Kenapa Wanita Susah Move On? Karena Terlalu Setia atau Keras Kepala?

Fimela Editor diperbarui 16 Jul 2021, 18:18 WIB

Punya pengalaman tak menyenangkan atau tak terlupakan soal pertanyaan 'kapan'? Kata 'kapan' memang bisa jadi kata yang cukup bikin hidup nggak tenang. Seperti kisah sahabat Vemale yang disertakan dalam kompetisi Stop Tanya Kapan! Ungkapkan Perasaanmu Lewat Lomba Menulis Juli 2018 ini. Pada dasarnya kamu nggak pernah sendirian menghadapi kegalauan dan kecemasan karena pertanyaan 'kapan'.

***

25 Mei 2017 adalah hari yang begitu menyakitkan untukku, hari yang penuh dengan luka terdalam, hari yang penuh dengan kesedihan dan hari yang penuh dengan kerapuhan. Tepat di hari itu, seseorang yang aku sayang pergi untuk meninggalkanku, tidak mempedulikanku, berhenti menyayangiku dan berhenti memanggilku dengan kata “sayang”. Orang itu adalah kekasihku, seseorang yang sangat aku cintai, di mana saat bersama dengannya, aku selalu merasa menjadi gadis yang paling istimewa. Kenyamananku selalu tercipta saat kami menghabiskan waktu. Senyumnya menghadirkan kedamaian yang khas untukku, suaranya menggetarkan jiwaku dan detak jantungnya membuatku ingin selalu dekat. Namun sayang, semua itu sudah tidak ada lagi, pujiannya, kasih sayangnya, cintanya dan bahkan sosoknya memutuskan untuk berhenti menjadi pasangan hidupku. Dengan alasan yang bisa kusebut tidak jelas, ia berusaha untuk tetap pada pilihannya.Aku ikhlas jika memang ia harus pergi, aku rela jika ia memang bukan untukku, namun yang aku harapkan itu adalah sebuah kejelasan mengapa ia pergi meninggalkanku tanpa kepedulian lagi. Sosoknya yang selalu istimewa bagiku kini sudah semakin menjauh, menatapku saja ia tak pernah lagi, kekagumanku yang dulu ia hapuskan dengan keingkarannya, dan hal yang paling membuat hancur lagi adalah ketika kami berpapasan di keseharian kami dalam kampus yang sama, ia seolah menjadi sosok yang tidak pernah mengenaliku sama sekali. Tapi entah kenapa, disakiti dengan cara yang sepilu ini pun, aku masih saja “sangat mencintainya.”

Semua orang di sekitarku kecewa dengan diriku sendiri atas rasa yang masih kusimpan sampai saat ini hanya untuk mantan terakhirku itu. Kata-kata nasihat, saran serta berbagai masukan telah banyak kuterima. Namun rasa itu tidak mudah untuk kuhapuskan. Aku masih mencintainya dengan perasaan yang tak pernah berubah dari dulu meskipun luka yang begitu dalam telah kudapatkan. Harusnya aku benci dan harusnya aku kesal serta marah atau bahkan dendam. Tapi aku tidak bisa, tidak bisa marah atau merasakan hal buruk kepadanya. Aku bahkan teramat merindukan kehadirannya, aku ingin memeluknya, aku ingin bertanya kepadanya, karena apa ia meninggalkanku? Apa karena kekurangan diriku? Atau bahkan karena ada seseorang yang baru? Aku hanya perlu jawaban itu dan sangat mengharapkan kejujurannya, agar aku bisa memahami keadaan serta kondisi yang sebenarnya.

Setiap hari aku menjalani aktivitas, lontaran pertanyaan, “Kapan move on?" selalu menjadi makanan sehari-hariku. Aku tertunduk diam dengan kerapuhan. Aku hanya mampu menjawabnya hanya di dalam hati. “Bagaimana mungkin aku bisa move on jika alasan ia untuk meninggalkanku membuatku rela menunggunya kembali sampai detik ini." Aku tidak mengenali diriku sendiri, aku tidak mampu jatuh hati kepada orang lain lagi dan aku seperti tidak mampu untuk berhenti mengenangnya. Seharusnya mereka berhenti bertanya kapan aku move on, seharusnya mereka stop untuk menanyakan hal yang menyakitkan itu. Karena seseorang yang move on dengan mudah itu adalah seseorang yang tidak pernah merasakan ketulusan dalam mencintai. Dan seseorang yang sangat sulit untuk move on adalah seseorang yang begitu besar cintanya. Mungkin, jalan ini tidak akan menjadi teka-teki lagi jika aku menemukan jawaban yang begitu jelas dari mulutnya sendiri, jawaban yang selama ini aku cari agar dapat melupakannya dan mungkin dengan jawaban itulah aku akan segera move on. Sesuai dengan keseharusannya, aku dengan usahaku untuk berjuang menerima jawaban dari seseorang yang pernah kupanggil “cinta” itu.

(vem/nda)

What's On Fimela