Mantan Mahasiswi Terbaik Kok Malah Jadi Ibu Rumah Tangga?

Fimela diperbarui 27 Jul 2018, 14:30 WIB

Punya pengalaman tak menyenangkan atau tak terlupakan soal pertanyaan 'kapan'? Kata 'kapan' memang bisa jadi kata yang cukup bikin hidup nggak tenang. Seperti kisah sahabat Vemale yang disertakan dalam kompetisi Stop Tanya Kapan! Ungkapkan Perasaanmu Lewat Lomba Menulis Juli 2018 ini. Pada dasarnya kamu nggak pernah sendirian menghadapi kegalauan dan kecemasan karena pertanyaan 'kapan'.

***

“Kok nggak nyambung S2? Kapan S2 Vira? Kamu mahasiswi terpintar di jurusan bahasa Inggris di kampus, kenapa tidak lanjut S2? Atau kamu mau jadi ibu rumah tangga selamanya tanpa karier?” Ingin rasanya, aku menyumpal mulut orang yang mengatakan ini di hadapanku, namun aku tidak bisa melakukannya. Dia kakak kelasku. Dua tahun di atasku, dan baru menyelesaikan pendidikan S2-nya. Dan sekarang dia sudah menjadi dosen di kampus kami tercinta, berkat kepintarannya dan berkat gelar S2-nya itu.  

Aku berusaha tersenyum dan mengatakan, “Kak, untuk saat ini aku belum punya biaya untuk S2, namun aku ingin S2. Suatu saat, aku ingin S2.” Aku menahan perih yang bercokol di hatiku saat mengatakan ini. Siapa yang tidak menginginkan pendidikan yang lebih tinggi itu? Bukan aku. Aku sangat ingin melanjut kuliah lagi, karena aku suka belajar, sangat suka sekali. Apalagi  aku sangat menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan. Tapi keadaan berkata lain, semenjak ayah meninggal saat kelas 3 SMA, semua seperti malapetaka.

Ibu kehabisan uang, dan saat kuliah saja aku harus menghasilkan uang untuk menyambung perkuliahanku. Aku berusaha keras untuk itu dan Maha Besar Allah, aku lulus S1 dengan IPK tertinggi di jurusan bahasa Inggris. Betapa bahagia kala itu, aku dapat mempersembahkan prestasi terbaik untuk ibuku. Beliau dipanggil namanya dan berfoto dengan dosen dan rektor terhormat dengan para mahasiswa-mahasiswi terbaik di setiap jurusan. Aku juga mendapatkan piagam, sertifikat, dan sedikit dana tabungan sebagai penghargaan atas lulusan terbaik.



Setelah tamat, aku bekerja keras dengan menjadi guru privat, tentor di salah satu bimbingan belajar, dan juga guru honor di sebuah SMK swasta di kotaku. Aku benar-benar bersusah payah untuk menghasilkan sedikit uang untuk membantu ibu dan menyekolahkan tiga adikku. Hingga aku tidak mempedulikan, satu per satu teman telah menyambung S2 dan aku tertinggal, jauh di belakang.

Aku sibuk dengan pekerjaanku dengan gaji yang harus digunakan untuk membiayai adikku yang masih kuliah dan yang terkecil masih duduk di bangku SMK. Dalam hati, aku ingin mengumpul uang untuk membiayai S2-ku di luar kota tetapi mengapa untuk mengumpulkan uang Rp8 juta itu susah sekali? Hanya bisa terkumpul Rp200-500 ribu satu bulan dan itupun, jika ada biaya mendadak untuk keperluan sehari-hari atau uang sekolah, maka tabungan itupun pada akhirnya dikeluarkan juga. Mengapa begitu sulit?

Saat itu, aku berpikir mengapa hidupku terlalu sulit, aku berprestasi, namun bukan siapa-siapa saat tamat kuliah. Mengapa aku tidak terlahir dari keluarga kaya dan berkecukupan sehingga melanjutkan S2 itu mudah, bagaikan menjentikkan jari saja? Namun pada akhirnya, aku menyesali perkataanku itu. Bagaimanapun, aku harus berjuang.



Hingga pada akhirnya kuliah dua adikku selesai, tinggal adik yang terkecil saat ini duduk di bangku SMK kelas 3, dan dia hampir tamat. Kemudian, aku menikah. Ya, dia adalah lelaki yang kukenal semenjak kami kecil. Bisa dikatakan, dia adalah teman masa kecilku dan karena tinggal di kota yang sama, sekolah yang sama, pada akhirnya kami menjalin hubungan saat aku masih baru tamat SMA. Dia yang mendampingiku untuk menyelesaikan masa-masa sulit dalam hidupku. Bahkan, dia juga membantu saat aku kehabisan uang untuk dana kuliahku. Begitu miris, namun aku memang mencintainya dan pada akhirnya kami menikah.

