Memiliki Ibu yang Pekerja Keras, Aku Ditempa Jadi Wanita yang Lebih Tegar

Fimela Editor diperbarui 04 Agu 2021, 22:27 WIB

Apakah ada sosok pahlawan yang begitu berarti dalam hidupmu? Atau mungkin kamu adalah pahlawan itu sendiri? Sosok pahlawan sering digambarkan sebagai seseorang yang rela berkorban. Mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri. Seperti kisah sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Kisah Pahlawan dalam Hidupmu ini. Seorang pahlawan bisa berasal dari siapa saja yang membuat pengorbanan besar dalam hidupnya.

***

RA Kartini suatu kali berkata, “Karena kami yakin pengaruh pendidikan besar bagi para wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya menjadi ibu pendidikan manusia yang pertama–tama."  Ungkapan ini mengingatkan saya kepada ibu yang telah melahirkan saya 32 tahun yang lalu. Ibu sangat memegang teguh prinsip bahwa anak–anaknya harus mendapatkan pendidikan yang layak sekalipun ia harus banting tulang. Ibu pernah berkata kalau ia begitu rindu sekolah ketika ia masih kecil, tapi karena kondisi ekonomi dan keluarga yang sangat tidak memungkinkan ia dipaksa untuk berhenti sekolah. Sejak itu ia berjanji dalam dirinya, kelak anak–anaknya harus sekolah walau apapun kondisinya.

Ibu bercerita bahwa demi merawat kedua adik kembarnya yang masih bayi, ia terpaksa mengorbankan cita–citanya untuk menjadi guru. Ia berhenti sekolah padahal kepala sekolahnya berusaha untuk menolong karena ibu adalah siswa paling pintar di sekolah itu. Kala itu ibu masih duduk kelas 5 sekolah dasar. Ibu tidak punya pilihan selain mengikuti pilihan orangtua. Ia kemudian berhenti sekolah, namun sambil merawat adik–adiknya, ia tetap belajar di rumah. Ia berhenti belajar ketika ia menikah di usia remaja dan melahirkan 8 anak perempuan. Ia membanting tulang sejak muda dan merawat kami, anak–anaknya dengan sangat baik. Tentulah ia sangat kerepotan dengan semua rutinitasnya merawat kami. Meskipun begitu, saya tidak pernah mendengarkannya mengeluh akan hidupnya yang berat. Bersama dengan ayah, ia mengantarkan semua anaknya mendapatkan pendidikan tinggi dan hidup mandiri.

Saya tumbuh melihat ibu saya bekerja keras, ketika orang lain masih menikmati tidurnya, ia sudah bangun pukul 4 pagi untuk mempersiapkan makanan yang akan dijual di kantin. Setelah selesai berjualan, ia kemudian membantu ayah bekerja di sawah sampai matahari terbenam. Ketika matahari terbenam, ia mengajari kami untuk memasak. Teringat jelas dalam benak saya, ketika ia membawa meja dan makanan lain untuk berjualan di tepi lapangan karena ada pertandingan sepak bola setiap minggu. Saya membantu membawa kursi dan beberapa barang untuk dijual. Ibu mengorbankan waktu istirahatnya, dan terus menerus bekerja demi menyekolahkan anak–anaknya. Kisah lainnya adalah ketika saya menemani ibu berjualan es lilin di tempat ramai. Saya mendengar sendiri bagaimana teman–temannya mengejek ibu yang terus menerus mencari uang sampai wajahnya memerah karena menahan rasa kesal dan sedih. Ketika beranjak remaja, saya sungguh malu menemani ibu berjualan es lilin, akan tetapi ibu mengingatkan untuk tidak pernah malu karena tidak sedang melakukan kejahatan.Saya juga pernah menemani Ibu berjualan sayur kangkung di pasar dan kami tersenyum bahagia ketika sayurnya cepat habis. Melihat ibu yang sedemikian bekerja keras dan mengorbankan banyak waktu istirahatnya, saya tumbuh menjadi wanita yang bekerja keras dan mandiri, namun tetap hidup sederhana.

Saya teringat waktu saya ingin sekali membeli sepeda, dan saya harus menabung dalam celengan ayam untuk membelinya. Setelah setahun menabung, kami membongkar celengan itu dan uangnya tentulah tidak cukup. Tiba–tiba keesokan harinya, sepedanya sudah dibeli, dan bisa bayangkan betapa bahagianya saya memiliki sepeda itu. Ibu mengatakan ia dan ayah menambahi sedikit supaya saya cepat belajar sepeda. Ibu hanya menemani belajar naik sepeda karena ia pun tidak bisa naik sepeda. Ini membuat saya tumbuh menjadi wanita yang tidak cepat menyerah, dan tekun melakukan sesuatu, namun tetap ingin menunjukkan kepedulian kepada orang lain. Ini berpengaruh besar pada pendidikan saya. Tumbuh menjadi anak yang tekun dan bekerja keras membuat saya mendapatkan nilai yang baik di sekolah. Saya harus meninggalkan kampung halaman dan belajar di salah satu sekolah di sebuah kota kecil. Ibu mengizinkan saya belajar di kota karena kualitas sekolah menengah atas waktu itu di kampung tidaklah begitu bagus.

Liburan adalah waktu yang ditunggu–tunggu untuk dapat pulang ke kampung halaman dan membantu ibu. Tetapi, ia tetap meminta saya untuk fokus belajar walaupun sedang liburan. Ibu meminta saya rajin membaca dan mendapatkan nilai yang baik. Saya menamatkan sekolah dan kuliah saya dengan nilai yang sangat baik. Saya ingat ibu berkata, "Kita hidup susah, dan biaya pendidikanmu tidak murah, karena itu belajar untuk hidup sederhana dan fokus pada cita–citamu, dan harus tetap murah hati kepada orang lain." Ini membuat saya berjuang keras untuk menyelesaikan pendidikan dengan sangat baik. Ketika saya bekerja dan memiliki penghasilan yang cukup baik, ibu meminta saya untuk menabung dan memikirkan hidup saya. Dia tidak pernah meminta sepeserpun dari saya. Saya menabung selama 3 tahun dan melanjutkan pendidikan saya. Kini saya menjadi seorang guru, dan saya sering menceritakan ini kepada anak didik agar mereka tumbuh menjadi orang yang bekerja keras, tekun, dan tidak cepat menyerah. Ibu adalah pahlawan dalam hidup saya. Tidak cukup satu buku tebal untuk menuliskan semua pengorbanan ibu, namun nilai–nilai yang diajarkannya melalui hidupnya sendiri mengajarkan banyak hal kepada saya dan kelak saya rindu anak–anak saya akan melihat itu dari diri saya. Ibu adalah pahlawan sejati dalam hidup saya.

What's On Fimela