Terima Kasih Saudara Sedarahku, Sudah Menguatkanku di Kala Duka

Fimela diperbarui 12 Agu 2018, 09:30 WIB

Apakah ada sosok pahlawan yang begitu berarti dalam hidupmu? Atau mungkin kamu adalah pahlawan itu sendiri? Sosok pahlawan sering digambarkan sebagai seseorang yang rela berkorban. Mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri. Seperti kisah sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Kisah Pahlawan dalam Hidupmu ini. Seorang pahlawan bisa berasal dari siapa saja yang membuat pengorbanan besar dalam hidupnya.

***

Halo, namaku Levina, saat ini aku bekerja di salah satu perusahaan asing di Jakarta. Aku adalah seorang perantau dari Sumatera yang pernah mengalami kisah pahit sebelum mendapatkan apa yang aku punya saat ini, aku memiliki satu saudara perempuan dan satu saudara laki-laki.

Baik, aku akan memulai ceritaku, jadi tepat pada tanggal 15 Oktober 2015, aku lulus dari kuliah jurusan Teknik Sipil di salah satu perguruan tinggi swasta di Jawa Barat, saat itu keadaan ekonomi orangtuaku sangat buruk, sehingga beberapa bulan sebelum lulus, orangtuaku memutuskan uang bulananku. Sedih, karena aku tak seperti anak lain yang seumuran denganku yang masih dibiayai orangtuanya.



Pada akhirnya, aku memutuskan untuk mencari pekerjaan agar bisa membiayai ongkos orangtuaku untuk datang ke wisudaku. Waktu itu aku sudah tidak punya uang sepeser pun, namun saudara perempuanku kebetulan waktu itu kerja di Jakarta dan tinggal bersama  pamanku (adik kandung mamaku) yang mana aku sadar bahwa dia tidak diperlakukan baik oleh pamanku itu. Kakakku itu Winda namanya.

Kak Winda ini adalah orang terbaik di dunia yang dikirimkan Tuhan untuk menemaniku, di kala dia diperlakukan layaknya pembantu, dia tak pernah bicara ke orangtuaku, dan pada akhirnya aku yang memutuskan untuk mencari pekerjaan di Jakarta agar aku bisa menolong kakakku yang diperlakukan seperti itu. Well, datanglah aku di rumah pamanku, aku tinggal di sana agar aku dapat melihat dengan jelas perlakuan pamanku.



Honestly, memang benar, tengah malam kakakku masih mencuci baju anak-anaknya, di pagi hari kakakku disajikan makanan yang hampir basi yang sudah tidak layak untuk dimakan. Hatiku terenyuh, sakit. Namun kakakku tidak pernah mengeluhkan hal itu, dia selalu berkata, “Syukuri aja, kan kita numpang." Di kala itu gaji kakakku hanya sekitar UMR Jakarta, namun beliau sangatlah hemat.

Ketika aku mendapatkan interview dari beberapa perusahaan yang mengharuskan aku untuk mengeluarkan uang untuk ongkos ke sana, kakakku selalu memberiku uang yang bisa kami bagi berdua. Lagi-lagi hatiku merasa terenyuh, dari situ aku bertekad aku harus mendapatkan pekerjaan yang gajinya lebih dari kakakku agar aku bisa membantunya keluar dari rumah itu, agar kami bisa ngekost.

Selama dua minggu aku tinggal di rumah pamanku, akhirnya aku mendapatkan pekerjaan yang gajinya sesuai dengan harapanku. Dikarenakan gaji dibayar setelah satu bulan bekerja, aku dan kakakku memutuskan untuk bertahan tinggal di sana karena kami tidak memiliki cukup uang untuk ngekost berdua di Jakarta karena gaji kakakku hanya sebatas UMR saja dan harus kami bagi dua.



Setelah aku mendapatkan pekerjaan, tingkah pamanku semakin menjadi-jadi, waktu itu air di rumah mati, dan mengharuskan kami untuk tidak mencuci piring sebelum bekerja. Setelah aku pulang bekerja, mamaku menelpon kakakku dan memarahinya karena pamanku mengadu kami pemalas dan tidak mencuci piring. Waktu itu pula, kami disediakan nasi yang sudah hampir berbuih agar kami makan. Namun kami memutuskan untuk pura-pura ke warung untuk membeli sesuatu, kami makanlah di pinggir jalan dengan modal uang receh.