Saat aku menikah, banyak dosen yang kukenal berkomentar mengapa aku terlalu cepat menikah. Dengan orang yang hanya tamatan SMA? Kenapa tidak S2 dahulu, baru bisa jadi dosen dan menikah? Betapa risihnya hatiku mendengar berbagai pertanyaan-pertanyaan itu. Bagi mereka, yang adalah orang akademik, S2 itu sangat penting dan sangat diagung-agungkan. Mengapa memangnya kalau aku belum bisa saat ini S2? Aku bertekad setelah aku memiliki anak dan anakku itu sudah sekolah SD, aku berjanji akan S2. Saat aku mengatakan hal itu, banyak juga orang-orang mencibir dan mengatai, itu hanya angan belaka.

“Vira, kalau sudah punya anak, kamu akan disibukkan dengan anakmu. Dan kamu tidak akan pernah kembali lagi ke dunia pendidikan dengan prestasimu yang cemerlang. Justru saat belum punya anak inilah, kamu seharusnya mendaftarkan dirimu S2 dan raih Vira yang dulu, Vira yang terhormat, disegani karena prestasinya yang gemilang.” Aku terdiam seribu bahasa mendengar komentar itu.



Hingga aku begitu ambisius menghasilkan uang kembali saat menikah, syukurnya suami mendukungku, aku terus mengajar hingga aku hamilpun aku masih terus mengajar mulai pukul 08.00 hingga 21.00. Syukurnya, Allah memberiku fisik yang kuat hingga aku hanya merasakan mual dan sedikit pusing saja di awal masa kehamilan. Namun aku tetap mengajar, hingga kehamilanku mencapai 9 bulan semuanya baik-baik saja. Tidak ada masalah dengan kerja keras dan kehamilanku. Hingga kandunganku mencapai 10 bulan, timbul rasa panik dalam diriku, dokter sudah menyuruh agar segera dirangsang, namun jika tidak menggigit juga, maka akan segera dioperasi.

Aku tidak peduli dengan nasihat dokter, aku masih terus mengajar dan berharap bayiku akan lahir dalam keadaan sehat. Aku harus mengumpulkan banyak uang untuk S2-ku, dan pada akhirnya saat melahirkan itu tiba. Tepatnya 10 April 2018, aku melahirkan bayi perempuan dan dia, dia meninggal dunia. Dia keluar dari rahimku namun tidak mengeluarkan suara. Aku begitu terpukul saat itu

“Mana bayiku? Mana? Aku ingin memeluknya.” Tapi bidan hanya meneruskan pekerjaannya membedong bayiku, hanya sebentar aku bersamanya. Bidan itu langsung mendekatkan bayiku di sampingku. Aku tersenyum tapi menangis. Aku senang dia lahir dan aku sedih mengapa dia harus pergi begitu cepat. Bahkan, aku tidak sempat mendengar suaranya.



Banyak orang berasumsi karena aku terlalu lelah beraktivitas saat hamil hingga bayinya terlalu lama dalam kandungan hingga menelan banyak air ketuban. Aku tidak tahu. Saat itu, aku benar-benar tidak tahu siapa yang harus disalahkan dan memang seyogyanya, tidak ada yang harus disalahkan, namun tetap saja aku merasa bersalah. Mengapa aku tidak mau dirangsang kala itu. Mengapa aku masih terus menunggu untuk reaksi dorongan bayiku agar keluar dari rahimku? Mengapa aku begitu bodoh?

Sejak saat itu, aku menyadari kekeliruanku. Aku tidak seharusnya terlalu lelah. Terlalu ambisius mengejar karierku. Apalah S2? Semuanya akan baik-baik saja, meskipun aku tidak S2, bukan? Kini, aku menyadari aku lebih memilih anakku daripada S2. Namun dia telah pergi. “Maafkan Mama, namun Mama berjanji akan menjaga adikmu jika diberikan kesempatan oleh yang Kuasa lagi.” Dari sini, mama merindukanmu yang ada di surga.

“Kapan melanjut S2, Vi? Nggak lanjut lagi?” kali ini temanku  bertanya saat jogging di pagi hari, dua bulan pasca aku melahirkan. “Aku ingin S2, namun setelah anakku besar,” jawabku mantap, tanpa ada rasa sakit hati lagi.

(vem/nda)
What's On Fimela