Garis Kerutan di Wajah Ibu Bukti Perjuangan Beratnya Menghidupku

Fimela diperbarui 13 Agu 2018, 14:30 WIB

Apakah ada sosok pahlawan yang begitu berarti dalam hidupmu? Atau mungkin kamu adalah pahlawan itu sendiri? Sosok pahlawan sering digambarkan sebagai seseorang yang rela berkorban. Mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri. Seperti kisah sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Kisah Pahlawan dalam Hidupmu ini. Seorang pahlawan bisa berasal dari siapa saja yang membuat pengorbanan besar dalam hidupnya.

***

Menyesal adalah kata yang tepat untukku.

Aku sedang berada tepat di depan ruang ICU rumah sakit negeri sembari duduk meringkuk. Ibuku dirawat sudah tiga hari di kamar inap, tanpa kutemani sama sekali. Lalu tiba-tiba sebuah telepon masuk, jantung ibuku berhenti. Sontak aku meninggalkan semua duniaku. Untungnya jantung beliau berdetak kembali. Ibu kritis, katanya harus masuk ruang ICU. Kulihat tubuhnya kaku, mukanya pucat pasi.



Di situ aku membuat janji, "Aku tidak akan meninggalkan Mamak sendirian lagi."

Beliau selalu bilang, "Nggak apa-apa. Kamu kerja aja sana."
Jantungnya lemah dan beliau divonis gagal ginjal. Kami hanya tinggal berdua. Keluarga besar tinggal sangat jauh dari rumah kami. Beliau menghidupiku sendirian.

Saat sekolah adalah saat yg paling menyedihkan. Waktu itu beliau berangkat kerja pukul 04.00 subuh pulang pukul 21.00. Tetapi sebelum berangkat beliau masih sempat memasak untukku. Sepulang kerja, beliau masih sempat mengajakku makan di luar sampai menghiburku juga menemaniku bercanda.

Uang hasil keringatnya yang tak seberapa itu bisa untuk sekolahku, makan dan juga biaya sewa rumah. Bahkan baju-bajuku tidak pakai lemari. Baju-bajuku ditaruh di kardus bekas. Rumahku sempat kena banjir besar dan barang-barangku rusak. Beliau bilang, "Nggak apa-apa, yang penting kamu sekolah dulu sampai lulus." Ibuku sangat tegar. Tegar sekali, beliau tidak pernah mengeluh.

Sampai keajaiban itu datang, aku lulus sekolah dan diterima kerja tepat sebelum aku menerima ijazahku. Sampai detik itu ibuku belum jua berhenti dari pekerjaannya yg sangat berat itu. Padahal aku kerja untuk beliau, untuk Mamak.



Aku tidak tega, aku ingin melihatnya menikmati hidup. Tetapi beliau bilang, "Mamak mau kerja bantu kamu, nanti uang kamu untuk bangun rumah aja." Iya, kami belum punya rumah dan memang beliau ingin sekali punya rumah.

Beberapa tahun kemudian, saat aku sudah punya cukup uang untuk bangun rumah. Tinggal menunggu waktu, ibuku mengeluh sakit. Saat itu beliau masih kerja. Kemudian duniaku runtuh saat aku tahu hasil diagnosanya. Fungsi ginjalnya tinggal 3% lagi dan harus segera cuci darah. Saat itu aku bingung harus apa. Tetapi beliau dengan lantang bilang, "Kamu kerja aja. Nggak apa-apa. Mamak nanti cuci darah sendiri, Mamak nanti ke rumah sakit sendiri bisa. Kamu tenang aja."



Akhirnya di sinilah aku, di depan ibuku yang masih hilang kesadarannya dengan banyak kabel tak beraturan memenuhi tubuhnya juga alat bantu napas yang setia di sampingnya. Aku menyesali semuanya. Beliau masih belum sadar, wajahnya teduh, garis kerutannya seakan bukti bisu perjuangannya untuk menghidupiku.

"Mamak, Mamak nggak apa-apa yah. Mamak nggak apa-apa kan? Bangun ya Mak. Rumah kita lagi dibangun. Nanti kalau rumah kita udah jadi, Mamak tinggal di situ ya. Kita tempati rumahnya yang lama yah. Mamak juga temani aku nikah dulu, aku maunya bahagia sama Mamak. Ada Mamak terus. Sekarang giliran aku yang berjuang, ya Mak. Aku temani Mamak terus, nggak akan tinggalin Mamak sendirian lagi. Sayang banget sama Mamak.”




(vem/nda)