Di situ kakakku terlihat tersenyum bahagia karena bisa memakan makanan yang enak, sambil melihat wajahnya aku berkata, “Maafin aku ya Kak udah ngerepotin." Namun dalam hatiku berkata, aku pasti mengeluarkan kamu dari penderitaan yang selama ini kamu rasakan. Kakakku berkata, “Ingat suatu hari, kita pernah mengalami ini bersama, lumayan untuk cerita ke anak cucu nanti."

Setiap hari itulah yang kami alami, ketika itu uang kakakku sudah mulai menipis, dan aku belum juga mendapat gaji karena belum satu bulan (yang hanya tinggal beberapa hari lagi menuju 1 bulan). Akhirnya kami pun memutuskan untuk bekerja berjalan kaki dari jl. Bangka ke Kuningan (tempat kerjaku) sungguh melelahkan tapi ya mau bagaimana lagi, memang harus kami jalani.

Kami berjalan sambil bercanda gurau sepanjang jalan. Kami menikmati kehidupan kami meskipun sangat tidak disangka kami mengalami ini berdua. Well, kalian pasti bertanya kemana orangtua kami, ya itu tadi karena keadaan ekonomi orangtua kami yang sangat buruk, kami tak ingin mengadu ke mereka masalah kami, kami hanya ingin mereka tahu, kami bahagia.

Oh iya, ada satu orang lagi yang membantu kami di saat perjuangan kami berlangsung. Namanya Iswanto, pacar kakakku yang sekarang sudah menjadi suami kakakku. Dulu beliau bekerja di salah satu perusahaan pertambangan yang mengharuskan beliau tugas di laut untuk beberapa minggu. Beliau sering membantu kami ketika pulang dari laut, kami selalu menunggu beliau. Yang beliau tanyakan selalu, “Kalian sudah makan kah? Yok makan di luar sekarang aku tungguin. Kami selalu makan enak kalau ada beliau. Tapi kami hanya dapat satu minggu sekali itu pun kalau dia pulang dari tugasnya.



Satu bulan pun berlalu, akhirnya aku mendapatkan gaji pertamaku, aku mencari-cari tempat kos yang dekat dengan kantor kakakku. Dan beberapa hari kemudian, aku mendapatkannya. Aku mencoba berbicara dengan kakakku, “Kak, ayo kita keluar dari rumah ini (rumah pamanku)."

Kakakku takut kalau aku tak punya cukup uang untuk kami berdua tinggal. Namun gajiku sudah cukup untuk kami hidup berdua di kota orang. Well, kami memutuskan untuk meninggalkan rumah itu, tapi pamanku bertingkah seolah-olah dia yang jadi korban, dia memfitnah kami di keluarga besar kami. Padahal kami tak pernah sedikit pun membongkar perlakuannya, padahal kami adalah keponakannya yaitu anak dari kakak kandungnya sendiri.

Aku pun tidak pernah menyangka, ternyata kehidupan yang sempat kami alami bukan hanya ada di drama-drama saja, namun ada di kehidupan nyata. Tapi kami tak pernah menghiraukan semuanya. Bagi kami, cukuplah hidup dengan tenang, tanpa harus membalas semua perbuatannya kepada kami.

Singkat cerita, selama ini aku merasa bahwa kakakku dan suaminya ini adalah pahlawanku. Memang benar Tuhan tidak pernah keliru menjodohkan orang, orang baik dipertemukan dengan orang baik pula sama seperti mereka. Mereka berdua ada di saat perjuanganku. Di saat aku meraih mimpi mereka hadir dengan segala hal membantuku, baik dukungan material maupun jiwa. Meskipun aku tak bisa menyampaikan kepada mereka secara langsung rasa terima kasihku. Namun, dalam doa aku selalu menyebut nama mereka. Terima kasih Tuhanku Allah. Terima kasih saudara sedarahku!

Dengan penuh cinta
- Levina Astriana





(vem/nda)