Berjuang Sembuh dari Lorong Gelap Depresi dan Pra Bipolar

Fimela diperbarui 18 Agu 2018, 13:45 WIB

Apakah ada sosok pahlawan yang begitu berarti dalam hidupmu? Atau mungkin kamu adalah pahlawan itu sendiri? Sosok pahlawan sering digambarkan sebagai seseorang yang rela berkorban. Mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri. Seperti kisah sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Kisah Pahlawan dalam Hidupmu ini. Seorang pahlawan bisa berasal dari siapa saja yang membuat pengorbanan besar dalam hidupnya.

***

Bila ada yang melihat betapa ceria dan penuh senyumnya diriku sekarang, mungkin mereka tak akan percaya jika aku dulunya seorang siswa perempuan, gadis kecil pemalu yang pernah melewati masa-masa kelam dipelonco, di-bully di sekolah dan lingkungan. Serta harus duduk di depan seorang psikiater atau apalah namanya, yang kutahu seorang perempuan baik, setengah baya, seorang yang di depannya aku bisa bercerita sepuasnya. Bila ditanya kini, siapa yang mengembalikan senyumku, ada seorang kakak di baliknya, bak saudara kandung sedarah, ia mengembalikan diriku ke dunia nyata, Hana namanya.

Pertemuan kami berawal ketika aku masuk di sebuah SMA Negeri di Jakarta. Pertama kali aku menjejakkan kaki lagi di Jakarta setelah 6 tahun “merantau” sendiri tinggal di rumah nenek di sebuah kabupaten di Sumatera Utara. Sementara Mama dan Papa serta ketiga adikku tetap tinggal di Jakarta. Kepindahanku diinisiasi karena betapa sulitnya hidup kami, beban Papa menghidupi empat anak yang semuanya butuh biaya hidup dan sekolah sementara Papa hanya PNS biasa membuat salah satu adiknya Papa mengusulkan agar aku tinggal bersama Nenek.

Selain kehidupanku dijamin, aku juga diharapkan bisa menjadi “hiburan” nenek dan kakekku di masa tua mereka. Namun, rencana baik itu ternyata tak semulus kenyataan. Pribadiku sebagai anak kecil Jakarta, harus menyesuaikan diri dengan segala aturan ala kolonial di rumah Nenek. Tak salah, namun untuk zaman dan anak zaman now, jiwaku sedikit terguncang.

Tak hanya aturan waktu bermain, tata krama bicara, etika menggunakan waktu, waktu bermainku pun tergerus. Aku harus mandiri mengerjakan pekerjaan di rumah. Walaupun kini setelah besar, didikan keras nenek membuatku bisa menempatkan diri dimanapun dengan kondisi macam apapun kerasnya.

Selain itu, aku sering melihat tatap kasihan dan mendengar gosip ibu-ibu di kampung yang merasa kasihan melihat diriku. Mereka menganggap bahwa aku sengaja diungsikan, aku anak yang terpisah, dan berbagai omongan yang membuat aku kadang berpikir, apakah omongan mereka tentangku, tentang mama papaku benar adanya?

 

Kak Hana, orang yang pertama kali melihatku dengan tatapan lembut. Entah kenapa. [ertemuan pertama kami biasa saja. Sebagai salah satu pembina kelas agama, kami berjumpa sesuai sesi agama saja. Perawakan Kak Hana biasa saja, terbilang jadul dan sederhana malah. Rambut sepinggangnya yang dipenuhi uban dibiarkan tergerai, ia memakai kacamata tebal, dan sering pakai baju-baju jadul, berkulit sawo matang, dan sering tersenyum.

Kepulanganku kembali ke Jakarta, nyatanya membuat luka hatiku semasa kanak-kabak di kampung bertambah. Adik-adikku menatapku dengan agak sinis, penyesuain mungkin, pikirku. Mamaku kali ini mencoba peruntungan dengan berjualan nasi uduk dan kue.

Kami harus gotong royong bangun subuh untuk membantu, menggelar dagangan di depan rumah, menyiapkan semua perlengkapan jualan, sampai akupun ikut menjajakan di sekolah. Kadang, aku malu. Bukan malu karena aku miskin, tapi karena teman-temanku sering menertawakan gemuknya badanku, pakaianku yang berkibar-kibar kebesaran atau mengulang-ulang cara berbicaraku yang masih kental logat Medan.

 

Sungguh, akupun mau seperti mereka berpakaian sepantasnya, tidak kedodoran atau kebesaran, badan yang proporsional tapi mama hanya mampu beli seragam setahun sekali maka agar tak kekecilan, aku harus pakai yang agak lebih besar dari tubuhku.  Aku pun tak mau logatku seperti itu. Kadang, aku menangis di samping gudang sekolah. Entah meratapi apa. Kadang bertanya, apakah aku seburuk itu.

