Lelah Ditanya Kapan? Percaya yang Tuhan Inginkan akan Saling Menemukan

Fimela diperbarui 15 Jul 2018, 12:00 WIB

Sudah berapa kali kamu ditanya kapan menikah? Kesal, marah dan merasa tidak nyaman. Pernikahan bukan perlombaan, bukan pertunjukan ajang gelar prestasi. Namun, hingga kini pernikahan menjadi gelar tertinggi untuk mendapatkan sebuah pengakuan.

Terlepas apa pun alasannya menikah adalah hal yang baik. Tapi ada juga sebagian yang menganggap menikah adalah jawaban masalah yang sedang ia hadapi. Menikah untuk mengatasi masalah ekonomi, menikah agar terbebas dari celaan jomblo dan 'tidak laku'. Mirisnya banyak orang menganggap menikah adalah tujuan hidup, menganggapnya sebagai jawaban semua masalah hidup yang dialami.

Menikah bukan perlombaan dan ajang cepat. Pernikahan bukan untuk sehari atau dua hari. Pernikahan adalah untuk selamanya, maka kurang tepat jika menjadikan pernikahan sebagai permainan. Lalu apa yang harus kamu lakukan untuk tenang menghadapi pertanyaan ‘kapan menikah’ yang kadang dibalut dengan perhatian, dan justru menjatuhkan?

Menikah adalah menunggu waktu yang tepat. Setiap orang memiliki masanya sendiri. Kamu tidak dapat menyamakan waktu yang kamu miliki harus sama dengan orang lain. Tidak perlu merasa tidak adil, karena memang setiap orang memiliki masanya masing-masing.

Percayalah bahwa yang Tuhan inginkan akan saling menemukan. Tunggu ia yang tepat buat kamu dengan memperbaiki diri. Pantaskan diri kamu untuk mendapatkan seseorang yang memang terbaik untuk kamu. Tidak perlu marah dengan pertanyaan ‘kapan menikah’. Anggap pertanyaan tersebut sebagai wujud dari doa. Aminkan dengan tulus. Membuka diri dan jangan menutup diri dari kesempatan yang ada.

Tuhan tahu waktu yang tepat untuk kamu. Maka, pantaskan dirimu untuk bertemu dengan dia di waktu yang tepat. Selamat menunggu, dan yakinlah semua akan indah pada waktunya. Selamat hari ini.

(vem/apl)