungi Vemale.com, Rabu (6/6).

Dari penjelasan Anindya sudah jelas, bahwa saat korban merasa tak nyaman, bukanlah hak orang lain untuk menganggap korban hanya berlebihan apalagi mencari sensasi. Bahayanya, saat pelaku merasa dimaklumi, maka bisa jadi perilaku pelecehannya (yang tadinya ringan) akan berkembang menjadi pelecehan yang lebih berat.

Baca Juga: Pesan Genit ke Via Vallen, Pelecehan atau Bukan

Apa yang Harus Kita Lakukan Jika Mengalami Pelecehan?

“Yang harus kita lakukan jika terjadi pelecehan sebaiknya speak up,” ujar Anindya.  Menurutnya, apa yang dilakukan Via adalah langkah yang sangat tepat karena diharapkan pelaku akan jera. Masih menurut Anindya, sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari, banyak perempuan yang mengalami pelecehan ringan seperti yang dialami Via, hanya saja banyak yang memilih diam.

“Banyak yang tidak berani berkata jujur karena alasan keamanan, takut disalahkan, atau takut dibilang lebay,” lanjut Anindya.

Hal ini juga diamini oleh Psikolog Tara de thouars. Menurutnya masyarakat harus mulai menyadari bahwa perempuan juga punya hak berekspresi, termasuk saat ia merasa dilecehkan. Mendengarkan, mempercayai dan mendukung korban saat melaporkan pelecehan yang dialaminya adalah salah satu cara untuk mengurangi angka pelecehan terhadap perempuan.

Perlunya mengubah pola pikir terhadap korban pelecehan adalah hal yang paling penting. Berhentilah membuat korban malah merasa bersalah ketika mereka melaporkan pelecehan. Bukan korban yang harusnya dipermalukan, tapi pelaku pelecehan.

Say no to sexual harassment!

(vem/kee/apl)
What's On Fimela