Pernah tak sengaja Kak Hana melihatku dan mengajakku ke Ruang Bimibingan. Ruangan yang sangat kami takuti. Di sana, aku memuaskan diri untuk menangis. Dalam tangisanku, muncul perkataan-perkataan yang sungguh menyakitkan hatiku. Seperti kaset rekaman yang diulang-ulang. Lalu aku terdiam. Aku bisa senyum seperti tak terjadi apa-apa.

Kak Hana mendampingiku untuk bertemu dengan guru Bimbingan Konseling namun aku takut dan malu. Bukankah hanya anak-anak “bermasalah” saja yang harus menghadap guru BK? Sedangkan aku, aku normal. Aku baik-baik saja.

Aku sendirian, menangis memang karena aku sedih walau kadang air mataku cepat kering dan suara-suara ejekan itu hilang. Duniaku kembali seperti biasa apa adanya. Aku belajar seperti biasa, pulang ke rumah, membantu mama, dan dunia terasa baik-baik saja. Namun, ternyata tanpa kusadari ada yang salah dalam diriku dan Kak Hana menyadarinya.

Berbekal izin dari Guru BK dan Kepala Sekolah (bertahun-tahun kemudian Kak Hana menceritakan ini kepadaku), ia membawaku ke sebuah Klinik Psikologi di Jakarta setiap Jumat sore. Berbekal izin juga dari mama dengan alasan mengikuti sebuah aktivitas ekstrakurikuler di sekolah, aku mengikuti saran Kak Hana.

Ketika itu aku tak menaruh curiga atau pikiran apapun. Aku bertemu dengan seorang perempuan yang baik hati, aku mengisi beberapa lembar yang perlu diisi semacam pilihan-pilihan pertanyaan seperti ujian, gambar-gambar, dan mendengarkan cerita. Aku bebas bercerita atau mengatakan apapun yang kurasa dan yang kupikirkan.

Kadang aku tertawa, kadang aku menangis. Pertemuan dengan Kakak, teman Kak Hana berlangsung kurang lebih dua tahun. Awalnya agak intens dua kali dalam sebualan dan menjadi satu kali dalam sebulan. Tak pernah ada yang aneh yang kualami selama pertemuan itu hingga pertemuan itu selesai ketika aku duduk di kelas XII.

Setelah dari Kakak pembimbingku, Kak Hana tetap memberikan perhatian kepadaku. Rasa syukurku semakin timbul, pikiranku untuk tak mengindahkan setiap komentar teman semakin kuat, nilai-nilaiku semakin baik, dibandingkan ketika aku kelas X dan XI dulu. Walau tubuhku ketika itu masih gemuk, aku sudah mulai memiliki banyak teman, bahkan sahabat. Tangisku sudah jarang meluncur, terganti dengan tawa yang sangat jarang terjadi, hubunganku dengan adik-adikku jauh lebih baik.

 

Jalinan komunikasiku dengan Kak Hana tetap baik setelah aku lulus dan kuliah. Kadang, aku berpikir, mengapa Kak Hana sebaik itu kepadaku. Di tengah kuliah, aku beranjangsana melepas rindu kepada Kak Hana di sekolah.

Sambil bercerita, Kak Hana membuka tabir hidupku dulu, ketika dibina. Setelah bertahun-tahun menjalani semua, aku baru tahu, ternyata aku divonis mengalami depresi. Bukan hanya gejala namun sudah dalam tahap pra bipolar. Sungguh terkejut. Kak Hana yang bukan saudara, atau punya hubungan darah dengaku malah sangat-sangat peduli denganku.

Terlintas di mataku, bagaimana Kak Hana sangat baiknya membawaku ke Kakak yang ternyata kutahu adalah seorang psikiater kenalan Kak Hana. Semua biaya yang telah dikeluarkannya demi merangkul aku, biaya perjalanan dan makan yang ditanggungnya, jam-jam doa yang digagasnya setiap kali kami selesai konsultasi, jam pulang Kak Hana yang sampai sore hanya karena mengurusiku, adalah pengorbanan yang luar biasa bagi hidupku.

Terkadang, hingga kini, setelah kami lima tahun berpisah karena Kak Hana pindah ke Papua bersama suaminya, membuatku menangis. Betapa besarnya pengorbanan Kak Hana, yang hanya pendamping kelas agama di sekolah, di mana aku hanya salah satu muridnya yang biasa-biasa saja, dia yang kutahu hanya berstatus honorer yang tak seberapa gajinya namun mampu menyelamatkan hidupku dari vonis depresi dan renggutan depresi yang membuatku hampir kehilangan akal.

Sungguh syukurku kepada Tuhan karena menghadirkan sosok Kak Hana dalam hidupku yang bisa mengembalikan senyumku, mengembalikan imajinasi indahku, semangat hidupku, percaya diriku untuk tangguh, untuk tetap terus berdoa dan bersyukur dalam segala sesuatu, menyelamatkanku dari vonis depresi. Ingin aku memeluk Kak Hana dan berjanji akan menolong, berkorban bagi orang lain tanpa pamrih. Terima kasih, Kak, tanpamu, aku bukan sosok yang seperti ini sampai saat ini.

 (vem/nda)
What's On Fimela